Ummat Islam Harus Menegakkan Syariat Islam Karena Orang Kafir Tidak Akan Menegakkannya

images

Al-Qur’an adalah pedoman bagi ummat islam. Terkait surat al-Maidah, Allah Ta’ala berulang kali mengingatkan hamba-Nya untuk menegakkan syariat Islam secara menyeluruh. Karena itu, Ketika menafsirkan surat tersebut, Sayyid Qutub mengawalinya dengan menjelaskan intisari surat tersebut.

“Al-Quran karim diturunkan ke dalam hati Rasulullah, sebagai petunjuk untuk membangun umat, menegakkan daulah, mengatur masyarakat serta membina hati nurani, akhlak dan akal pikiran.” demikian tulis Sayyid Qutub dalam Tafsir Fi Dzilalil Qur’an.”

“Selain itu, Al-Qur’an juga diturunkan untuk mengatur atau membingkai batas-batas hubungan masyarakat antar sesama mereka, hubungan satu negara dengan negara lainnya, hubungan satu bangsa dengan bangsa lainnya. Mengikat bingkai-bingkai tersebut menjadi satu ikatan kuat, menghimpun yang terpisah, mempersatukan bagian-bagiannya dan mengikat semuanya pada satu sumber, satu kekuasaan dan satu arah tujuan dan itulah yang disebut dengan agama (ad-din) dalam arti kata yang sebenarnya di sisi Allah.”

Al-Maidah Seruan Penegakan Hukum Allah

Sebelum membicarakan Al-Maidah 51, Allah ta’ala telah berulang kali mengingatkan tentang kewajiban penegakkan hukum syariat atas seluruh umat manusia. Mulai dari bentuk seruan yang ditujukan kepada orang beriman, motivasi dengan menyebutkan keunggulan hukum Islam, hingga ungkapan dalam bentuk ancaman.

Tiga ayat sebelum al-Maidah 51 misalnya. Sebelum mengharamkan pengangkatan orang kafir sebagai pemimpin, dengan tegas Allah Ta’ala perintahkan kepada nabi-Nya untuk menegakkan hukum Allah serta meninggalkan segala macam bentuk pendapat yang bersumber dari hawa nafsu manusia. Firman-Nya:

وَأَنْزَلْنَا إِلَيْكَ الْكِتَابَ بِالْحَقِّ مُصَدِّقًا لِمَا بَيْنَ يَدَيْهِ مِنَ الْكِتَابِ وَمُهَيْمِنًا عَلَيْهِ فَاحْكُمْ بَيْنَهُمْ بِمَا أَنْزَلَ اللَّهُ وَلا تَتَّبِعْ أَهْوَاءَهُمْ عَمَّا جَاءَكَ مِنَ الْحَقِّ

“Dan Kami telah turunkan kepadamu Al Qur’an dengan membawa kebenaran, membenarkan apa yang sebelumnya, yaitu kitab-kitab (yang diturunkan sebelumnya) dan batu ujian terhadap kitab-kitab yang lain itu; maka putuskanlah perkara mereka menurut apa yang Allah turunkan dan janganlah kamu mengikuti hawa nafsu mereka dengan meninggalkan kebenaran yang telah datang kepadamu…” (QS. Al-Maidah: 48)

Ibnu Katsir menuturkan bahwa maksud ayat ini adalah, “Hai muhammad putuskanlah perkara di antara manusia, baik yang arab maupun yang non arab (‘ajam), baik yang buta huruf maupun yang pandai baca tulis, dengan apa yang diturunkan oleh Allah kepadamu di dalam Al-Qur’an yang agung ini.”

“Dan janganlah kamu mengikuti hawa nafsu mereka, yaitu pendapat-pendapat mereka yang mereka beri istilah sendiri dan karena itu mereka meninggalkan apa yang diturunkan oleh Allah kepada rasul-Nya.” Lanjut Ibnu Katsir.

karena itulah dalam ayat berikutnya Allah kembali tegaskan dengan ayat, “Dan janganlah kamu mengikuti hawa nafsu mereka dengan meninggalkan kebenaran yang telah datang kepadamu.

Berkenaan dengan asbabun nuzul ayat ini, dalam tafsirnya, Ibnu katsir menukil sebuah riwayat dari Ibnu Abbas, di mana ia menceritakan bahwa ka’ab Ibnu Asad, Ibnu Saluba, Abdullah Ibnu Suria dan Syas Ibnu Qois, sebagian dari mereka berkata kepada sebagian yang lain, “Marilah kita menghadap Muhammad, barangkali saja kita dapat memalingkan dia dari agamanya.”

lalu mereka datang kepada Nabi sallallahu ‘alaihi wasallam dan berkata, “Hai muhammad sesungguhnya kamu mengetahui sesungguhnya kami adalah rahib-rahib yahudi, orang yang terhormat di antara mereka dan pemuka-pemuka merekaJika kami mengikutimu, niscaya orang-orang yahudi juga akan mengikutimu dan tidak menentang kami.

Sekarang telah terjadi suatu perselisihan antara kami dan kaum kami, maka kami serahkan keputusan ini kepadamu, maka putuskanlah untuk kemenangan kami atas mereka, lalu kami mau beriman kepadamu dan membenarkanmu.” Tapi Rasulullah menolak tawaran tersebut, lalu Allah menurunkan firman-Nya berkenaan dengan mereka;

Dan hendaklah kamu memutuskan perkara di antara mereka menurut apa yang diturunkan Allah, dan janganlah kamu mengikuti hawa nafsu mereka. Dan berhati-hatilah kamu terhadap mereka, supaya mereka tidak memalingkan kamu dari sebagian apa yang telah diturunkan Allah kepadamu. Jika mereka berpaling (dari hukum yang telah diturunkan Allah), maka ketahuilah bahwa sesungguhnya Allah menghendaki akan menimpakan musibah kepada mereka disebabkan sebagian dosa-dosa mereka. Dan sesungguhnya kebanyakan manusia adalah orang-orang yang fasik.”  (QS. Al-Maidah: 49)

sumber:kiblat.net