Nafkah Batin, bagaimana seharusnya..

siPernikahan yang terjadi antara laki-laki dan perempuan menimbulkan konsekuensi adanya hak dan kewajiban dari masing-masing pihak guna mewujudkan keluarga yang tetap utuh dan harmonis (sakinah mawaddah wa rohmah). Salah satu bentuk hak dan kewajiban suami istri adalah adanya pemenuhan nafkah lahir dan batin.

Tentang nafkah sebagai salah satu hak dan kewajiban suami istri, disebutkan Allah dalam Al-Qur’an Surat At-Tolaq ayat 7 :

لِيُنْفِقْ ذُو سَعَةٍ مِنْ سَعَتِهِ وَمَنْ قُدِرَ عَلَيْهِ رِزْقُهُ فَلْيُنْفِقْ مِمَّا آتَاهُ اللَّهُ لَا يُكَلِّفُ اللَّهُ نَفْسًا إِلَّا مَا آتَاهَا سَيَجْعَلُ اللَّهُ بَعْدَ عُسْرٍ يُسْرًا

” Hendaklah orang yang mampu memberi nafkah menurut kemampuannya. Dan orang yang disempitkan rizkinya hendaklah memberi nafkah dari harta yang diberikan Allah kepadanya. Allah tidak memikulkan beban kepada seseorang melainkan (sekadar) apa yang Allah berikan kepadanya.Allah kelak akan memberikan kelapangan sesudah kesempitan.”

Imam Al-Qurtuby dalam kitab tafsir al qurtby dalam memahami ayat tersebut, mengatakan :

قوله تعالى : ” لينفق ” أي لينفق الزوج على زوجته وعلى ولده الصغير على قدر وسعه حتى يوسع عليهما إذا كان موسعا عليه . ومن كان فقيرا فعلى قدر ذلك . فتقدر النفقة بحسب الحالة من المنفق والحاجة من المنفق عليه بالاجتهاد على مجرى حياة العادة

maksudnya, seorang suami hendaklah memberikan nafkah kepada istri dan anaknya yg kecil berdasarkan ukuran kemampuannya jika dia mampu, jika suami tsb faqir maka wajibnya seukuran kefakirannya tsb.maka ukuran nafkah berdasarkan hitungan keadaan orang yg menafkahi dan kebutuhan orang yg dinafkahi dengan cara berijtihad berdasarkan kebiasaan hidup yg berlaku.

Dari tafsir ayat diatas, para ulama tafsir konsensus bahwa dalam kaitannya dengan jenis nafkah istri intinya memang sandang, pangan dan papan, namun sebagian ulama fikih juga menambahkan kewajiban jenis nafkah lainnya, seperti alat kecantikan, kebersihan, kesehatan, obat-obatan, hingga upah pembantu rumah tangga jika istri adalah bagian dari perempuan yang terbiasa diurus oleh pembantu selama berada bersama orang tuanya dulu. Dan inilah yang dimaksud dengan nafkah lahir.

imageshhKebalikan dari nafkah lahir adalah nafkah batin, yaitu hal-hal (kebutuhan) yang harus dipenuhi oleh suami dan istri, berupa hal-hal yang bukan merupakan kebendaan (ghairu maliyah). Nafkah batin memang sulit untuk disebutkan secara rinci dan jelas, hal ini karena nafkah batin memiliki cakupan yang sangat luas (batin) kaitannya dalam kebutuhan rumah tangga. Terkait dengan hal ini, banyak perbedaan pendapat dalam memberikan sebuah definisi tentang makna nafkah batin.

Salah satu definisi tentang nafkah batin menurut Bahri, salah satu hakim di Pengadilan Agama Serunei, yang dimaksud  nafkah batin dalam berbagai literatur dan tradisi masyarakat merupakan pemenuhan kebutuhan terutama biologis dan psikologis, seperti cinta dan kasih sayang, perhatian, perlindungan dan lain sebagainya, yang bentuk konkretnya berupa persetubuhan (sexual intercourse). Sehingga dalam keseharian ketika disebut nafkah batin, maka yang dimaksud justru hubungan sex. Dan kebutuhan biologis merupakan bentuk paling nyata dari nafkah batin kepada istri.

Pada prinsipnya, suami wajib hukumnya bergaul dengan isterinya dengan baik dan makruf. Ini sesuai dengan firman Allah berbunyi :

وإذا طلقتم النساء فبلغن أجلهن فأمسكوهن بمعروف أو سرحوهن بمعروف ولا تمسكوهن ضرارا لتعتدوا وَمَنْ يَفْعَلْ ذَلِكَ فَقَدْ ظَلَمَ نَفْسَهُ

 Apabila kamu mentalak isteri-isterimu, lalu mereka mendekati akhir masa iddahnya, maka rujukilah mereka dengan cara yang makruf, atau ceraikanlah mereka dengan cara yang makruf (pula). Janganlah kamu rujuki mereka untuk memberi kemudaratan, karena dengan demikian kamu menganiaya mereka. Barangsiapa berbuat demikian, maka sungguh ia telah berbuat zalim terhadap dirinya sendiri. (Q.S. al-Baqarah : 231)

Dalam ayat lain disebutkan :

واللاتي تخافون نشوزهن فعظوهن واهجروهن في المضاجع واضربوهن فإن أطعنكم فلا تبغوا عليهن سبيلا إن الله كان عليا كبيرا

Wanita-wanita yang kamu khawatirkan nusyuznya, maka nasehatilah mereka dan pisahkanlah mereka di tempat tidur mereka (pisah ranjang), dan pukullah mereka, kemudian jika mereka mentaatimu, maka janganlah kamu mencari-cari jalan untuk menyusahkannya, sesungguhnya Allah Maha Tinggi lagi Maha Besar (Q.S. al-Nisa’ : 34)

Berdasarkan dua ayat ini, dapat dipahami bahwa tidak memberi nafkah batin kepada isteri dengan maksud untuk menganiaya isteri merupakan salah satu perbuatan yang diharamkan. Sedangkan jika tidak diiringi dengan maksud menganiaya, seperti karena faktor tidak ‘berselera’, sedang sakit, ataupun faktor lainnya yang tidak termasuk maksiat, maka para ulama berbeda pendapat tentang ini.  Pada makalah ini, penulis paparkan pendapat Ulama Syafi’iyah tentang kewajiban memberikan nafkah batin kepada isteri, menampilkan hanya pendapat Ulama Syafi’iyah tidak bermaksud menafikan pendapat ulama lain, lebih karena mayoritas kaum Muslimin di Indonesia adalah pengikut mazhab Syafi’i.

  1. Ibnu Hajar al-Asqalany dalam Fathul Barri mengatakan :

واختلف العلماء فيمن كف عن جماع زوجته فقال مالك إن كان بغير ضرورة ألزم به أو يفرق بينهما ونحوه عن أحمد والمشهور عند الشافعية أنه لا يجب عليه وقيل يجب مرة وعن بعض السلف في كل أربع ليلة وعن بعضهم في كل طهر مرة

“Ulama berbeda pendapat tentang orang-orang yang menahan diri dari menyetubuhi isterinya, Malik mengatakan wajib jika tidak dalam keadaan mudharat atau dipisahkan  saja keduanya. Ini juga pendapat Ahmad. Pendapat yang masyhur dari kalangan Syafi’iyah tidak wajib, tetapi ada yang mengatakan wajib. Pendapat sebagian ulama salaf, pada setiap empat malam wajib minimal sekali. Sebagian salaf lain, wajib minimal sekali pada setiap kali suci (Ibnu Hajar al-Asqalany, Fathul Barri, Maktabah Salafiyah, Juz. IX, Hal. 299).

  1. Ibnu al-Mulaqqan dalam al-Tauzhih li Syarh Jami’ al-Shahih, mengatakan

Para ulama berbeda pendapat mengenai seorang suami yang menyibuk dirinya dengan ibadah yang dapat melalaikan hak-hak keluarganya. Malik mengatakan, apabila seorang suami menahan dirinya dari menyetubuhi isterinya tanpa dalam keadaan dharurat, maka tidak dibiarkannya sehingga suami tersebut menyetubuhinya atau dipisahkan keduanya, baik itu disukai atau dibencinya, karena hal itu memudharatkan isteri. Pendapat yang sama dengannya adalah penapat Ahmad. Abu Hanifah dan pengikutnya mengatakan, hendaknya diperintah suami bermalam di sisi  isterinya dan memandang isterinya. Syafi’i mengatakan, tidak difardhukan atas suami menyetubuhi isterinya, yang wajib hanya nafkah, pakaian, tempat tinggal dan tinggal serumah bersama isterinya. Al-Tsuri mengatakan, apabila seorang isteri mengadukan suaminya tidak mendatanginya, maka bagi suaminya itu tiga hari dan isterinya itu satu hari. Ini juga merupakan pendapat Abu Tsur”( Ibnu al-Mulaqqan, al-Tauzhih li Syarh Jami’ al-Shahih, Wazarutul  Auqaf  wal-Syu-uniyah al-Islamiyah Daulah Qathar, Juz. XXV, Hal. 29) .

  1. Imam al-Nawawi mengatakan :

إِذَا اعْتَرَفَتْ بِقُدْرَتِهِ عَلَى الْوَطْءِ وَقَالَتْ: إِنَّهُ يَمْتَنِعُ مِنْهُ، فَلَا خِيَارَ لَهَا، وَهَلْ لَهَا مُطَالَبَتُهُ بِوَطْأَةٍ وَاحِدَةٍ؟ وَهَلْ يُجْبَرُ هُوَ عَلَيْهَا؟ وَجْهَانِ. أَصَحُّهُمَا: لَا ; لِأَنَّهُ حَقُّهُ، فَلَا يُجْبَرُ عَلَيْهِ كَسَائِرِ الْوَطَآتِ

“Apabila seseorang isteri mengakui kemampuan suaminya menyetubuhinya dan ia berkata : sesungguhnya sisuami menahan diri dari menyetubuhinya, maka tidak ada hak khiyar bagi isteri tersebut. Apakah ada hak bagi isteri untuk meminta suami menyetubuhinya sekali ?. Adakah dapat dipaksa suami untuk menyetubuhinya ? Ini dua pendapat, pendapat yang lebih shahih tidak dapat dipaksa, karena menyetubuhinya merupakan hak suami, karena itu tidak dapat dipaksa atas suami seperti halnya persetubuhan-persetubuhan dalam kasus lainnya”( Al-Nawawi, Raudhah al-Thalibin, al-Maktabah al-Islamy, Juz. VII, Hal. 196)

  1. Ibnu Hajar al-Haitamy mengatakan :

وَلَا يَجِبُ عَلَيْهِ وَطْؤُهَا؛ لِأَنَّهُ حَقُّهُ وَقِيلَ عَلَيْهِ مَرَّةٌ لِتَقْضِيَ شَهْوَتَهَا وَيَتَقَرَّرُ مَهْرُهَا.

“Tidak wajib atas suami menyetubuhi isterinya, karena itu adalah haknya. Ada yang mengatakan wajib satu kali, supaya isteri dapat menunaikan syahwatnya dan tetap maharnya”.(Ibnu Hajar al-Asqalany, Tuhfah al-Muhtaj, (Dicetak pada hamisy al-Hawasyi Syarwani,), Mathba’ah Musthafa Muhammad, Mesir, Juz. VII, Hal. 183)

  1. Dalam mengomentari keterangan Ibnu Hajar al-Haitamy di atas, al-Syarwani mengatakan :

وَقَوْلُهُ وَطْؤُهَا أَيْ، وَإِنْ كَانَتْ بِكْرًا فَلَوْ عَلِمَ زِنَاهَا لَوْ لَمْ يَطَأْ فَالْقِيَاسُ وُجُوبُ الْوَطْءِ دَفْعًا لِهَذِهِ الْمَفْسَدَةِ لَا لِكَوْنِهِ حَقًّا لَهَا اهـ ع ش

“(Perkataan pengarang : menyetubuhinya), maksudnya meskipun isterinya adalah gadis. Karena itu, seandainya dimaklumi isterinya bisa berzina apabila tidak disetubuhi, maka menurut qiyas wajib menyetubuhinya, karena menghindari ini mafsadah, bukan karena menyetubuhinya merupakan hak isteri.”( Al-Syarwani, Hawasyi al-Syarwani ‘ala Tuhfah al-Muhtaj, Mathba’ah Musthafa Muhammad, Mesir, Juz. VII, Hal. 183)

gambar-mending-nafkahin-lahir-batinDari berbagai pendapat Ulama Syafi’iyah tersebut diatas, bisa disimpulkan bahwa :

  1. Menurut Imam Syafi’i dan kebanyakan pengikutnya tidak wajib suami memberikan nafkah batin (menyetubuhi) isterinya, karena menyetubuhi isteri merupakan hak suami. Ada satu pendapat dari kalangan Syafi’iyah yang mengatakan wajib, minimal sekali.
  2. Imam Malik dan Ahmad berpendapat wajib suami menyetubuhi isterinya. Suami dipaksa memilih antara menyetubuhinya atau dipisahkan.
  3. Abu Hanifah dan pengikutnya berpendapat hendaknya diperintah suami bermalam di sisi isterinya dan memandang isterinya.
  4. Sufyan Al-Tsuri dan Abu Tsur mengatakan, wajib sekali dalam setiap empat malam.
  5. Pendapat lain mengatakan, wajib minimal sekali dalam setiap sekali suci.
  6. Seandainya dimaklumi isterinya bisa berzina apabila tidak disetubuhi, maka wajib menyetubuhinya.

Secara garis besar pendapat-pendapat Ulama Syafi’iyah di atas dapat digolongkan dalam dua golongan, yaitu yang tidak mewajibkannya, yaitu Syafi’i dan pengikutnya, sementara sebagian kecil pengikut Syafi’i dan ulama lain mewajibkannya.  Para ulama yang mewajibkannya karena beramal dengan dhahir mutlaq dua ayat yang telah di sebutkan di atas serta hadits Abdullah bin Amr bin ‘Ash, beliau berkata :

قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: يَا عَبْدَ اللَّهِ، أَلَمْ أُخْبَرْ أَنَّكَ تَصُومُ النَّهَارَ وَتَقُومُ اللَّيْلَ؟ قُلْتُ: بَلَى يَا رَسُولَ اللَّهِ، قَالَ: فَلاَ تَفْعَلْ، صُمْ وَأَفْطِرْ، وَقُمْ وَنَمْ، فَإِنَّ لِجَسَدِكَ عَلَيْكَ حَقًّا، وَإِنَّ لِعَيْنِكَ عَلَيْكَ حَقًّا، وَإِنَّ لِزَوْجِكَ عَلَيْكَ حَقًّا

                   Rasulullah SAW bersabda : “Hai Abdullah, apakah tidak aku khabari sesungguhnya kamu berpuasa pada siang hari dan beribadah pada waktu malam ?” Aku menjawab : “Benar Ya Rasulullah”. Rasulullah berkata : “Jangan kamu lakukan itu, berpuasalah dan berbuka, beribadahlah dan tidur, sesungguhnya bagi tubuhmu ada hak atasmu, bagi dua matamu ada hak atasmu dan bagi isterimu ada hak atasmu.”(H.R. Bukhari)( Al-Bukhari, Shahih al-Bukhari, Maktabah Syamilah, Juz. VII, Hal. 31, No. hadits 5199

Ulama yang tidak mewajibkannya kemungkinan menempatkan kemutlakan ayat-ayat dan hadits di atas dalam hal yang bukan nafkah batin. Hal ini karena bersetubuh merupakan hak suami. Ini ditandai dengan kewajiban mahar, nafkah pakaian, makanan dan tempat tinggal atas suami, bukan atas isteri.

Ala Kulli hal, istri adalah manusia yang mempunyai naluri dan kebutuhan seksual. Kebutuhan seksual (nafkah batin) seorang istri tentu tidak akan hilang dan tergantikan begitu saja hanya dengan memberikan istri hadiah semegah taj mahal, apalagi cuma memberikan bingkisan yang tak mahal. (wallahul musta’an)

 

One thought on “Nafkah Batin, bagaimana seharusnya..

  • May 16, 2016 at 2:28 pm
    Permalink

    sekali lg bhw cara berfikir fikih lebih cenderung membela kepentinga laki2 dibading perempuan, kesimpulan ini dapat disimak dr kebebasan laki2 untuk memberikan nafkah batin atau tidak. sebab hak ada pada laki2 demikian kesimpulan mayoritas fuqaha sebagaimana diuraikan di atas. tetapi adakah perempuan punya hak utk menolak suaminya utk melayani berhubungan sex. alih2 pembolehan, perempuan justru terpasung dalam perangkat dosa jika tidak melayani. so logisnya setiap masing2 pasangn suami istri seyogyanya sama2 memiliki hak dan kewajiban yg harus dikomunikasikan guna meraih keluarga sakinah, mawaddah wa rahmah. tak saling bertahan yg berimbas pada ketidak adilan. tugas suami istri adalah melayani sepanjang tak ada udzur, komunikasi sebagai penghibur.salam….

Comments are closed.