6 Penyusun Hadist Pilihan dan Sang Amirul Mukminin Filhadits

bu

congkop.xyz. Abad ketiga Hijriyah merupakan kurun waktu terbaik untuk menyusun atau menghimpun hadits-hadits Rasulullah saw. dari penjuru dunia. Di kurun masa inilah hidup enam penghimpun utama dari hadist-hadist soheh, yaitu Imam Bukhari, Imam Muslim, Imam Abu Dawud, Imam Tirmidzi, Imam Nasa’i, dan Imam lbnu majah’. Sebenarnya, ada banyak Sekali tokoh Islam penghimpun dan penyusun hadits, tapi yang paling termasyhur dan dikenal adalah yang disebut tadi.

Adapun urutan pertama yang paling terkenal di antara enam tokoh tersebut di atas adalah Imam Bukhari yang bergelar amirulmukmininn filhadits (pemimpin orang mukmin dalam hadits), suatu gelar ahli hadits yang tertinggi.

 

Nama Iengkapnya adalah Abu Abdullah Muhammad bin Ismail bin Ibrahim bin aI-Mughirah bin Bardizbah. Beliau kemudian lebih terkenal dengan sebutan Imam Bukhari, karena dilahirkan di kota Bukhara. Imam Bukhari lahir pada tanggal 13 Syawwal 194 H (21 Juli 810 M) sebagai cucu dari seorang Persia. Kakeknya, Bardizbah, adalah pemeluk agama Majusi, agama kaumnya. Kemudian, putranya (ayah Imam Bukhari) yang bernama Ismail al-Mughirah memeluk Islam di bawah bimbingan AI-Yaman al Ja’fi, gubernur Bukhara. Pada masa itu, Wala dinisbahkan kepadanya sehingga is dikatakan “al-Mughirah al-Jafi”.

ii1

Mengenai kakeknya, Ibrahim,tidak terdapat data yang menjelaskan riwayat hidupnya. Sedangkan, mengenai ayahnya, Ismail, merupakan seorang ulama besar ahli hadits. la belajar hadits dari Hammad bin Zayd dan Imam Malik. Riwayat hidupnya telah dipaparkan oleh lbnu Hibban dalam kitab As-Siqat. Begitu juga putranya, Imam Bukhari, turut membuat biografi ayahnya dalam At-Tarikh al-Kabir. Selain sebagai seorang cendekiawan, Ismail al-Mughirah juga merupakan insan yang sangat wara’ (menghindari segala yang subhat serta haram) dan bertakwa.

Baca Juga :   Inilah Hukumnya Solat Malam Hanya Pada Malam Jumat

Diceritakan, ketika menjelang wafat, Ismail berkata, Dalam harta yang kumiliki, tidak terdapat sedikit pun uang yang haram maupun subhat.” Dengan demikian, jelaslah bahwa Bukhari kecil hidup dan terlahir dalam sebuah lingkungan keluarga yang berilmu, taat beragama, dan wara’. Tidak heran jika mewarisi sifat-sifat mulia dari ayahnya itu. Ayahnya meninggal saat Bukhari masih kecil dan meninggalkan banyak harta, sehingga memungkinkan Bukhari hidup dalam pertumbuhan dan perkembangan yang terjamin.

Akhirnya, Bukhari dirawat dan dididik oleh ibunya dengan tekun serta penuh perhatian. la dilahirkan di Bukhara setelah shalat Jum’at. Tak lama setelah bayi yang baru lahir itu membuka matanya, sang bayi Iangsung kehilangan penglihatan. Ayahnya sangat bersedih hati menjumpai cobaan ini. Ibunya yang shalihah selalu menangis dan berdoa ke hadapan Tuhan, memohon agar bayinya bisa melihat. Kemudian, dalam tidurnya, perempuan itu bermimpi didatangi Nabi Ibrahim As. yang berkata, “Wahai lbu, Allah telah menyembuhkan penyakit putramu dan kini ia sudah dapat melihat kembali. Semua itu berkat doamu yang tiada henti-hentinya.” Alhamdulillah, ketika ia terbangun, penglihatan bayinya sudah kembali normal.

Keunggulan dan kejeniusan Bukhari sudah tampak sejak is masih kecil. Allah Swt. telah menganugerahkan kepadanya hati yang cerdas, pikiran yang tajam, dan daya hafalan yang sangat kuat dan teristimewa dalam menghafal hadits.

Baca Juga :   Bank Syariah Sama Saja Dengan Bank Konvensional, Benarkah?

Ketika baru berusia sepuluh tahun, ia sudah banyak menghafal hadits. Pada usia 16 tahun, ia bersama ibu dan kakak sulungnya berkeliling mengunjungi berbagai kota suci. Kemudian, ia banyak menemui ulama maupun tokoh di negerinya untuk memperoleh dan belajar hadits, bertukar pikiran, serta berdiskusi. Dalam usia 16 tahun, ia sudah hafal kitab Sunan Ibnu Mubarak dan  Waki’ juga mengetahui pendapat-pendapat ahli raiyi (penganut paham rasional), dasar-dasar, dan madzhabnya.(dari buku 100 muslim paling berpengaruh di dunia)