Bagaimanakah Hukum Belajar Haid, Nifas Dan Istihadah? Inilah Penjelasnya.

wanita-haid-ilustrasi-_140919223141-553

TAMHID

congkop.xyz. Sebelum membahas hal-hal yang berkenaan dengan haid, nifas dan istiẖâđah, perlu dijelaskan hal-hal yang berhubungan dengan tema ini dalam tamhid (pendahuluan) ini yaitu sebagai berikut:

HUKUM BELAJAR HAID, NIFAS ISTIHÂĐAH

Adapun hukum mempelajari ilmu yang berkenaan dengan darah perempuan, ulama’ terdahulu telah membahas dalam tulisan-tulisannya secara terperinci namun di sini penulis akan membagi menjadi tiga hukum yaitu:

  1. Apabila perempuan tersebut belum menikah, maka ia wajib belajar sendiri tentang haid dan nifas.
  2. Apabila perempuan tersebut sudah menikah dan suaminya mengerti tentang haid, nifas dan istiẖâđah, maka ia wajib mengajari istrinya.
  3. Apabila perempuan tersebut sudah bersuami dan suaminya tidak  mengerti tentang haid, nifas dan istiẖâđah, maka perempuan tersebut wajib keluar rumah untuk bertanya kepada orang yang mengerti, dan suaminya tidak boleh melarangnya kecuali suaminya yang belajar kemudian mengajarkan kepada istrinya, maka sang suami boleh melarangnya untuk keluar rumah[1].

Wanita yang sudah besuami tidak boleh keluar rumah untuk menghadiri majlis ta’lim atau untuk belajar apapun kecuali dapat izin dari suaminya[2].

jika muslimah haid - haid dalam islam

WANITA PERTAMA KELUAR DARAH HAID

Wanita yang pertama mengalami haid yaitu ibunda kita Hawa setelah terusir dari surga  karena memetik buah Khuldi yang menjadi larangan baginya. Allah berfirman:

وَعِزَّتِيْ وَجَلَالِيْ لَأُدْمِيَنَّكِ كَمَا أَدْمَيْتِ هَذِهِ الشَّجَرَةَ

Demi kemuliyaan dan keagungan-Ku aku akan mengalirkan darahmu sebagaimana kamu mengalirkan getahnya pohon ini

Dari sanalah wanita anak cucu Adam dan Hawa mengalami pendarahan haid, nifas dan melahirkan secara turun menurun[3].

MLyXHSS-wanita-berdoajpg

DALIL-DALIL HAID

Haid merupakan ketentuan yang telah di tetapkan oleh Allah swt. bagi wanita anak cucu Adam dan Hawa seperti yang difirmankan oleh Allah swt dan disabdakan oleh Rosulullah saw:

Firman Allah swt:

وَيَسۡ‍َٔلُونَكَ عَنِ ٱلۡمَحِيضِۖ قُلۡ هُوَ أَذٗى فَٱعۡتَزِلُواْ ٱلنِّسَآءَ فِي ٱلۡمَحِيضِ وَلَا تَقۡرَبُوهُنَّ حَتَّىٰ يَطۡهُرۡنَۖ فَإِذَا تَطَهَّرۡنَ فَأۡتُوهُنَّ مِنۡ حَيۡثُ أَمَرَكُمُ ٱللَّهُۚ إِنَّ ٱللَّهَ يُحِبُّ ٱلتَّوَّٰبِينَ وَيُحِبُّ ٱلۡمُتَطَهِّرِينَ ٢٢٢

“ Mereka bertanya kepadamu tentang haid katakanlah haid itu adalah kotoran oleh karena itu  hendaklah kamu menjauhkan diri wanita di waktu haid dan janganlah kamu mendekati mereka sebelum mereka suci, campurilah mereka ditempat yang di perintahkan Allah kepadamu sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang taubat dan menyukai orang-orang yang mensucikan diri (Q.S. Al-Baqarah 222)”

Sabda Rasulullah saw:

حَدَّثَنِىْ سُلَيْمَانُ بْنُ عُبَيْدِ اللهِ أَبُوْ أَيُّوْبَ اَلْغِيْلَانِى حَدَّثَنَا أَبُوْ عَامِرٍ عَبْدُ الْمَلِكِ بْنُ عَمْرٍو حَدَّثَنَا عَبْدُ الْعَزِيْزِ بْنُ أَبِى سَلَمَةَ اَلْمَاجُشُونَ عَنْ عَبْدِ الَّرحْمنِ بْنِ الْقَاسِمِ عَنْ أَبِيْهِ عَنْ عَائِشَةَ – رَضِىَ اللهُ عَنْهَا – قَالَتْ خَرَجْنَا مَعَ رَسُولِ اللهِ -صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ- لَا نَذْكُرُ إِلّا الحْجَّ حَتَّى جِئْنَا سَرِفَ فَطَمِثْتُ فَدَخَل عَلَى رَسُولُ الله -صلى الله عليه وسلم- وَأَنَا أَبْكِى فَقَالَ « مَا يَبْكِيْكِ ». فَقُلْتُ وَاللهِ لَوُدِدْتُ أَنِّى لَمْ أَكُنْ خَرَجْتُ الْعَامَ قَالَ « مَا لَكِ لَعَلَّكِ نَفَسْتِ ». قُلْتُ نَعَمْ. قَالَ « هَذَا شَيْءٌ كَتَبَهُ اللهُ عَلَى بَنَاتِ آدَمَ اِفْعَلِىْ مَا يَفْعَلُ الْحَاجَّ غَيْرَ أَنْ لَا تَطُوْفِى بِالْبَيْتِ حَتَّى تَطْهُرِى» ( رواه مسلم)[4]

“Menceritakan kepada kami Sulaimân Bin ‘Ubaidillah Abû Ayûb al-Ghilany (berkata)menceritakan kepada kami Abu Amir Abdul Malik Bin Amr (berkata) menceritakan kepada kami Abdul Azîz Bin Abî Salamah Al-Majusyun dari Abdurrahman bin Qâsyim dari bapaknya dari Aisyah r.a.  ia berkata: kami keluar bersama Rasulullah saw. Kami tidak ingat kecuali haji, sampai kami di Sarif[5]saya haid kemudian Rasulullah saw. masuk (menemui ) saya dan saya sedang menangis, Rasulullah bersabda: apa yang membuatmu menangis? Saya berkata: demi Allah saya ingin tidak keluar (haji) tahun ini, Rasullah saw. Bersabda: apa yang terjadi padamu, mungkin kamu haid? Saya berkata: ia!! Rasulullah saw. bersabda: Haid ini merupakan sesuatu yang telah di takdirkan Allah atas wanita anak cucu Adam. Lakukanlah apa yang dilakukan oleh para haji dengan syarat engkau tidak boleh melakukan thawaf sebelum engkau suci (dari haid) (H.R. Muslim)” 

referensi:

[1] Muhammad Ibn Muhammad al-Khoţȋb, Muġnî Al-Muẖtâj, jilid 1 (al-Qâhirah: al-Maktabah at-Taufȋqiyah, t.t), h 246// Muhammad Ibn Abȋ al-Abbas Ahmad Bin Hamzah ar-Ramlî, Nihâyah al-Muẖtâj, jilid 1 (al-Qâhirah: al-Maktabah at-Taufȋqiyah, 2012) h. 577// Ibrohim al-Bâjurȋ, Hasyayah al-Bâjŭrî Ala Ibni Qâsim, jilid I, (Surabaya: Dâr ‘ulum, t.t), h,113.

[2] Sang suami diharapkan bermurah hati di masalah ini apalagi kalau kita mengingat zaman sekarang ini, supaya para istri tidak terjerumus kedosa yang mereka anggap adalah pekerjaan yang mulia. Apalagi kalau kita sebagai suami tidak sempat untuk mengajari istri kita, kalau kita sempat dan bisa mungkin lebih baik kita ajari sendiri.

[3] Muhammad Ibn Muhammad al-Khoţȋb, Muġnî Al-Muẖtâj, jilid 1 (al-Qâhirah: al-Maktabah at-Taufȋqiyah, t.t), h 225// Muhammad Ibn Abȋ al-Abbas Ahmad Bin Hamzah ar-Ramlî, Nihâyah al-Muẖtâj, jilid 1 (al-Qâhirah: al-Maktabah at-Taufȋqiyah, 2012) h. 523// Nŭru ad-Dȋn ‘Alȋ Ibn ‘Alȋ as-Syibramullisȋ, Hasyiyah Abȋ ađ-Điyâ’ , jilid 1 (al-Qâhirah: al-Maktabah at-Taufȋqiyah, 2012) h. 523// Sulaimân Al-Bujairimî, Bujairimî  Alâ al-Khâtib,  jilid 1 (Bairut: Dâr al -Fikr 2007),  h. 337.

[4] Abû al-Husain bin Muslim bin Hajjaj bin Muslim al-Qusyairî an-Naisaburi, Shahîh Muslim, Juz IV, (Bairut: Dâr al-Jiyal, t.t.), h, 30

[5] Tempat antara Makkah dan Madinah