Bahasa Arab ft Bahasa Inggris di Pesantren

images

congkop.xyz. Evolusi pesantren dalam memadukan dua bahasa (bahasa Arab dan bahasa Inggris ) kini sudah mulai banyak ditemui di beberapa pesantren daerah.  Khususnya di pesantren dengan basis modern yang setiap harinya sudah mulai menggunakan bahasa Arab dan bahasa Inggris dalam berkomunikasi. Ini suatu tanda bahwasanya kualitas pesantren akan mengalami kontinuitas.

Dan bagaimana dengan kita yang masih lemah dalam mengokumikasikan kedua bahasa tersebut? Mungkinkah kita akan tetap mempertahankan budaya pesantren klasik yang konservatif itu? Hal semTehnikal-Meeting-BBEC2acam ini adalah suatu bentuk penafian terhadap substansi ilmu yang selama ini kita pelajari.

Pesantren sekarang sudah banyak menyediakan lembaga kursus (bahasa Arab-Inggris) untuk menunjang ku
alitas SDM santrinya. Antusiasme ini menandakan bahwa pesantren tersebut juga ikut antusias dalam perkembangan zaman dan siap mencetak santri yang multi talenta, mampu dalam bidang iptek dan imtak.

 

Kalau pesantren sudah bisa mencetak santri yang semacam itu (bisa masuk dalam lini kehidupan yang kompleks ini) sama halnya pesantren itu mencetak pendakwah (da’i) yang tidak hanya bermamfaat dikalangan masyarakat sekitarnya saja. Tapi bisa bermanfaat di seantero dunia (internasional). Tentunya dengan bahasa Arab-Inggris-nya.

 

Pesantren yang sukses memadukan dua bahasa tersebut secara tidak langsung ada kesempatan untuk menguasai dua perdaban tersebut. Tapi, realitas yang ada saat ini, sepertinya ada semacam dikotomi antara bahasa Arab dan bahasa Inggris. Ini tampak sekali di pesantren yang agak salaf.

Baca Juga :   Aurangzeb dan Pemerintahan Islam Mughal di India

new-picture-11

Kecenderungan memihak salah satu bahasa dari sebagian santri yang sama-sama mempelajari salah satu bahasa tersebut, meskipun pesantren sendiri sudah banyak menyajikan kursus yang dikenal dengan nama bilingual, yaitu kursus dua bahasa tersebut secara bersamaan (dalam satu lembaga).

Tetapi hal itu tidak dapat menolong fanatisme kecenderungan yang kadung sudah tertanam dalam diri santri masing-masing. Fanatisme itu terus saja menghantui mereka (santri). Sehingga terjadi ketidakseimbangan dalam mempelajari kedua bahasa tersebut.

#disadur dari buku inspirasi menulis santri.