IHSAN

عنْ أَبِي يَعْلَى شَدَّاد ابْنِ أَوْسٍ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ عَنْ رَسُوْلِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ :  إِنَّ اللهَ كَتَبَ اْلإِحْسَانَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ، فَإِذَا قَتَلْتُمْ فَأَحْسِنُوا hqdefault الْقِتْلَةَ وَإِذَا ذَبَحْتُمْ فَأَحْسِنُوا الذِّبْحَةَ وَلْيُحِدَّ أَحَدُكُمْ شَفْرَتَهُ وَلْيُرِحْ ذَبِيْحَتَهُ .رواه مسلم

 

Dari Abu Ya’la Syaddad bin Aus radhiyallahu’anhu, bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,“Sesungguhnya Allah telah mewajibkan ihsan (berbuat baik) terhadap segala sesuatu. Karena itu, jika kalian membunuh, maka bunuhlah dengan cara yang baik, jika kalian menyembelih, maka sembelihlah dengan cara yang baik. Hendaknya salah seorang dari kalian menajamkan goloknya dan melegakan sembelihannya.”

DEFINISI IHSAN :

الإحسان هو مراقبة الله في السر والعلن، وفي القول والعمل، وهو فعل الخيرات على أكمل وجه، وابتغاء مرضات الله.

Ihsan adalah mendekatkan diri kepada Allah baik ketika sepi atau ramai, didalam ucapan atau perbuatan, yaitu melakukan perbuatan baik dengan sempurna dan mengharapkan ridha Allah.

MACAM-MACAM IHSAN :

  1. Ihsan kepada Allah

الإحسان مع الله: وهو أن يستشعر الإنسان وجود الله معه في كل لحظة، وفي كل حال، خاصة عند عبادته لله -عز وجل-،  فيستحضره كأنه يراه وينظر إليه. قال صلى الله عليه وسلم الإحسان أن تعبد الله كأنك تراه، فإن لم تكن تراه فإنه يراك) متفق عليه(.

Ihsan kepada Allah adalah merasakan kehadiran Allah didalam setiap kesempatan dan keadaan, terutama ketika beribadah kepada Allah. Merasakan kehadiran Allah tersebut seakan-akan dia meliat Allah dan Allah melihat dia. Nabi bersabda : Ihsan itu adalah menyembah (beribadah) kepada Allah seakan-akan engkau melihat Allah, jika engkau tidak bisa (untuk merasakan seakan-akan melihat Allah) maka merasakan seakan-akan Allah melihat engkau (HR. Bukhari Muslim)

  1. Ihsan kepada kedua orang tua

الإحسان إلى الوالدين: المسلم دائم الإحسان والبر لوالديه، يطيعهما، ويقوم بحقهما، ويبتعد عن الإساءة إليهما، قال تعالى:  وقضى ربك ألا تعبدوا إلا إياه وبالوالدين إحسانًا} الإسراء: 23{

Ihsan kepada kedua orang tua, yaitu : Bagi setiap orang Islam, selamanya wajib berbuat ihsan kepada kedua orang tua, taat pada keduanya, memenuhi haq keduanya serta menjauhi dari menyakiti keduanya. Allah berfirman : Dan Tuhanmu telah memerintahkan supaya kamu jangan menyembah selain Dia dan hendaklah kamu berbuat baik pada ibu bapakmu dengan sebaik-baiknya. (QS. Al-Isra’ : 23)

  1. Ihsan kepada keluarga

الإحسان إلى الأقارب: المسلم رحيم في معاملته لأقاربه، وبخاصة إخوانه وأهل بيته وأقارب والديه،  يزورهم ويصلهم، ويحسن إليهم.

قال الله تعالى : واتقوا الله الذي تساءلون به والأرحام} النساء: 1{.

وقال صلى الله عليه وسلم:  من سرَّه أن يُبْسَطَ له في رزقه (يُوَسَّع له فيه)، وأن يُنْسأ له أثره (يُبارك له في عمره)، فليصل رحمه) متفق عليه(

وقال النبي صلى الله عليه وسلم : من كان يؤمن بالله واليوم الآخر، فَلْيَصِل رحمه) البخاري(

قال صلى الله عليه وسلم:  الصدقة على المسكين صدقة، وهي على ذي الرحم ثنتان: صدقة، وصلة) الترمذي(.

Seorang muslim seharusnya memiliki sifat rohim (menyayangi) dalam bergaul dengan keluarganya, terutama kepada saudara-saudaranya, keluarga dekatnya, dan keluarga dari orang tuanya. Hendaknya saling berkunjung dan bersilaturahmi serta berbuat ihsan dengan mereka. Allah berfirman : Dan bertakwalah kepada Allah yang dengan (mempergunakan) nama-Nya kamu saling meminta satu sama lain, dan (peliharalah) hubungan silaturahmi. (QS. An-Nisa’ : 1)

Rasulullah SAW bersabda : barangsiapa yang ingin diluaskan rizkinya dan diberkahi umurnya, hendaknya ia menyambung silaturahmi (HR. Bukhari Muslim)

Rasulullah SAW bersabda : barangsiapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir, hendaknya menyambung silaturahmi (HR. Bukhari).

Rasulullah SAW bersabda : sedekah kepada orang miskin (hanya) 1 sedekah, dan sedekah kepada sanak keluarga bermakna 2 macam, yaitu sedekah dan silaturahmi. (HR. Bukhari)

  1. Ihsan kepada tetangga

الإحسان إلى الجار:  المسلم يحسن إلى جيرانه، ويكرمهم امتثالا لقول النبي صلى الله عليه وسلم: (ما زال جبريل يوصيني بالجار حتى ظننتُ أنه سيورِّثه). )متفق عليه. (ومن كمال الإيمان عدم إيذاء الجار، قال صلى الله عليه وسلم: من كان يؤمن بالله واليوم الآخر فلا يُؤْذِ جاره )متفق عليه(

والمسلم يقابل إساءة جاره بالإحسان، فقد جاء رجل إلى ابن مسعود -رضي الله عنه- فقال له: إن لي جارًا يؤذيني، ويشتمني، ويُضَيِّقُ علي. فقال له ابن مسعود: اذهب فإن هو عصى الله فيك، فأطع الله فيه.

Seorang Muslim hendaknya berbuat ihsan kepada tetangganya, memuliakan mereka, karena hal itu adalah bentuk pengamalan dari hadits Nabi SAW : Malaikat Jibril selalu dan senantiasa berpesan kepadaku agar (menghormati) tetangga sampai-sampai aku mengira bahwa tetangga itu sama dengan ahli warits ku. (HR. Bukhari Muslim). Sebagian dari (tanda) kesempurnaan iman adalah tidak menyakiti hati tetangga.  Rasulullah SAW bersabda : barangsiapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir, maka hendaknya memenuhi (hak) tetangganya.

Seorang Muslim hendaknya menyakiti perbuatan jahat tetangganya dengan ihsan. Suatu hari datang seorang laki-laki kepada sahabat Ibnu Mas’ud. Laki-laki itu berkata : tetanggaku telah menyakitiku dan mengumpatku. Ibnu Mas’ud menjawab : pulanglah, sesungguhnya dia telah melakukan ma’siat kepada Allah melalui dirimu, dan engkau ta’atlah kepada Allah melalui tetanggamu.

  1. Ihsan kepada diri sendiri

الإحسان إلى النفس:  المسلم يحسن إلى نفسه؛ فيبعدها عن الحرام، ولا يفعل إلا ما يرضي الله،  وهو بذلك يطهِّر نفسه ويزكيها، ويريحها من الضلال والحيرة في الدنيا، ومن الشقاء والعذاب في الآخرة، قال تعالى: إن أحسنتم أحسنتم لأنفسكم) الإسراء: 7(.

Seorang Muslim hendaknya berbuat ihsan kepada dirinya sendiri dengan cara menjauhi dirinya dari hal-hal yang haram, tidak melakukan apapun kecuali yang diridhai Allah. Dengan hal itu berarti orang tersebut telah mensucikan jiwanya serta menyelematkan dirinya dari kesesatan dan kebingungan didalam kehidupan dunia serta menyelamatkan dirinya dari celaka dan siksa nanti di hari kiamat. Allah berfirman : Jika kamu berbuat baik (berarti) kamu berbuat baik bagi dirimu sendiri (QS. Al-Isra’ : 7)

  1. Ihsan didalam ucapan

الإحسان في القول: الإحسان مطلوب من المسلم في القول، فلا يخرج منه إلا الكلام الطيب الحسن، يقول تعالى: وهدوا إلى الطيب من القول} الحج: 24 {وقال تعالى: وقولوا للناس حسنًا} البقرة: 83{.

Setiap muslim dituntut berbuat ihsan didalam ucapan, yaitu dengan cara dari mulutnya tidak keluar kecuali kata-kata yang baik. Allah berfirman : Dan mereka diberi petunjuk kepada ucapan-ucapan yang baik (QS. Al-Hajj : 24). Dan firman Allah : serta ucapkanlah kata-kata yang baik kepada manusia (QS.  Al-Baqarah : 83)

  1. Ihsan kepada hewan

Dari hadits diatas, selain diperintahkan untuk berbuat ihsan terhadap manusia, kita juga diperintahkan untuk berbuat ihsan kepada hewan dan juga kepada tumbuhan.

Dalam hadits di atas secara khsus diperintahkan dua hal, yaitu :

  • Berbuat ihsan dalam membunuh, baik membunuh manusia karena alasan yang dibenarkan Allah SWT, atau membunuh hewan-hewan yang dianggap berbahaya atau buas dan mengancam nyawa, juga harus dilakukan dengan cara yang baik pula.
  • Berbuat ihsan dalam menyembelih, yaitu dengan cara menajamkan pisau yang digunakan untuk menyembelih dan menyenangkan hewan sembelihannya.

Inilah sebagian rahasia dibalik perintah Rasul tentang menyembelih hewan.

Melalui penelitian ilmiah yang dilakukan oleh dua staf ahli peternakan dari Hannover University, sebuah universitas terkemuka di Jerman. Yaitu: Prof.Dr. Schultz dan koleganya, Dr. Hazim. dapat diperoleh beberapa hal sbb.:

Dalam Syariat Islam, penyembelihan dilakukan dengan menggunakan pisau yang tajam, dengan memotong tiga saluran pada leher bagian depan, yakni: saluran makanan, saluran nafas serta dua saluran pembuluh darah, yaitu: arteri karotis dan vena jugularis. Syariat Islam tidak merekomendasikan metoda atau teknik pemingsanan. Sebaliknya, Metode Barat justru mengajarkan atau bahkan mengharuskan agar ternak dipingsankan terlebih dahulu sebelum disembelih. Praktek penyembelihan hewan yang dilakukan secara Syariat Islam menunjukkan:

Pertama :pada 3 detik pertama setelah ternak disembelih tidak ada indikasi bahwa hewan tersebut merasa sakit.

Kedua : pada 3 detik berikutnya, hewan yang disembelih secara bertahap mengalami keadaan yang sangat mirip dengan kejadian deep sleep (tidur nyenyak) hingga hewan yang disembelih itu benar-benar kehilangan kesadaran.

Ketiga : setelah 6 detik pertama itu, ada aktivitas luar biasa dari jantung untuk menarik sebanyak mungkin darah dari seluruh anggota tubuh dan memompanya keluar. Hal ini merupakan refleksi gerakan koordinasi antara jantung dan sumsum tulang belakang (spinal cord). Pada saat darah keluar melalui ketiga saluran yang terputus di bagian leher tersebut.

Keempat : karena darah tertarik dan terpompa oleh jantung keluar tubuh secara maksimal, maka dihasilkan healthy meat (daging yang sehat) yang layak dikonsumsi bagi manusia. Jenis daging dari hasil sembelihan semacam ini sangat sesuai dengan prinsip Good Manufacturing Practise (GMP) yang menghasilkan Healthy Food.

Hasil penelitian yang dilakukan oleh Prof.Dr. Schultz dan Dr. Hazim menunjukkan jika hewan yang disembelih secara Islami, kejang dan meregangkan otot pada saat hewan disembelih ternyata bukanlah ekspresi rasa sakit!  Pisau tajam yang mengiris leher (sebagaimana syariat Islam dalam penyembelihan ternak) ternyata tidaklah ‘menyentuh’ saraf rasa sakit. Hewan yang meronta-ronta dan meregangkan otot bukanlah sebagai ekspresi rasa sakit, melainkan sebagai ekspresi ‘keterkejutan otot dan saraf’ saja (yaitu pada saat darah mengalir keluar dengan deras). Hal ini sudah teruji secara ilmiyah. (wallahul musta’an)