Jidat Hitam… biasa aja …

Fenomena jidat hitam akhir-akhir menjadi isu yang sering dijadikan bahan untuk bisik-bisik maupun diskusi di warung kopi. ada sebagian saudara yang menjadikan jidat hitam sebagai signal ketaatan dalam beragama, dan tak sedikit pula yang mengatakan jidat hitam adalam sikap yang berlebihan dan tidak ada korelasinya dengan ketaatan. bagaimana fiqh berbicara tentang hal itu?



sebagian saudara kita yang mengatakan jidat hitam sebagai tanda tingginya kualitas ibadah berangkat dari pemahaman atas firman Allah SWT :

مُحَمَّدٌ رَسُولُ اللَّهِ وَالَّذِينَ مَعَهُ أَشِدَّاءُ عَلَى الْكُفَّارِ رُحَمَاءُ بَيْنَهُمْ تَرَاهُمْ رُكَّعًا سُجَّدًا يَبْتَغُونَ فَضْلًا مِنَ اللَّهِ وَرِضْوَانًا سِيمَاهُمْ فِي وُجُوهِهِمْ مِنْ أَثَرِ السُّجُودِ

Muhammad itu adalah utusan Allah dan orang-orang yang bersama dengan dia adalah keras terhadap orang-orang kafir, tetapi berkasih sayang sesama mereka. Kamu lihat mereka ruku’ dan sujud mencari karunia Allah dan keridhaan-Nya, tanda-tanda mereka tampak pada muka mereka dari bekas sujud (Q.S. al-Fath : 29)



Istilah ‘bekas sujud’ bukan hanya populer di dalam Quran seperti pada ayat diatas, tetapi juga terdapat dalam kitab Taurat dan Injil. Ayat diatas sesungguhnya tidak ditemukan keterangan bahwa ‘bekas sujud’ tersebut adalah munculnya warna hitam di dahi, tetapi yang ada hanya perkataan “tanda-tanda mereka tampak pada wajah mereka dari bekas sujud” (سِيمَاهُمْ فِي وُجُوهِهِمْ مِنْ أَثَرِ السُّجُودِ). Wajah yang menjadi tempat bekas sujud tentu saja tidak khusus di dahi, tetapi bisa di dahi dan juga bisa pada bagian wajah lainnya, bahkan juga bisa pada keseluruhan wajah.

agar tidak tersesat dalam pemahaman yang salah terhadap nash syar’i, ada baiknya kita merujuk kepada sumber yang otoritatif dalam memahami makna ayat Al-Qur’an, yaitu kitab-kitab tafsir para ulama.

TAFSIR IBNU KATSIR

Ibnu Katsir didalam tafsirnya mengutip beberapa pendapat ulama lain menjelaskan ayat tentang ‘bekas sujud’.

قال علي بن أبي طلحة ، عن ابن عباس : ( سيماهم في وجوههم ) يعني : السمت الحسن .
Ali Bin Abi Tolhah berkata, dari Ibnu Abbas : Arti dari ayat (سيماهم في وجوههم) adalah tanda kebaikan
وقال مجاهد وغير واحد : يعني الخشوع والتواضع .
Mujahid dan selain beliau bukan cuma satu orang berkata, ” Artinya adalah ke khusyu’an dan ketawadhu’an”
وقال السدي : الصلاة تحسن وجوههم .
As-Sadi berkata : ” Sholat membuat bagus wajah mereka “
وقال بعض السلف : من كثرت صلاته بالليل حسن وجهه بالنهار
Sebagian ulama’ salaf berkata : ” Barang siapa yg memperbanyak sholat malamnya maka wajahnya akan bagus siang harinya.”
وقال الحسن : هو بياض يكون في الوجه يوم القيامة . وقاله سعيد بن جبير أيضا
Al-Hasan berkata, ” Itu adalah warna putih yg ada diwajah kelak dihari kiyamah.” Sa’id Bin Jubair juga berkata seperti itu ” .
وقال شهر بن حوشب : يكون موضع السجود من وجوههم كالقمر ليلة البدر
Syahr Bin Khausab berkata, ” Jadilah tempat sujud mereka yang diwajahnya bagaikan rembulan dimalam purnama “.
dari semua pendapat ulama sholih yang dikutip oleh Ibnu Katsir, tidak satu pun yang mengatakan ‘bekas sujud’ itu adalah tanda-tanda yang sifatnya fisikal, seperti warna hitam pada bagian tertentu dari wajah.
TAFSIR AL-QURTHUBI

وقال شهر بن حوشب : يكون موضع السجود من وجوههم كالقمر ليلة البدر . وقال ابن عباس ومجاهد : السيما في الدنيا وهو السمت الحسن . وعن مجاهد أيضا : هو الخشوع والتواضع . قال منصور : سألت مجاهدا عن قوله تعالى : سيماهم في وجوههم أهو أثر يكون بين عيني الرجل ؟ قال لا ، ربما يكون بين عيني الرجل مثل ركبة العنز وهو أقسى قلبا من الحجارة ولكنه نور في وجوههم من الخشوع . وقال ابن جريج : هو الوقار والبهاء . وقال شمر بن عطية : هو صفرة الوجه من قيام الليل . قال الحسن : إذا رأيتهم حسبتهم مرضى وما هم بمرضى . وقال الضحاك : أما إنه ليس بالندب في وجوههم ولكنه الصفرة . وقال سفيان الثوري : يصلون بالليل فإذا أصبحوا رئي ذلك في وجوههم ، بيانه قوله – صلى الله عليه وسلم – : من كثرت صلاته بالليل حسن وجهه بالنهار . وقد مضى القول فيه آنفا . وقال عطاء الخراساني : دخل في هذه الآية كل من حافظ على الصلوات الخمس .

Baca Juga :   Kisah Umar bin Abdul Aziz Kecil Yang Di Tendang Kuda Hingga Keningnya Terluka
Dalam Tafsir al-Qurthubi selain dari pendapat-pendapat di atas disebutkan juga  Malik menyatakan tanda mereka pada wajah mereka berupa bekas sujud, yaitu tanah yang bersangkut pada dahi mereka pada ketika sujud. Pendapat ini juga merupakan pendapat Sa’id bin Jubair. Ibnu Juraij mengatakan berwibawa dan bercahaya. Syimr bin Athiah mengatakan pucat wajah karena mendirikan malam. Hasan mengatakan apabila kamu melihat mereka, kamu sangka mereka sakit, padahal mereka tidak sakit. Ad-Dhahak mengatakan tidak ada bekas apapun pada wajah mereka, tetapi  pucat. bahkan Atho’ al-Kharasany mengatakan bahwa termasuk dalam ayat ini adalah semua orang yang menjaga sholat 5 waktu.

 

TAFSIR AS-SIRAJUL MUNIR

Syaikh al-Khatib asy-Syarbini mengatakan terkait dengan ayat diatas :

ﻭﻟﻴﺲ ﺍﻟﻤﺮﺍﺩ ﺑﻪ ﻣﺎ ﺑﺼﻨﻌﻪ ﺑﻌﺾ ﺍﻟﺠﻬﻠﺔ ﺍﻟﻤﺮﺍﺋﻴﻦ ﻣﻦ ﺍﻟﻌﻼﻣﺔ ﻓﻲ ﺍﻟﺠﺒﻬﺔ ﻓﺎﻧﻪ ﻣﻦ ﻓﻌﻞ ﺍﻟﺨﻮﺍﺭﺝ ﻭﻓﻲ ﺍﻟﺤﺪﻳﺚ ﺍﻧﻲ ﻻﺑﻐﺾ ﺍﻟﺮﺟﻞ ﻭﺍﻛﺮﻫﻪ ﺍﺫﺍ ﺭﺍﻳﺖ ﺑﻴﻦ ﻋﻴﻨﻴﻪ ﺍﺛﺮ ﺍﻟﺴﺠﻮﺩ
“Yang dimaksud tanda di wajah sebagai bekas sujud bukanlah seperti apa yang dilakukan orang orang yang kurang pengetahuan yang riya dengan apa yang terlihat di dahinya, karena yang demikian adalah sebagian daripada pekerjaan kaum Khowarij. Dalam hadits Nabi SAW disebutkan ” Sesungguhnya aku marah dan benci terhadap seorang yang Aku lihat diantara kedua matanya ada bekas sujud”

 

Baca Juga :   Utsman bin Affan, Sahabat Nabi yang Disegani Malaikat

Ala Kulli Hal, tidak ditemukan penafsiran ulama tafsir sebagaimana terlihat dalam kutipan di atas yang menafsirkan bahwa tanda sujud yang dimaksud dalam firman Allah Q.S. al-Fath : 29 di atas bermakna tanda hitam di dahi sebagaimana anggapan sebagian saudara-saudara kita. jika ‘jidat hitam’ itu muncul dengan sendirinya tanpa disengajar, tentu tak jadi soal. namun jika ‘jidat hitam’ yang muncul itu tidak alamiyah atau disengaja bisa jadi yang seperti itulah orang yang dicela oleh Allah. dan yang lebih parah lagi adalah jika ‘jidat hitam’ itu dijadikan sebagai tanda ketaatan seseorang atau menganggap dirinya yang ber-‘jidat hitam’ lebih sholih dan lebih layak masuk surga dibandingkan orang lain yang tidak ber-‘jidat hitam’. harus kita pahami bersama bahwa ‘jidat hitam’ itu tidak selalu menunjukkan bahwa orang itu banyak shalat. Dan juga belum tentu ada jaminan bahwa shalatnya itu pasti diterima Allah SWT. Dan bukan juga lambang dari ketaqwaan seseorang. Kita seharusnya hati-hati dalam masalah ‘jidat hitam’ ini, bagi yang ber-‘jidat hitam’ jangan merasa lebih suci dibandingkan orang lain. dan bagi yang tidak ber-‘jidat hitam’ jangan pula menganggap sinis terhadap orang yang ber ‘jidat hitam’. (wallahu al-Musta’an)


One thought on “Jidat Hitam… biasa aja …

Comments are closed.