Mandi telanjang di parit, jangan lah …

Menurut imam bukhori dan imam ibnu hajar, mandi telanjang itu boleh jika di tempat yang sepi, akan tetapi lebih utama memakai penutup. berbeda menurut ulama’ syafi’iyah, sebagian menyatakan makruh dan sebagian yang lain mengatakan haram.

وَقَالَ بَهْزُ بْنُ حَكِيمٍ عَنْ أَبِيهِ عَنْ جَدِّهِ عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ اللَّهُ أَحَقُّ أَنْ يُسْتَحْيَا مِنْهُ مِنْ النَّاسِ

Bahr bin hakim berkata dari ayahnya, dari kakeknya dari nabi shollallohu alaihi wasallam bersabda : “Lebih patut seseorang malu kepada Allah daripada malu kepada manusia” (HR. al bukhori)

قلت: يا نبي الله، عوراتنا، ما نأتي منها وما نذر؟ قال: احفظ عورتك إلا من زوجتك أو ما ملكت يمينك. قلت: يا رسول الله، إذا كان القوم بعضهم في بعض؟ قال: إن استطعت أن لا يراها أحد فلا يراها. قال: قلت: يا نبي الله، إذا كان أحدنا خاليا؟ قال: فالله أحق أن يستحيي منه من الناس
“Saya bertanya: “Wahai Nabi Allah, aurat kita, manakah yang harus kita tutup dan manakah yang boleh kita tampakkan?” Nabi menjawab: “Jagalah auratmu kecuali terhadap istrimu atau budak (wanita)mu.” Saya bertanya: “Wahai Rasulullah, apabila sekelompok orang sedang berkumpul bersama?” Nabi menjawab: “Jika engkau mampu agar auratmu tidak bisa dilihat oleh seorangpun maka (usahakan) jangan sampai ada orang yang bisa melihatnya.” Saya bertanya: “Wahai Nabi Allah, apabila salah seorang dari kita sendirian?” Nabi menjawab: “Allah lebih pantas bagi dia untuk malu terhadap-Nya daripada (malu) terhadap manusia.” (HR At Tirmidzi)

Nabi Musa dan Nabi Ayyub Alaihima As-Salam pernah mandi telanjang?

makam-nabi-musaketerangan tentang kedua Nabi tersebut yang pernah mandi telanjang, bisa ditemukan didalam kitab hadits Shohih Bukhori dan Shohih Muslim.

كَانَتْ بَنُو إِسْرَائِيلَ يَغْتَسِلُونَ عُرَاةً يَنْظُرُ بَعْضُهُمْ إِلَى بَعْضٍ، وَكَانَ مُوسَى صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَغْتَسِلُ وَحْدَهُ. فَقَالُوا: وَاللَّهِ، مَا يَمْنَعُ مُوسَى أَنْ يَغْتَسِلَ مَعَنَا إِلَّا أَنَّهُ آدَرُ. فَذَهَبَ مَرَّةً يَغْتَسِلُ فَوَضَعَ ثَوْبَهُ عَلَى حَجَرٍ. فَفَرَّ الْحَجَرُ بِثَوْبِهِ. فَخَرَجَ مُوسَى فِي إِثْرِهِ يَقُولُ: ثَوْبِي يَا حَجَرُ! حَتَّى نَظَرَتْ بَنُو إِسْرَائِيلَ إِلَى مُوسَى، فَقَالُوا: وَاللَّهِ، مَا بِمُوسَى مِنْ بَأْسٍ. وَأَخَذَ ثَوْبَهُ فَطَفِقَ بِالْحَجَرِ ضَرْبًا. فَقَالَ أَبُو هُرَيْرَةَ: وَاللَّهِ إِنَّهُ لَنَدَبٌ بِالْحَجَرِ سِتَّةٌ أَوْ سَبْعَةٌ ضَرْبًا بِالْحَجَرِ
“Masyarakat Bani Israil biasa mandi bersama dalam keadaan telanjang. Mereka saling melihat kepada (aurat) yang lainnya. Sedangkan Musa a.s mandi sendirian. masyarakat Bani Israil berkata : “Demi Allah, Musa itu tidak mau mandi bersama kita pasti karena buah zakarnya besar.”

Suatu ketika, Musa pergi mandi (ke sungai). Dia meletakkan pakaiannya di atas sebuah batu. Lalu batu tersebut bergerak pergi sambil membawa pakaiannya. Musa pun mengejar batu tersebut di belakangnya sambil berkata: “Wahai batu, kembalikan bajuku!” Kaum Bani Israil melihat kepada Musa dan berkata: “Demi Allah, ternyata Musa tidak memiliki kelainan apapun (buah zakarnya tidak besar sebagaimana yang mereka perkirakan sebelumnya).”

Lalu Musa mengambil bajunya dan langsung memukul batu tersebut.” Abu Hurairah berkata: “Demi Allah, pada batu tersebut terdapat enam atau tujuh tanda bekas pukulan.”

بَيْنَا أَيُّوبُ يَغْتَسِلُ عُرْيَانًا فَخَرَّ عَلَيْهِ جَرَادٌ مِنْ ذَهَبٍ، فَجَعَلَ أَيُّوبُ يَحْتَثِي فِي ثَوْبِهِ. فَنَادَاهُ رَبُّهُ: يَا أَيُّوبُ، أَلَمْ أَكُنْ أَغْنَيْتُكَ عَمَّا تَرَى؟ قَالَ: بَلَى وَعِزَّتِكَ، وَلَكِنْ لَا غِنَى بِي عَنْ بَرَكَتِكَ
“Ketika (Nabi) Ayyub as sedang mandi dalam keadaan telanjang, jatuhlah belalang-belalang dari emas di dekatnya. Lalu Ayyub menciduk (belalang-belalang emas itu) ke dalam pakaiannya. kemudian Allah memanggilnya: “Wahai Ayyub, bukankah Aku telah mencukupkan (rizki) bagimu dari (selain) apa yang engkau lihat?” Ayyub menjawab: “Benar (wahai Allah) demi keagungan-Mu, akan tetapi tidak cukup bagiku untuk (tidak mengambil) keberkahan-Mu.

namun demikian, kedua hadits diatas tidak boleh dijadikan dalil kebolehan mandi telanjang karena kedua hadits tersebut memberikan titik tekan kepada sejarah mandinya Nabi Musa as dan kaumnya, untuk dijadikan pengetahuan kepada sahabat Nabi saw dan umatnya terhadap adanya korelasi syari’at yang dibawa Nabi, khususnya mandi. Tradisi mandi telanjang yang dilakukan Bani Israil tersebut tidak dilestarikan dan diganti dengan aturan (syari’ah) baru dalam syariat Nabi Muhammad saw yang tidak memperbolehkan mandi telanjang. [wallah al-musta’an]

2 thoughts on “Mandi telanjang di parit, jangan lah …

  • May 4, 2016 at 6:14 am
    Permalink

    bagaimana dengan anak-anak yg notabene kita ketahui bersama bermain bersama berenang bersama di parit, atau sungai ? perlukah kita mengedukasi secara dini agar mandi menggunakan celana.

  • May 4, 2016 at 6:16 am
    Permalink

    jika itu terjadi pada anak-anak . perlukah kita mengedukasi mereka sejak dini?

Comments are closed.