Mubtadiah Mumayyizah, Mubtadiah Ġairu Mumayyizah Dalam Haid

h1

Pengertian Istiẖâđah Dalam Haid

Menurut bahasa istiẖâđah berarti mengalir, adapun menurut istilah Ulama’ Fikih adalah darah yang keluar dari rahim wanita selain haid dan nifas. Darah istiẖâđah adalah darah yang keluar dari pangkal bawah rahim wanita dan merupakan darah penyakit[1].

Dari pengertian istiẖâđah di atas penulis akan memberikan beberapa contoh yang termasuk darah istiẖâđah, yaitu :

  • Darah yang keluar sebelum umur sembilan tahun.
  • Darah yang keluar tidak sampai 24 jam.
  • Darah yang keluar setelah haid sebelum diselingi 15 hari dan bukan bagian haid dari sebelumnya.
  • Darah yang keluar bersama bayi dan tidak bersambung dengan haid sebelumnya.
  • Darah yang keluar lebih 15 hari dalam haid atau darah yang keluar lebih 60 hari dalam nifas.[2]

Penyebutan istilah darah istiẖâđah dalam kitab-kitab fikih biasanya  hanya dimaksudkan pada darah istiẖâđah yang melebihi batas maksimal haid atau nifas, adapun darah istiẖâđah selain dari itu biasanya di sebut darah Fasâd[3].

Cara Membedakan Darah Haid Dan Istiẖâđah

Darah yang keluar melebihi batas maksimal haid atau nifas di dalamnya terdapat darah istiẖâđah yang harus dibedakan dengan haid atau nifasnya. Jadi bukan berarti batas maksimal haid atau nifasnya langsung dihukumi haid atau nifas secara keseluruhan, dan lebihnya adalah darah istiẖâđah. Disini akan penulis ulas cara-cara untuk membedakan darah istiẖâđah baik dengan haid atau nifas.

hii

Macam-Macam Istiẖâđah

Untuk bisa mengetahui dan membedakan antara darah haid dengan istiẖâđah harus diketahui terlebih dahulu tujuh keadaan bagi orang yang sedang mengalami istiẖâđah yaitu :

  1. Mubtadiah Mumayyizah
  2. Mubtadiah Ġairu Mumayyizah
  3. Mu’tâdah Mumayyizah
  4. Mu’tâdah Ġairu Mumayyizah Żâkirah Li ‘Adâtihâ Qadran Wa Waktan
  5. Mu’tâdah Ġairu Mumayyizah Żâkirah Li ‘Adâtihâ Qadran Lâ Waktan
  6. Mu’tâdah Ġairu Mumayyizah Żâkirah Li ‘Adâtihâ Waktan Lâ Qadran
  7. Mu’tâdah Ġairu Mumayyizah Nâsiyah Li ‘Adâtihâ Qadran Wa Waktan (Mutahayyirah)[4]

Tujuh keadaan ini mempunyai konsekwensi hukum tersendiri dalam menentukan antara darah haid dan darah istiẖâđah. Begitu juga, hal yang perlu kita ketahui, jika dalam kitab fikih disebut kata “bulan” secara mutlak, maka yang dimaksud adalah bulan Hijriyah (yang kadang 30 hari atau 29 hari) kecuali dalam tiga permasalahan: 1. Mubtadiah Ġairu Mumayyizah, 2. Mutahayyiroh, 3. Paling sedikitnya hamil (6 bulan), maka yang dimaksud dalam masalah ini tiga puluh hari[5].

Mubtadiah Mumayyizah

Definisi Mubtadiah Mumayyizah

Mubtadiah Mumayyizah yaitu, wanita yang pertama kali haid, langsung mengalami istiẖâđah (mengalami pendarahan lebih 15 hari) dan dia dapat membedakan darah yang keluar antara darah yang kuat dan yang lemah. Seperti suatu waktu ia melihat darah hitam dan pada waktu yang lain ia melihat darah merah.

Hukumnya Mubtadiah Mumayyizah

hukum haid dan istiẖâđahnya dikembalikan kepada perbedaan darahnya, darah yang kuat dihukumi haid dan darah yang lemah dihukumi istiẖâđah baik darah kuat di awal bulan, pertengan bulan atau akhir bulan. Hal ini apabila memenuhi empat syarat sebagai berikut:

  • Darah kuat tidak kurang dari 24 jam (paling sedikit haid).
  • Darah kuat tidak lebih dari 15 hari (paling banyaknya haid).
  • Darah lemah tidak kurang dari 15 hari (paling sedikitnya suci).
Baca Juga :   Sering Depresi dan Stres, Rapper Terkenal Ini Temukan Ketenangan Dalam Islam

Dalam syarat yang ketiga ini hanya berlaku pada wanita yang mengeluarkan darah secara terus menerus (darah lemah diapit oleh dua darah kuat) dan ini merupakan pendapat Imam Zayyadi (Bujairimî Alâ alKhâtib 346/Hâsyiyah al-Jamâl 249/Hawâsyi Syarwâni 401).

  • Darah lemah harus berturut-turut atau bersambung tanpa dipisah darah kuat[6]. Darah lemah yang dipisah dengan bersihnya darah tetap dianggap bersambung[7].

Apabila tidak memenuhi empat syarat ini, maka hukumnya sama dengan Mubtadiah Ġairu Mumayyizah (bagian kedua) yaitu yang dihukumi haid Cuma 24 jam mulai dari keluarnya darah.

Bersucinya Mubtadiah Mumayyizah

  1. Pada bulan atau putaran pertama diharuskan mandi[8] dan mengganti shalatnya selama mengeluarkan darah lemah setelah darah yang keluar genap 15 hari.
  2. Pada pada bulan atau putaran kedua dan selanjutnya diwajibkan mandi dan mengerjakan shalatnya setelah darah yang keluar berganti darah lemah[9], dan apabila darahnya putus sebelum 15 hari, maka wajib mandi lagi karena darah yang tidak lebih dari 15 semuanya dihukumi haid.

Mubtadiah Ġairu Mumayyizah

 Difinisi Mubtadiah Ġairu Mumayyizah

 Mubtadiah Ġairu Mumayyizah yaitu wanita yang pertama kali haid langsung mengalami istiẖâđah (mengalami pendarahan lebih dari 15 hari) dan ia tidak dapat membedakan darahnya, baik karena darahnya satu macam, atau karena tidak mencukupi empat syarat yang ditentukan bagi Mubtadiah Mumayyizah.

 Hukumnya Mubtadiah Ġairu Mumayyizah

 Hukum haidnya hanya 24 jam dihitung sejak keluarnya darah dan sucinya 29 hari[13].

Darah yang lebih dari 24 jam dihukumi darah istiẖâđah hal ini apabila mengetahui permulaan keluarnya darah, apabila tidak mengetahui permulaan keluarnya darah, maka ia dihukumi seperti wanita “Mutaẖayyirah[14]. Dan akan dibahas dibelakang.

 Bersucinya Mubtadiah Ġairu Mumayyizah

 Pada bulan atau putaran pertama di haruskan mandi setelah darah yang keluar genap 15 hari dan mengganti shalatnya di dalam darah yang dihukumi darah Istiẖâđah.

  1. Pada bulan atau putaran kedua dan selanjutnya, di wajibkan mandi dan melaksanakn shalat setelah darah yang keluar lebih dari 24 jam[15], dan apabila darahnya putus sebelum 15 hari, Maka wajib mandi lagi karena darah yang tidak lebih dari 15 semuanya dihukumi haid.

 

Mu’tâdah Mumayyizah

Definisi Mu’tâdah Mumayyizah

Mu’tadah Mumayyizah adalah wanita yang sudah pernah haid dan suci atau sudah terbiasa haid, kemudian mengalami istiẖâđah dan ia dapat membedakan darah yang keluar yaitu antara darah kuat dan darah lemah.

Hukumnya Mu’tâdah Mumayyizah

Mu’tadah Mumayyizah ada 3 contoh yang hukumnya berbeda-beda[16]:

  1. Kebiasaan haidnya tidak sama dengan tamyiznya (darah kuatnya), Maka yang dihukumi haid adalah darah kuatnya tidak mengikuti kebiasaannya, sedangkan darah lemah dihukumi darah istiẖâđah.
  2. Kebiasaanya sama dengan tamyiznya (darah kuatnya), Maka hukum haid bisa ikut kebiasaannya juga bisa darah kuatnya, sedangkan darah lemah dihukumi darah istiẖâđah.
  3. Antara kebiasaan haid dan tamyiznya (darah kuatnya) terpisah jarak 15 hari atau lebih, maka darah lemah yang sesuai kebiasaannya dihukumi haid, dan tamyiznya juga dihukumi haid, sedangkan darah lemah selain hari kebiasaan tersebut dihukumi darah istiẖâđah.

 Bersucinya Mu’tâdah Mumayyizah

Apabila Kebiasaan haidnya tidak sama dengan tamyiznya (darah kuatnya), maka mandinya:

  1. Pada istiẖâđah pertama diharuskan mandi dan mengganti shalatnya selama mengeluarkan darah lemah setelah darah yang keluar genap 15 hari.
  2. Pada istiẖâđah kedua dan selanjutnya diwajibkan mandi dan mengerjakan shalatnya setelah darah yang keluar berganti darah lemah[17], dan apabila darahnya putus sebelum 15 hari, Maka wajib mandi lagi karena darah yang tidak lebih dari 15 semuanya dihukumi haid.
Baca Juga :   Astaghfirullah, Jangan Sampai Ucapkan Kata-Kata Ini Saat Berdoa

 

[1]. Ibrohim al-Bâjurȋ, op.cit. jilid I, h. 109.

[2] Tapi di sini ada cara-cara tertentu untuk membedakan antara darah Istiẖâđah, dengan haid atau nifas. Jadi bukan berarti 15 hari haid atau 60 hari nifas,  dan selebihnya darah Istiẖâđah. Kebanyakan orang mengira haidnya 15 hari atau nifasnya 60, hal yang seperti itu salah besar tanpa melihat macam-macam istiẖâđah.

[3] Al-mâwardî, Al-Hawî al-Kabîr, Jilid I, (Bairut: Dâr al-kutub al-‘Ilmiyah. 1999), cet ke I, h, 389.

[4] Ibrohim al-Bâjurȋ, op.cit. jilid I, h. 110/Sulaimân Al-Bujairimî, op.cit. Jilid I, h. 345/ Sulaimân Ibn ‘Umar, op.cit. h. 246.

[5] Sulaimân Al-Bujairimî, op.cit. Jilid I, h. 346.

[6] Sulaimân Al-Bujairimî, op.cit. Jilid I, h. 345/ Ibrohim al-Bâjurȋ, op.cit. jilid I, h. 110/ Muhammad Ibn Abȋ al-Abbas Ahmad Bin Hamzah ar-Ramlî, op.cit. jilid I, h. 550.

[7] Sulaimân Ibn ‘Umar, op.cit.  jilid 1, h, 249.

[8] Selama bukan darah kuat yang akan dihukumi darah haid seperti contoh yang kedua.

[9] Muhyiddȋn an-Nawawȋ, op.cit, Jilid I, h. 175/Abdul Hamîd Syarwânî & Ahmad bin Qâsyim, op.cit. h, 402.

[10] Sulaimân Al-Bujairimî, op.cit. Jilid I, h. 345./Muhammad Ibn Abȋ al-Abbas Ahmad Bin Hamzah ar-Ramlî, op.cit. jilid I, h. 551/Muhammad Ibn Muhammad al-Khoţȋb, po.cit. Jilid I, h. 235.

[11] Muhammad Ibn Abȋ al-Abbas Ahmad Bin Hamzah ar-Ramlî, op.cit. jilid I, h. 551/ Muhammad Ibn Ahmad al-Khoţȋb, po.cit. Jilid I, h. 235/ Sulaimân Ibn ‘Umar, op.cit. Jilid I, h. 248.

[12] Moh Habȋbullah ibn Ahmad Raȋs, Dalȋlu an-Nisa’, Jilid II, (Guluk-guluk Sumenep Madura: al-Is’âf, t.t) h, 8/Zakariya al-AnȘârȋ, Asnâ al-Maţâlib, Jilid I, (t.t. Dâr al-Kitâb al-Islâmiyah, t.t), h. 104.

[13] sebagian ulama’ berpendapat haidnya 6 atau 7 hari dikembalikan kepada kebiasaan haid yang normal bagi wanita secara umum, atau bisa dikembalikan kepada kebiasaan haid yang umum bagi wanita di daerahnya (lihat Nihâyah al-Muẖtâd, jilid 1 Hal: 553).

[14] Muhammad Ibn Abȋ al-Abbas Ahmad Bin Hamzah ar-Ramlî, op.cit. jilid I, h. 551-552/ Ibrohim al-Bâjurȋ, op.cit. jilid I, h. 110/ Muhammad Ibn Ahmad al-Khoţȋb, po.cit. Jilid I, h. 235.

[15] Sulaimân Ibn ‘Umar, op.cit.  jilid 1, h. 249/ Ibn Hajar al-Haitamȋ, Tuẖfatu al-Muẖtȃj, Jilid I, (al-Maktabah at-Tijariyah, t.t), h. 404/ Sulaimân Al-Bujairimî, op.cit. Jilid I, h. 346.

[16] Ibrohim al-Bâjurȋ, op.cit. jilid I, h. 111.

[17] Muhammad Ibn Abȋ al-Abbas Ahmad Bin Hamzah ar-Ramlî, op.cit. jilid I, h. 555/ Abdul Hamîd Syarwânî & Ahmad bin Qâsyim, op.cit. h. 405/ Sulaimân Ibn ‘Umar, op.cit.  jilid 1, h, 250.