Qaul Qadim Dan Qaul Jadid Imam Syafai’ie Mengapa Berbeda?

images (2)

Pengertian Qaul Qadim Dan Qaul Jadid

Imam Syafi’i berfatwa tidak hanya pada satu tempat saja, beliau berfatwa di beberapa tempat sampai ke Makkah. Sehingga hukum-hukum yang beliau fatwakan ada yang berbeda antara di satu tempat dan tempat yang lain, karena dipengaruhi waktu dan tempat. Oleh karena itu, dalam fatwa Imam Syafi’i ada istilah yang di kenal dengan qaul qadim dan qaul jadid, yang dimaksud qaul qadim yaitu fatwa-fatwa Imam Syafi’i yang beliau fatwakan pada masa pertumbuhan mazhabnya di Baghdad, sedangkan qaul jadid yaitu fatwa-fatwa Imam Syafi’i yang beliau fatwakan ketika ada di Mesir.

Fatwa-fatwa qaul qadimImam Syafi’i banyak tertuang dalam kitab al-Risalah[1] (al-qadimah).Sedangkan fatwa-fatwa qaul jadid beliau banyak tertuang dalam kitab al-Risalah(al-Jadid) yang kemudian disebut dengan kitab ushul fiqh yang memuat kaidah-kaidah aplikatifImam Syafi’i. dalam ijtihadnya yang masyhur sampai sekarang, al-um,al-imla’ dan lain-lain[2]. Qaul jaded banyak di riwayatkan oleh al-Buwaithi (w. 231), Harmalah (w. 241), al-Robi’, al-Jizi (w. 257), Yunus ibnu al-A’la (w 264), al-Muzanni (w 264) dan al-Robi’ al- muradi (270). Mereka merupakan sahabat Imam Syafi’i di Mesir, dan berkat merekalah mazhabSyafi’i berkembang di Baghdad dan menyebar luas ke Negara-negara islam lainnya.

Faktor Yang Mempengaruhi Perubahan Fatwa Imam Syafi’i

Telah disinggung didepan bahwa ada beberapa hukum yang berbeda antara hukum yang di fatwakan Imam Syafi’i dengan hukumyang difatwakannya ketika berada di makkah, tentunya ada beberapa factor yang mempengaruhi fatwa–fatwa tersebut. berikut ini faktor yang mempengaruhi:

  1. Ayat atau hadist yang digunakan berbeda antara saat berada di Baghdad dan saat berada di Makkah, seperti contoh dalam masalah air musta’mal. Qaul qodim merujuk pada surah al-furqan ayat 48. Ayat itu menjelaskan bahwa air musta’mal dapat digunakan untuk bersuci kembali, karena dalam ayat tersebut ada lafadz (dhahurun), sebagai sifat bagi air, dan lafadzdhahurun berwazan fu’uulun yang bermakna pengulangan sehingga sifat tersebut menunjukkan bahwa air dapat digunakan  secara berulang untuk bersuci. Sedangkan qaul jadid merujuk pada al-Sunnah berikut:

ان النبى صلى الله عليه وسلم نهى ان نتوضأ بالماء الذى يسبق اليه الجنب (رواه ابوداود والتر ميذى والنسائي)

Artinya : “bahwa nabi Saw. Melarang kami berwudhu dengan air yang telah digunakan lebih dahuluoleh orang junub”(HR. Abu Daud At-tirmidzi, nasa’i).

images (3)

Dalam al-Sunnah ini dijelaskan bahwa air musta’mal tidak dapat dipakai untuk bersuci kembali.

  1. Pandangan berbeda wajhu al-istidla, dalam memahami ayat atau as-sunnah yang sama. Seperti al-Sunnahtentang penarikan zakatdari orang kaya, fatwa qaul qadim menjelaskan bahwa orang yang berhutang bukan orang kaya, dengan demikian orang yang punya hutang tidak wajib membayar zakat. Sedangkan dalam qaul jadid orang yang punya hutang tetap wajib membayar zakat karena al-Sunnah tersebut tidak menjelaskan batas kekayaan sehingga tidak menunjukkan bahwa orang yang punya hutang tidak kaya.
  2. Perbedaan pendapat terhadap adanya ijma’, seperti pandangan Imam Syafi’i dalam qaul qadimnya yang mnganggap perintah umar dan pendapat Ibnu Abbas tentang buah zaitun sebagai ijma’ karena tidak ada sahabat lainyang menentangnya.Sedangkanqaul qadimnya Imam Syafi’i menganggap bahwa tidak adanya bantahan sahabat lain pada Umar bukan berarti mereka sepakat dengan apa yang disampikan oleh Umar, akan tetapi itu merupakan sesuatu bentuk dari kepatuhan para sahabat kepada Umar selaku penguasa.
  3. Perbedaan asal atau illat pada qiyas yang digunakan. Seperti yang terdapat dalam qaul qadim Imam Syafi’i yang menqiyaskan rujuk pada nikah, sehingga orang yang ingin merujuk harus mendatangkan saksi seperti halnya dalam nikah. Tetapi dalam qaul jadidnya rujuk diqiyaskan pada jual beli sehingga tidak wajib mendatangkan saksi. Juga seperti wajibnya zakat dari sebuah zaitun yang diqiyaskan pada buah buahan yang wajib di zakati dengan illat sama-smsa makanan dan bisa tahan lama. Tapi pada qaul jadidnya beliau menjelaskan bahwa illat dari wajibnmya zakat dari buah-buahan adalah makanan pokok, oleh karena itu sebuah zaitun tidak di kenakan zakat lagi.
  4. Perbedaan pandangan terhadap kedudukan qaulu as-shahabi. Seperti yang terdapat dalam qaul qadim yang mengaitkan wajibnya zakat buah zaitun karena didasarkan pada pendapat Umar Ra. Yakni qaulu as-shahabi yang ketika itu di pandangnya sebagai hujjah akan tetapi pandangan itu berubah pada qaul jadid yang mengatakan bahwa qaulu as-shahabi tidak dapat dijadikan landasan hukum[3].
  5. Kondisi objektif dari keadaan masyarakat. Dari beberapa contah yang disebutkan di depan dapat kita ketahui bahwa dalam parubahan dari qaul qadim ke qaul jadid, Imam Syafi’i selalu berpegang teguh pada metode dan kaidah-kaidah yang dirumuskan didalam ushul fiqh. Meskipun fatwa-fatwa Imam Syafi’i ada yang berubah dari qaul jadid ke qaul qadim, namun perubahan fatwa tersebut tetap disertai dengan dalil, dan adanya perbedadan tersebut terjadi karena dalil yang di gunakan pada qaul qadim berbeda dengan dalil yang digunakan pada qaul jadid, atau karena ada perbedaan sudut pandangterhadap dalil yang sama (wajhu al-istidlal).
  6. Qaul Qadim dan Qaul Jadid dalam perkembangan Fiqh Syafi’iyah.
Baca Juga :   Nama-nama Bayi yang Diharamkan Dalam Islam, Tapi Jarang Diketahui

Fatwa-fatwa Imam Syafi’i baik yang ia fatwakan ketika berada di Baghdad ataupun di Mesir memiliki daya tarik yang sangat besar, terbukti dengan semakin banyaknya pelajar yang berguru pada Imam Syafi’i. Antara Imam Syafi’i terjalin hubungan sosial yang sangat baik sehingga dengan sendirinya mereka mengikuti metodologi ijtihad imam Syafi’i, dan mereka menganut ajaran Imam Syafi’i.

Pada masa awal perkembangan fatwa Imam Syafi’i terbagi pada dua tempat, dengan corak yang berbeda, yakni di Baghdad yang dikenal dengan qaul qadim, dan di Mesir yang dikenla dengan qaul jadid. Namun hal ini tidak berlangsung lama karena para perawi qaul qadim dan perawi qaul jadid melakukanperjalanan (rihlah) ke kota-kota lain, sehingga antara para perawi qaul jadid dan qaul qadim terjadi kontrak dan menghasilkan perbedaan antara qaul qadim dan qaul jadid pada generasi berikutnya. Sehingga membentuk suatu himpunan mazhabSyafi’i yang sangat besar. Dengan adanya perbedaan antara qaul qadim dan qaul jadid maka dalam mazhabSyafi’i  memiliki khazanah yang sangat berharga dalam kajian. Tapi hal ini justru menyulitkan dalam dunia fatwa yang menghendaki dunia hukum. Oleh karena itu harus ada pentarjihan antara qaul qadim dan qaul jadid, dan memilih pendapat yang lebih kuat diantara keduanya[4].

Baca Juga :   Kisah Nabi Muhammad Membelah Bulan.

Secara umum, menurut Imam nawawi qaul jadidlah yang harus diamalkan karena qaul jadid ini lebih shahih dan dianggap syah sebagai mazhabSyafi’i, karena pada prinsipnya semua fatwa-fatwa qaul qadim yang bertentangan dengan qaul jadid telah ditinggalkan. Itulah sebabnya, kitab-kitab yang ditulis pada penyarinagn, selalu memuat qaul jaded dan dilengkapi dengan dali-dalil yang menjadi pendukungnya, sedangkakn qaul qadim dibuat hanya sebagai perbandingan dalam kajian.

images (1)

Namun sesuai dengan apa yang disampaikan Imam Syafi’i, para shahabat dan pengikut Imam Syafi’i terus melakukan ijtihad. Hal ini dilakukan untuk memproyeksikanfatwa-fatwa qaul jadid, dan peninjauan kembali terhadap dalil-dalil dan wajhu al-istidlal yang mendukungnya. Dalam hal ini mereka para shahabat dan pengikut Imam Syafi’i melakukan penelitian terhadap al-Sunnah-al-Sunnah yang semakain mudah didapat. Melalui hal ini mereka menemukan fatwa-fatwa qaul qadim yang ternyata lebih kuat dari pada qaul jadid sehingga mereka mengambilnya kembali dan diletakkan pada fatwa-fatwa berikutnya.

Imam Haramain mengatkan bahwa fatwa-fatwa para shahabat Imam Syafi’i yang sesuai dengan qaul qadim harus dipandang sebagai hasil ijtihad mereka sendiri, tidak harus dinisbatkan pada Imam Syafi’i. Sejalan dengan yang disampaikan ImamHaramain Abu Amr (ibnu al-sholah) mengatkan, tindakan para shahabat dan para pengikut Imam Syafi’i memilih qaul qadim sama halnya dengan memilih fatwa dari luar mazhabSyafi’i sehingga orang yang bertaqlid pada Imam Syafi’i tidak boleh mengikuti qaul qadim tersebut. Namun Imam nawawi mengatakan bahwa hal ini berlaku pada qaul qadim yang bertentangan dengan qaul jadid. Adapun qaul qadim yang tidak bertentangan dengan qaul jadid, dan ada dalil yang mendukungnya maka qaul qadim itu termasuk pada mazhabImam Syafi’i.

referensi:

[1] Ar-Risalah (Al-Qadimah) ini seperti Ar-Risalah (Al-Jadidah) yang kemudian disebut dengan kitab ushul fiqh. Yang memuat kaidah-kaidah yang secara taat asas diaplikasikan oleh Imam Syafi’i dalam ijtihadnya. Setelah berada di Mesir as-Syafi’i kembali menulis kitab ar-risalah (al-jadidah) yang dikanal dan beredar sampai sekarang.

[2] Husayn ahmad amin’s, Seratus  Tokoh Dalam Sejarah Islam. Bandung. PT. Remaja Rosda karya: 2013 P.67

[3] Dr lahmuddin nasution, Perbaruan Hokum Islam Dalam Mazhab Syaf’i’i P.20

[4] Ibid, P.226