Tanda-Tanda Ilmu Yang Tidak Bermanfaat

Berapa banyak orang yang telah kerja keras mempelajari sesuatu.

Tapi semua jerih payahnya itu tidak memberikan manfaat sama sekali.

Berikut ini adalah 5 tanda jika ilmu yang Anda pelajari tidak ada manfaatnya sama sekali.

[1] Ilmu Yang Tidak Semakin Membuat Takut Orang Kepada Allah

Di dalam Al Quran Surah Al Fathir ayat 28, Allah Swt berfirman.



“Sesungguhnya yang takut kepada Allah di antara hamba-hamba-Nya, hanyalah ulama.”

Ayat di atas menurut Ibnu Katsir menunjukkan dua point;

Pertama – para ulama adalah hamba-hamba Allah yang takut kepada-Nya

Kedua – orang tidak disebut alim (ulama) jika ia tidak takut kepada Allah.

Semakin tinggi ilmu seseorang, semakin tinggi pula rasa takutnya kepada Allah.

Sebaliknya, jika ilmu semakin hilang dari seseorang, maka semakin hilang rasa takut dari dirinya.

[2] Ilmu Yang Tidak Menambah Ketaatan

Ilmu apa saja yang tidak menambah ketaatan bukanlah ilmu yang bermanfaat.

Apalagi ilmu yang memudahkan seseorang menjadi ahli maksiat.

Seorang dokter dengan ilmu dunianya mungkin akan memberikan manfaat jika ia memabantu banyak orang dengan ikhlas.

Dengan lingkungan kerjanya, seorang dokter juga akan lebih banyak mengingat kematian dan paham artinya apa itu syukur.

Sebaliknya, seorang dokter dan profesi lainnya juga mungkin untuk melakukan perbuatan-perbuatan yang diharamkan agama.

Ilmu itu ibarat pedang bermata dua.

Bisa digunakan untuk menambah ketaatan atau justru menjerumuskan ke dalam jurang kemaksiatan.

[3] Ilmu Yang Membuat Orang Menjadi Ambisius Terhadap Dunia

Ilmu yang bermanfaat sejatinya mampu membawa pemiliknya menjadi bersyukur dan ikhlas terhadap apa yang dimilikinya.

Seorang kawan yang berprofesi sebagai tenaga medis di sebuah rumah sakit ternama di kota Tangerang menceritakan ikhwal pasiennya yang sekarat selama satu tahun.

Pasien ini adalah orang super kaya dengan harta berlimpah, rumah mewah dengan mobil-mobil premium.

Singkat cerita, karena sakitnya, ia harus dirawat setiap hari di rumah sakit, berbulan-bulan dengan biaya yang sangat-sangat mahal.

Uang miliaran telah dikeluarkan untuk mengobati biaya penyembuhannya.

Ia pun akhirnya meninggal dunia dan meninggalkan banyak hutang.

Teman saya ini bercerita, sejak saat itu, saya pun mensyukuri setiap apa yang saya miliki meskipun hanya tinggal di kontrakan kecil dengan gaji yang sangat kecil setiap bulannya.

Ilmu dan pekerjaanya telah membuatnya memahami apa itu arti zuhud.

“Sesungguhnya orang yang berilmu adalah orang yang zuhud pada dunia dan semangat mencari akhirat. Ia paham akan urusan agamanya dan rutin melakukan ibadah pada Rabbnya.” (Al Hasan Al Bashri)

[4] Ilmu Yang Membuat Orang Menjadi Angkuh dan Arogan

Terkadang ilmu seseorang bukan membuat ia makin merunduk seperti padi yang mulai meninggi.

Yang ada justru sebaliknya, ilmu tersebut malah membuatnya jumawa dan lupa diri.

Pahamilah saudaraku, semakin banyak yang kita banyak belajar semakin kita sadari bahwa masih banyak ilmu yang ternyata belum kita kuasai.

Jangan sampai, baru mendalami ilmu sedikit saja sudah membuat kita bertingkah bak seorang pakar.

Tetaplah tawadhu dan mau menerima kebenaran dari siapa saja.

[5] Ilmu Yang Membuat Orang Ingin Populer dan Terkenal

Ada orang yang tujuan satu-satunya untuk menguasai satu hal adalah karena faktor ego pribadi.

Ia ingin dikenal sebagai pakar A, B, C, D, dan sebagainya.

Parahnya lagi, semoga Allah melindungi kita dari hal yang satu ini, niat ini dipakai untuk ilmu agama.

Menghapalkan Al Quran dan mendalami ilmu hadits hanya karena ingin dipuji dan terkenal di masyarakat.



Hati-hati dan waspada wahai saudaraku.

Bahkan orang yang hatinya bersih sekalipun bisa terjebak dengan niat buruk ini di tengah jalan.

Seseorang berusaha menjadi hafidz Quran dengan hati yang bersih dan Allah mudahkan ia untuk menghapal 30 juz bisa tergoda hanya karena tidak dipersilakan untuk menjadi imam.

Ego pribadinya meledak, “Mengapa bukan saya yang menjadi imam? Saya kan hapal Quran, bacaan dia pun banyak salahnya!!!”

Hati-hati dengan hati.

“Ya Allah, berilah manfaat pada ilmu yang telah Engkau ajarkan padaku, ajarilah aku hal-hal yang bermanfaat untukku, dan tambahkanlah aku ilmu.” (HR. Ibnu Majah, no. 251 dan Tirmidzi, no. 3599, shahih)