Apa saja Hukum Berwudhu’? Baca Penjelasan Ini

     wudhu

Wudhu’ memiliki beberapa hukum yaitu, wajib, sunnah, makruh dan haram. Adapun perinciannya sebagai berikut:

  1. Wajib : Ketika berkehendak melaksanakan seupama shalat, semisal berkeinginan untuk thawaf dan menyentuh mushaf.
  2. Sunnah, semisal :
  • Memperbarui wudhu’ setelah wudhu’nya sudah digunakan melaksanakan shalat, walaupun shalat jenazah.
  • Mandi karena junub dan sunnah mendahulukan wudhu’nya.
  • Bagi orang junub ketika hendak makan, minum dan tidur.
  • Begitupula sunnah bagi perempuan yang haid atau nifas ketika hendak makan, minum dan tidur.
  • Ketika orang yang junub hendak menjima’ istrinya atau budaknya.
  • Ketika orang yang hadas hendak tidur.
  • Ketika sedang marah.
  • Bagi orang yang menyentuh mayat dan memandikannya.
  • Disaat akan membaca al-Qur’an, hadist dan mendengarkannya.
  • Disaat akan mengumandangkan adzan, iqomah dan membaca dzikir, begitupula disaat akan membawa dan membaca kitab tafsir yang didalamnya terdapat ayat al-Qur’an. Dan masih banyak yang lain.

wudhusempurna-yesmuslimblogspot

Catatan :

  • Hukumnya sunnah melanggengkan wudhu’.
  • Berniat dengan niat yang sudah ditentukan (mu’tabaroh) semisal berniat untuk menghilangkan hadas, tidak boleh niat dengan sebab yang dialaminya semisal “saya berniat wudhu’ karena sedang dalam keadaan marah”. Kecuali dalam dua hal yaitu:
    1. Berniat wudhu’ karana memperbarui wudhu’nya.
    2. Berniat wudhu’ karena untuk melaksanan kesunnahan mandi dari junub ketika ia tidak sedang dalam keadaan hadas kecil.
  1. Makruh memperbarui wudhu’ jika wudhu’nya belum digunakan untuk shalat.
  2. Haram berwudhu’ disaat dirinya sedang teru-menerus keluar darah haid dan nifas, karena termasuk melakukan ibadah yang tidak dianggap-anggap oleh syariat (at-talbbus bil ibadah al fasidah).

Keutamaan-Wudhu

Syarat-syarat Wudhu’

Syarat-syarat wudhu’ adalah sebagai berikut:

  • Islam, maka wudhu’ orang kafir tidak sah.
  • Tamyiz, maksudnya dapat membedakan hal yang baik dan buruk, sehingga wudhu’nya orang mabuk, gila dan anak kecil yang tidak tamyiz, hukumnya tidak sah.
  • Mengetahui tehnis pelaksanaan wudhu’, sekiranya ia tidak menganggap pekerjaan yang wajib itu sunnah.
  • Kepastian dirinya hadas, sehingga jika ada seseorang meragukan hadasnya sesudah berwudhu’, maka keraguan tersebut tidak berpengaruh apa-apa (tetap dianggap orang yang mempunyai wudhu’). Jika orang yang ragu tersebut tetap mengambil wudhu’, dan pada kenyataannya ia tidak hadas, maka wudhu’ yang nomer dua tidak sah namun wudhu’ yang pertamalah yang sah.
  • Menggunakan air yang mutlak yaitu air suci mensucikan.
  • Tidak ada penghalang sampainya air ke kulit, semisal tidak terdapat tahi mata, kotoran didalam kuku dan lilin.
  • Melanggengkan niat sampai selesai wudhu’, sekiranya disetiap membasuh dan mengusap dimaksudkan wudhu’.
  • Tidak menggantungkan niat wudhu’ semisal “saya berniat wudhu’ jika Allah berkehendak (نَوَيْتُ اْلوُضُوْءَ اِنْ شَاءَ اللهُ)”.

wu

Selain syarat wudhu’ diatas terdapat tambahan bagi orang yang selalu hadas.

  • Berwudhu’ setelah masuk waktu shalat bagi yang langgeng hadas.
  • Istinja’ setelah masuk waktu shalat bagi yang langgeng hadas.
  • Setelah istinja’ membungkus atau menyubatn penis atau vaginanya dengan semacam plastik dan kapas bagi yang langgeng hadas. Hal ini jika tidak membahayakan.
  • Bersegara diantara istanja’ dengan membungkus penis dan bersegera diantara istinja’ dengan menyumbat vagina, dan bersegara diantara pembungkusan/ penyumbatan dengan wudhu’, dan bersegara diantara wudhu’ dengan shalat.