Dimas Kanjeng Ditahan, Begini Nasib Bisnis Santrinya

ctkpgbrueaan-w_
Taat Pribadi Saat Ditangkap Oleh Kepolisian.

Mojokerto – Sekitar 200 pengikut atau santri masih bertahan di Padepokan Dimas Kanjeng Taat Pribadi di perbatasan Desa Wangkal dan Gadingwetan, Kecamatan Gading, Kabupaten Probolinggo, Jawa Timur.

Sejak pimpinan mereka, Taat Pribadi, ditangkap polisi pada 22 September 2016 lalu, jumlah santri yang bertahan berangsur-angsur berkurang. Penangkapan Taat Pribadi telah menurunkan jumlah orang yang ingin mendapat uang dengan cara singkat. Hal itu berdampak pada beberapa warung yang dibuka para santri di areal padepokan.

“Dulu sehari bisa dapat Rp 3-4 juta, sekarang hanya sekitar 300-400 ribu,” kata Muslih, salah satu santri setia Taat yang membuka warung di padepokan.

Muslih menjual berbagai macam kebutuhan, mulai nasi, gorengan, snack atau makanan ringan, minuman, rokok, sampai barang kebutuhan mandi dan cuci. Warungnya berada di salah satu gang dekat pintu masuk samping menuju areal barak-barak atau tenda semi permanen tempat tinggal para santri.

Selain berharap uang asli yang diberikan cuma-cuma oleh Taat pada jemaahnya, ustads asal Jember, Jawa Timur, ini juga membuka usaha warung. Warungnya termasuk paling laris karena menyediakan berbagai macam kebutuhan.

“Kalau nasi dan gorengan ada yang memasok dari warga sekitar, saya tinggal jual saja. Tapi kalau barang-barang yang lain saya beli grosir dan saya jual eceran,” katanya.

Baca Juga :   Adakah Tuntunan Doa Awal Tahun Dari Rosulullah?

Muslih mengaku baru empat bulan tinggal di padepokan sejak Juli atau Lebaran tahun ini. “Tapi saya sebelumnya sudah sering ikut istigasah di sini,” ujar pria berkacamata dan sering memakai jubah dan songkok ini.

Selain warung Muslih, masih banyak warung yang dibuka para santri, terutama di dalam areal tenda pengikut. Misalnya warung milik Irin yang hanya menjual minuman dan mie instan di salah satu tenda. “Kalau dulu sehari bisa sampai Rp 100 ribu, sekarang paling hanya Rp 50 ribu,” katanya.

Sebagai pengikut Taat, Irin membantah pernah menyetor mahar uang untuk digandakan. “Kami disini hanya bayar iuran untuk kebutuhan listrik dan masjid, kami ikhlas,” kata perempuan berjilbab ini.

Pimpinan Padepokan Dimas Kanjeng Taat Pribadi tersangkut kasus pembunuhan dan penipuan. Selain itu, dia diduga menggunakan hipnoterapi untuk mempengaruhi pengikutnya.

Taat bersama para pengurus padepokan dituduh melakukan penipuan dengan modus penggandaan uang. Korban mereka tersebar seluruh Indonesia dengan jumlah mahar uang yang sudah disetor diperkirakan mencapai ratusan miliar. Pengikutnya dari berbagai kalangan, baik masyarakat biasa, politikus, artis, PNS, hingga pejabat sipil, Polri, dan TNI.

Sumber : Tempo