Apa Saja Cairan Yang Keluar Dari Wanita, Baca Penjelasan Ini!!!

keputihan-wanita

CAIRAN YANG KELUAR DARI WANITA

Cairan yang keluar dari vagina perempuan diperinci sebagai berikut:

  1. Najis, cairan yang najis ada dua macam:
  1. Berupa darah, dan darah yang keluar dari vagina perempuan ada tiga macam:
  2. Darah haid, darah haid adalah darah yang keluar dari farji /kemaluan seorang perempuan setelah umur 9 tahun, dalam keadaan sehat (bukan karena penyakit), sebagai kodrat wanita, dan bukan setelah melahirkan[1].
  3. Darah nifas, darah nifas adalah adalah darah yang keluar setelah melahirkan. Walau hanya berupa segumpal darah atau gumpalan daging, dengan syarat selagi tidak dipisah suci selama 15 hari[2].
  4. Darah istiẖâđah, darah istiẖâđah adalah darah yang keluar dari rahim wanita selain haid dan nifas. Darah istiẖâđah adalah darah yang keluar dari pangkal bawah rahim wanita dan merupakan darah penyakit[3].
  5. Bukan berupa darah, dan cairan (selain darah) yang keluar dari vagina perempuan (hukumnya najis) ada empat macam:
  6. Air seni atau kencing[4].
  7. Maży, Maży adalah cairan yang berwarna putih yang keluar dari kemaluan ketika tegangnya syahwat[5].
  8. Wady, Wady adalah cairan yang berwarna putih, kental serta keruh yang keluar dari kemaluan setelah air kencing atau keluar ketika membawa sesuatu yang berat[6].
  9. Air ketuban, air ketuban adalah air yang keluar sebelum melahirkan air tersebut keluar secara tiba-tiba dari liang vagina dalam jumlah sedikit maupun banyak, tak dapat ditahan atau dihentikan. Warnanya putih agak keruh, mirip air kelapa muda karena bercampur dengan lanugo atau rambut halus pada janin dan mengandung verniks caseosa yaitu lemak pada kulit bayi.
  1. Suci, cairin yang najis yaitu sebagai berikut:
  1. Air Mani, air mani adalah cairan yang kental apabila basah maka baunya seperti mayang kurma, apabila kering maka baunya seperti telur. Sedangkan air mani perempuan warnanya kuning[7].
  2. Ruţŭbah al-Farj, Ruţŭbah al-Farj adalah cairan yang putih (warnanya antara Maży dan keringat).
Baca Juga :   Ketika Sedang Sakaratul Maut, Iblis Akan Menyamar Seperti Ini Agar Manusia Mati Kafir

Imam Nawâwȋ al-Bantanȋ dalam kitabnya Nihâyat al-Zain menyebutkan bahwa hukum Ruţŭbah al-Farj dibagi tiga:

  1. Suci, apabila cairan tersebut keluar dari tempat yang kelihatan ketika perempuan sedang duduk.
  2. Menurut Qoul Aşaẖ (pendapat yang benar): suci, apabila cairan tersebut keluar dari tempat yang bisa tersentuh penis laki-laki yang menjima’nya.
  3. Apabila cairan tersebut keluar dari tempat yang tidak bisa tersentuh penis laki-laki yang menjima’nya[8].

 

 

[1] Muhammad ibn Qasyim, Fathu al-Qarȋb al-Mujȋb, (Semarang: Pustaka al’alawiyah. t.t), h. 10.

[2] Ibrohim al-Bâjurȋ, Hasyayah al-Bâjŭrî Ala Ibni Qâsim, jilid I, (Surabaya: Dâr ‘ulum, t.t), h. 109.

[3]. Ibrohim al-Bâjurȋ, Hasyayah al-Bâjŭrî Ala Ibni Qâsim, jilid I, (Surabaya: Dâr ‘ulum, t.t), h. 109.

[4] Abŭ Isẖâq al-Zairâzȋ, al-Muhaddab, jilid I, (t.t: Dâr al-Kutub al-Ilmiyah. t.t), h. 91. Rasullullah Bersabda: تنزهوا من البول فإن عامة عذاب القبر منه  artinya: “Bersucilah kalian dari air kencing karena kebanyakan siksa kubur gara-gara air kencing” (HR. Ibn Mâjah). Semua air kencing hukumnya najis kecuali air kencinya Rasulullah, maka hukumnya suci karena ummu aiman pernah meminum kencingnya Rasulullah dan Rasulullah tidak menegurnya. (al-Wasȋţ Fi al-Madzhab, Jilid I, h. 152).

Baca Juga :   Waspada, Inilah Ciri-ciri Gangguan Jin yang Bisa Merusak Hubungan Suami-Istri

[5] Muhammad ibn Umar al-Nawawȋ, Nihâyat al-Zain, (Surabaya: Al-Hadayah, t.t), h. 40. Di dalam kitab I’ânah al-Ţâlibȋn (Bairut: Dâr ‘Aşşâşah, jilid I, h. 100) disebutkan bahwa Maży pada waktu musin hujan berwarna putih kental dan pada waktu musin kemarau berwarna kuning, dan kebanyakan terjadi pada perempuan.

[6] Muhammad ibn Umar al-Nawawȋ, Nihâyat al-Zain, (Surabaya: Al-Hadayah, t.t), h. 40

[7] Yahyâ ibn Abȋ al-Khoir, al-Bayân Fȋ Madzhab al-Imâm al-syâfi’ȋ, Jilid 1 (Jiddah: Dâr al-Minhâj, 2000), Cet I, h. 214.  Sedangkan menurut Imam Ghazali mani perempuan cuma bisa diketahui dengan perasaan enak ketika keluar. Dan menurut ibn Sholah bisa diketahui dengan perasaan enak dan berbau. (al-Iqnâ’).

[8] Muhammad ibn Umar al-Nawawȋ, Nihâyat al-Zain, (Surabaya: Al-Hadayah, t.t), h. 40.