GUSDUR: BANGSAWAN GANDA

Tulisan ini khusus dipersembahkan untuk mengenang 40 hari wafatnya KH. Abdurrahman Wahid. Menjelang pergantian tahun 2009-2010 bangsa Indonesia dikejutkan oleh wafatnya KH.Abdurrahman Wahid (Gusdur) mantan Presiden RI ke-4 sekaligus Cendikiawan yang sulit dicari tandingannya. Gusdur adalah sosok yang sangat bersahaja bukan hanya karena predikat kekiaiannya, tetapi juga karena kepiawaiannya dalam berolah fikir yang aplikatif. Karena itu, tidak begitu mengherankan jika Gusdur digemari sekaligus dihormati  jutaan orang (multi etnik dan lintas agama). Gusdur tidak hanya menjadi pahlawan “kemerdekaan” bagi warga Tionghoa tetapi juga pahlawan bagi bumi putra Papua. Dan bahkan Gusdur didaulat menjadi perekat kesadaran damai lintas agama oleh para pemuka agama di Indonesia sehingga wajar kiranya jika Presiden Susilo Bambang Yudoyono menganugrahkan gelar bapak pluralisme dan multikulturalisme kepada Gusdur pada saat prosesi pemakamannya.



Kiprah Gusdur yang begitu fenomenal tersebut mengundang decak kagum banyak kalangan. Hal itu disebabkan, selain kiprah dan cara berfikirnya, Gusdur juga dikenal sangat dekat dengan siapa saja; lintas etnik, lintas agama, cendekiawan maupun “cendawan”, kawan maupun lawan, tua maupun muda, konglomerat maupun wong melarat dan lain sebagainya. Gusdur mencerminkan “generasi biru” yang sekaligus melebur peta kebangsawanan (Bangsawan Oesoel vs Bangsawan Pikir) seperti yang telah tertoreh pada lempeng sejarah gerakan kemerdekaan Republik Indonesia. Batas-batas kultural dan struktural tak mampu membuat Gusdur terpasung. Ia bergerak lincah bak Leoni Messi saat menggiring bola mengoyak jala gawang lawan-lawannya.

Bangsawan Oesoel

Dalam terminulogi kebangsawanan yang dipetakan oleh Abdul Rivai pada awal abad ke-19, tepatnya 1902, istilah Bangsawan Oesoel dan Bangsawan Pikir pertama kali muncul di majalah Bintang Hindia (Yudi Latif, 2005:151), Gusdur dapat kategorikan sebagai Bangsawan Oesoel. Hal ini dikarenakan Gusdur lahir dari pasangan KH. Wahid Hasyim dan Hj.Nyai Sholichah Munawarah. KH.Wahid Hasyim sendiri adalah Putra dari pendiri Nahdhatul Ulama (NU) yakni KH.Hasyim As’ary, sementara Nyai Sholichah adalah putri dari KH. Bisri Sansuri, keponakan KH.Wahab Hasbullah yang juga tokoh NU. Dengan demikian, benar kiranya jika dalam diri Gusdur mengalir darah kebangsawanan dari sisi oesoel. Hal itu diperkuat dengan silsilah Gusdur yang sampai kepada Raden Patah (Sunan Gunung Jati) Raja Demak.



Secara kultural terlebih dalam tradisi Jawa, Gusdur lahir dari oesoel yang sangat dipatuhi dan dihormati dan bahkan titahnya pun bak sabda yang wajib dilakoni. Termasuk istilah/penyebutan Gusdur  (simplifikasi dari Abdurrahman Wahid) dalam tradisi pesantren di Jawa merupakan gelar penghormatan.  Menurut Abdul Rivai sebagaimana dikemukakan oleh Yudi Latif bahwa kemunculan Bangsawan Oesoel memang telah ditakdirkan. Oleh karena itu, siapapun yang lahir dari seorang bangsawan, ia akan menjadi bangsawan meskipun pengetahuan dan prestasinya seperti pepatah ”bak katak dalam tempoeroeng” apalagi pengetahuan dan prestasinya secemerlang Gusdur. Kendati demikian, kebangsawanan Gusdur dari sisi silsilah tidak menempatkannya menjadi sosok yang pongah. Sikap Gusdur yang terbuka, mudah bergaul dan mau menerima setiap perbedaan menjadi pembeda dengan Bangsawan Oesoel tempo doeloe yang sarat dengan keangkuhan. Bangsawan Oesoel tempo doeloe kebanyakan meraih prestise tidak dengan prestasi. Mereka lebih mengedepankan oesoel sehingga dalam berpendidikan, masuk dalam sekolah OSVIA (sekolah paling elit di zamannya) sekalipun bukan karena kepiawaiannya dalam berolah fikir tetapi hanya karena faktor keberuntungan oesoel semata. Oleh karena itu, jika kita mencermati ulang sejarah perubahan dan perlawanan bangsa, minim sekali pejuang yang lahir dari anak-anak OSVIA, tetapi kebanyakan justru diukir oleh anak-anak STOVIA (sekolah yang sangat sederhana di zamannya) yang nota bene berasal dari keluarga priyayi rendahan dan kelas bawah.

Baca Juga :   6 Pesan Nabi Muhammad SAW Menjelang Bulan Ramadhan

Gusdur memang unik mungkin itulah kata yang pas untuk menggambarkan sikap dan prilakunya. Keunikan Gusdur tidak hanya karena sikapnya yang selalu santai dan kelakarnya yang lucu serta kontroversial karena multi tafsir. Sedari kecil hingga remaja, Gusdur mempercayakan pengembangan intelektualitasnya pada lembaga pendidikan yang tradisional. Padahal  Ia lahir dari rahim perpaduan Bangsawan Oesoel yang tentunya punya kuasa untuk memilih lembaga pendidikan yang bergengsi, tetapi Ia tetap besar dan dibesarkan dalam tradisi sekolah pesantren dengan segala kesederhanaannya. Dan bahkan pilihan untuk melanjutkan ke jenjang perguruan tinggi sekalipun, ia memilih salah satu universitas di Mesir dan Irak bukan ke Eropa atau Amerika. Kendati demikian, cakrawala pemikirannya  melintasi samudera keilmuan di setiap benua. Ini sekaligus menepis asumsi bahwa didikan pesantren dan lembaga tinggi keislaman hanya melahirkan cara berpikir yang kolot dan konservatif adalah keliru. Mengingat kecanggihan berpikir Gusdur dengan bekal ilmu penegetahuan yang mumpuni serta kepiawaannya dalam mengerti banyak bahasa menjadi nilai plus tersendiri dalam diri Gusdur.  Oleh karena itu, dalam hal ini, Gusdur bukan hanya Bangsawan Oesoel tetapi juga Bangsawan Pikir. Perpaduan bangsawan yang pilih tanding sekaligus meretas pembeda seperti yang telah digariskan oleh Abdul Rivai seabad silam.

Bangsawan Pikir

Jika pada Bangsawan Oesoel, silsilah garis keturunan menjadi penting dan dengannya gelar kebangsawanan melekat secara tradisiyah. Pada Bangsawan Pikir, ilmu dan pengetahuan menjadi akar tunjangnya. Dengan demikian, gelar Bangsawan Pikir sangat luwes dan terbuka untuk umum. Siapa saja tanpa memandang garis keturunan dapat menyandang gelar Bangsawan Pikir, selagi Ia memiliki ilmu pengetahuan terlebih jika ditunjang dengan prestasi yang gemilang.

Karena akar tunjang dari Bangsawan pikir adalah ilmu pengetahuan, maka Gusdur sebagaimana dikemukakan di atas juga termasuk Bangsawan Pikir. Banyak karya tulis yang telah dihasilkan semisal Islamku, Islam Anda dan Islam Kita, begitu juga Tuhan Tidak Perlu Dibela dan masih banyak lagi yang lainnya. Kecerdasan serta ilmu pengetahuan Gusdur yang luas diakui banyak kalangan; mulai dari masyarakat kelas bawah sampai cendekiawan sekelas Frans Magnis Suseno, Johan Effendi, Imaduddin Abdurrahim, Martin Van Brueinessen dan seterusnya. Yang menarik kecerdasan serta ilmu pengetahuan Gusdur tidak hanya ditulis dan diwacanakan tetapi juga diaplikasikan, terutama menyangkut isu-isu pluralisme dan multikulturalisme. Bukti paling nyata bahwa Gusdur merupakan pejuang pluralisme dan multikulturalisme adalah ketika Gusdur dipercaya untuk menjadi pembicara kunci pada kongres American Jewish Committee di Amerika Serikat. Kemudian, penyematan gelar bapak pluralisme dan multikulturalisme oleh Presiden Susilo Bambang Yudoyono, kiranya bukan karena Gusdur mampu mewacanakan tetapi lebih pada penghargaan terhadap kerja-kerja Gusdur baik ketika menjabat sebagai Presiden RI ke- 4 maupun Gusdur sebagai aktivis sosial dan keagamaan.

Ilmu amaliyah serta amal ilmiah kiranya menjadi ungkapan yang tepat terhadap prestasi Gusdur dalam mencerdaskan kehidupan bangsa. Bahkan yang lebih menarik ketika berbicara tentang istilah kebangsawanan, Gusdur tidak tenar karena lahir dari trah Hasimy, cucu dari pendiri NU, tetapi Gusdur dikenal luas karena kualitas intelektualnya yang mumpuni serta perjuangannya yang gigih terhadap nilai-nilai kemanusiaan. Pluralisme, multikulturalisme hingga pembelaannya pada kelompok minoritas di Indonesia.

Baca Juga :   Jadilah Suami yang Tidak Malu Membantu Istri

Dalam pada ini, sosok Gusdur dapat juga dapat dikatakan sebagai perpaduan dua bangsawan: yakni Bangsawan Oesoel dan Bangsawan Pikir, yang mana dominasi intelektualitasnya lebih memberikan makna yang lebih segar untuk disumbangkan kepada anak bangsa Indonesia tinimbang silsilah keturunannya. Sebab jika hanya persoalan keturunan, Gusdur tidak akan dicintai oleh masyarakat Indonesia yang multi etnik, budaya dan silsilah keturunan. Karena pemikiran dan kemampuannya dalam mengaplikasikan segenap ilmu pengetahuannya sehingga Ia dipandang “memerdekakan” banyak orang. Maka  alamiyah kiranya jika kepergiannya menuju kehadirat ilahi rabbi diratapi oleh segenap bangsa Indonesia dari Sabang sampai Merauke.

Bercermin pada Gusdur

Gusdur telah tiada, akan tetapi kita semua tentunya setuju untuk menjadikan semangat dan keteguhan Gusdur dalam mengaplikasikan nilai-nilai kemanusiaan tetap dilestarikan. Gusdur telah mengisi lembaran sejarah bangsa Indonesia, Ia akan selalu dikenang dan akan diperbaharui maknanya oleh generasi bangsa dalam mengisi perjalanan bangsa Indonesia menuju masa depan. Banyak mutiara hikmah baik lisan maupun tulisan serta tindak tanduk perjuangannya yang dapat dijadikan teladan. Pertama, yang patut dicermati dari Gusdur adalah bahwa Ia tidak pernah membanggakan silsilah keturunannya dengan berlaku semena-mena atau berdiam diri dengan hanya membanggakan oesoelnya. Baginya silsilah kejayaan turunan harus diisi dengan mengasah kemampuan diri. Hal ini selain sebagai upaya untuk untuk membuktikan kepada semua orang bahwa oesoel bukanlah apa-apa jika kita tidak bisa berbuat yang bermanfaat bagi kehidupan ini. Pada bagian ini, kita diajak untuk tidak melihat oesoel sebagai sesuatu yang harus dibanggakan atau bahkan merasa kerdil karena berasal dari oesoel rendahan. Gusdur mengajak untuk  selalu belajar mengembangkan intelektualitas dan kreatifitas kita untuk dipersembahkan pada bangsa dan negara. Karena hanya dengan belajar dan mengasah diri, intelektualitas dan kreatifitas itu akan nyata, bukan karena keturunan siapa. Ini sesuai dengan apa yang pernah dilontarkan oleh orang bijak al-ilmu bi at-thalabi la bi an-Nasabi (ilmu itu diperoleh dengan dicari dan dipelajari bukan dengan mengandalkan nasab/keturunan).

Kedua, Gusdur yang dibesarkan dalam alam pendidikan tradisional berani melakukan pengembaraan intelektual. Ia tidak hanya terkungkung oleh tradisi kitab kuning tetapi juga mampu menyelami kedalaman filsafat, pengetahuan dan peradaban Barat sehingga Ia dapat melampaui pendahulunya yang anti modernisasi. Kemodernan bagi Gusdur bukan sesuatu yang harus ditakuti tetapi mesti didekati dan diselami sekaligus menyambit manfaat sembari berupaya membendung nuansa mafsyadah (dampak negatif) dari modernisasi. Dan yang paling prestisius dari Gusdur adalah kendati pengetahuannya sudah melanglang buana Ia tetap kembali kerumah tradisinya. Rumah tradisi bagi Gusdur tidak untuk diagungkan apalagi disakralkan, tapi justru malah dipoles dengan sedemikian rupa agar lebih lentur dan terbuka terhadap semua perbedaan. Termasuk mengawinkan universalitas keislaman dengan lokalitas keindonesiaan.

Akhirnya, selamat jalan Gusdur sang guru bangsa. Riuh kelakarmu dan ketangguhan serta semangat juangmu akan selalu menjadi inspirasi bagi segenap generasi bangsa guna menyongsong masa depan bangsa Indonesia yang damai dan sejahtera.

Penulis adalah alumni Pascasarjana UIN Sunan Kalijaga. Beraktivitas di  IAIN PONTIANAK