Ketika Isra’ Mi’raj Adalah Peristiwa Yang Termarjinalkan

ias

            congkop.xyz. Isra’ mijra’ merupakan suatu peristiwa dimana Rosulullah menerima wahyu dari Allah SWT, waktu turunnya perintah solat, zakat, puasa dan lain sebagainya. Peristiwa itu merupakan kejadian yang luar biasa yang seandainya dihadapkan pada logika kita niscaya logika kita akan mampu dan menolaknya seperti Abu Jahal dan kawan-kawan.

            Perlu kita ketahui sosok Abu Jahal bukanlah sosok yang sangat bodoh seperti yang kita ketahui dalam sandang laqobnya. Kita bisa interpretasi lafadz tersebut dengan makna bapaknya kebodohan (red: idiot).

Abu jahal adalah sosok talenta dan tidak sebodoh yang kita anggap tapi meskipun tingkat intelegensinya tinggi tetap saja dia mashur dengan laqob Abu Jahal, dia bodoh dan tidak sadar bahwa yang diyakininya itu salah, sesat dan merugikan dirinya. Dia hanya mengedepankan emosional dari pada nuraninya. Tersesatlah dia naudzubillah min dzalik.

Lain lagi dengan Abu Bakar salah satu sahabat nabi yang terkenal dengan kejujurannya. Dalam suatu hikayatnya, diwaktu nabi sudah pulang dari isra’ mi’rajnya Abu jahal mendapati nabi tertegun dan bengong, karena  Abu Jahal menyuruh untuk mencurhatkan apa yang terjadi pada diri Rosulullah, beliaupun mencurhatkan padanya. Setelah itu abu jahal menentang dan mengajak Rosulullah untuk mencurahatkan peristiwa itu ke orang banyak.

Setelah berkumpulnya orang-orang yang dipanggil Abu Jahal Cs, mulailah Rosulullah mencurhatkan peristiwa yang dialami beliau. Tapi tidak seorangpun yang percaya pada Rosulullah kecuali Abu bakar yang pada saat itu juga hadir dan mengucapkan Sodaqtu, Sodaqtu ya Rosulullah. Pada saat itulah abu bakar menyandang gelar assiddig, sahabat yang tidak pernah bohong dan selalu jujur dan percaya pada apa yang dikatakan ataupun yang terjadi pada Rosulullah.

Baca Juga :   Ini Perbedaan Jin, Setan, dan Iblis Menurut Al-Qur’an

Mungkin itu hanya sedikit penggalam cerita setelah Rosulullah menjalankan isra’ dan mi’rajnya tapi tidak hanya itu masih banyak lagi cerita yang perlu kita cermati dan renungkan, seperti kenikmatan surga dan siksa neraka agar apa-apa yang pernah terjadi pada Rosulullah dapat kita renungkan dan bisa kita ambil hikmahnya.

Karena kalau mengaca pada keadaan saat ini yang karut-marut dan bobrok, naif sekali peristiwa ini tidak begitu diapresiasi, peristiwa ini dianggap out of date dan tidak up to date. Paling meskipun diapresiasi tidak semeriah seperti perayaan hari nonislam dan dan hari-hari yang tidak begitu berguna lainnya.

is

 

Salah satu faktor yang menyebabkan hal itu terjadi, adalah minimnya renungan dan perhatian umat islam pada hari-hari besar islam. Sehingga dampaknya pada merosotnya tingkat keimanan dan keislaman pada diri muslim, ketika hal tersebut terjadi maka gampanglah setan membujuk mereka untuk melakukan apa saja yang dikehendaki nafsunya.

Seandainya, pada malam peringatan isra’ mi’raj ini semua umat islam berkumpul dan merenungkan kembali peristiwa yang nabi jumpai ketika mi’raj, seperti yang digambarkan pada suatu kaum menanam sekarang dan memanen sekarang juga dan satu contoh gambaran seorang yang dijumpai Rosulullah yang memegang dua buah daging satunya daging bagus satunya lagi daging busuk tapi mereka lebih memilih makan daging busuk itu.

Baca Juga :   Benarkah Pertanyaan Malaikat Mungkar Nakir Semudah yang Diajarkan Di Talqin Mayyit?

Setelah nabi tanyakan pada malaikat jibril, dan malaikat jibril menjawab bahwa itu adalah siksaan bagi orang yang punya istri tapi masih mencari perempuan lain yang tidak halal untuk dia dan sebaliknya. Seorang muslim akan terketuk dan sadar meski hanya untuk sementara waktu dan tidak bertahan lama. Karena kalau hal tersebut kita renungi maka enggan rasanya diri ini untuk melakukan maksiat kepada Allah, kendati demikian dua atau tiga hari setelah itu kita akan kotor lagi begitulah hati kita yang hakikatnya berbalik-balik. Hanya dengan pertolangan Allahlah kita bisa menjauh dari maksiat dan mampu melaksanakan ibadah.

Sebagai umat islam patutlah kita bersyukur kepada Allah, banyak hal untuk mewujudkan rasa syukur tersebut baik berupa beribadah ataupun melestarikan hari-hari islam, Dengan merenungkan kembali hari islam seperti hari isra’ mi;raj nabi ini pembaca dan masyarakat luas umumnya bisa sadar dan semangat dalam melaksanakan ibadah pada Allah, karena akhir-akhir ini kita sering melihat hari-hari islam tersebut kerung mendapat apresiasi dari masyarakat islam itu sendiri, mereka lebih merayakan dan merenungkan hari-hari lain yang kita anggap tidak butuh dibanggakan dan mendapat apresiasi dari orang islam. Sangat absurd dan tidak pantas kita sebagai orang islam mengikutinya, destruktif.