Hukum Mu’tâdah Ġairu Mumayyizah Żâkirah Li ‘Adâtihâ Waktan Lâ Qadran

hd

congkop.xyz Mu’tâdah Ġairu Mumayyizah Żâkirah Li ‘Adâtihâ Waktan Lâ Qadran Ialah wanita yang sudah pernah atau terbiasa haid dan suci, kemudian mengalami istiẖâđah dan tidak dapat membedakan darahnya, tetapi ia ingat kebiasaan waktu haidnya dan lupa lama atau jumlah haidnya berapa hari.

Hukumnya Mu’tâdah Ġairu Mumayyizah Żâkirah Li ‘Adâtihâ Waktan Lâ Qadran

Hukum haid dan istiẖâđah dikembalikan kepada keyakinannya sebagaimana berikut ini:

  1. Di waktu yakin haid berlaku hukum haid, dilarang mengerjakan larangan bagi orang haid.
  2. Di waktu yakin suci berlaku hukum suci, diwajibkan mengerjakan semua kewajiban bagi orang suci dan boleh mengerjakan larangan bagi orang yang sedang haid.
  3. Di waktu mungkin suci mungkin haid tidak mungkin berhenti berlaku hukum Mutaẖayyirâh yaitu dalam larangan, sama dengan orang haid, dalam masalah kewajiban, sama dengan orang suci. Selengkapnya tentang hukum Mutaẖayyirâh lihat di bagian ketujuh.
  4. Di waktu mungkin suci mungkin haid mungkin berhenti juga berlaku hukum Mutahayyirah. Dan pada istiẖâđah pertama diwajibkan mandi setelah genap 15 dan mengganti shalanya selama 15 hari, adapun istiẖâđah kedua diwajibkan mandi tiap-tiap mau mengerjakan shalat[1].

Untuk mengetahui waktu-waktu di atas, perhatikan rumus-rumus di bawah ini :

  1. Apabila ia ingat tanggal permulaan haidnya, maka pada tanggal itu 24 jam dihukumi yakin haid, dan 14 hari sesudah itu dihukumi mungkin suci mungkin haid mungkin berhenti, setelah itu dihukumi yakin suci. Dan pada istiẖâđah pertama diwajibkan mandi setelah genap 15 dan mengganti shalanya selama 15 hari selain waktu yang diyakini haid, adapun istiẖâđah kedua diwajibkan mandi tiap-tiap mau mengerjakan shalat di waktu mungkin suci mungkin haid mungkin berhenti. Lihat contoh I.
  2. Apabila ia ingat tanggal berhenti haidnya, maka pada tanggal itu, 24 jam sebelum waktu berhentinya, dihukumi yakin haid, dan 14 hari sebelum itu, dihukumi mungkin suci mungkin haid tidak mungkin berhenti dan sebelumnya lagi dihukumi yakin suci. Dan pada istiẖâđah pertama diwajibkan berwudhu’ tiap-tiap melaksanakan shalat setelah genap 15 dan mengganti shalanya selama 15 hari kemudian wajib mandi setelah selesai waktu yang diyakini haid, adapun istiẖâđah kedua diwajibkan berwudhu’ tiap-tiap mau mengerjakan shalat di waktu mungkin suci mungkin haid tidak mungkin berhenti kemudian wajib mandi setelah selesai waktu yang diyakini haid. Lihat contoh II.
  3. Apabila ingat pada tanggal tertentu haid, akan tetapi lupa permulaan dan berhentinya, maka pada tanggal itu dihukumi yakin haid, dan darah 14 hari sebelumya dihukumi mungkin suci mungkin haid tidak mungkin berhenti, dan darah 14 hari sesudahnya dihukumi mungkin suci mungkin haid mungkin berhenti.

    Bersucinya Mu’tâdah Ġairu Mumayyizah Żâkirah Li ‘Adâtihâ Waktan Lâ Qadran

    1. Pada istiẖâđah pertama diwajibkan mandi tiap-tiap melaksanakan shalat setelah genap 15 dan mengganti shalanya selama 15 selain waktu yang diyakini haid.
    2. Pada istiẖâđah kedua diwajibkan berwudhu’ tiap-tiap mau mengerjakan shalat di waktu mungkin suci mungkin haid tidak mungkin berhenti dan diwajibkan mandi tiap-tiap mau mengerjakan shalat di waktu mungkin suci mungkin haid mungkin berhenti.

[1]Jalȃlu ad-Dȋn Muẖammad ibn Aẖmad, op.cit.  Jilid I, h, 144/ Ibrohim al-Bâjurȋ, op.cit. jilid I, h. 108/ Zakariyȃ al-Anşȃrȋ, Fatẖu al-Wahhȃb, Jilid I, op.cit. h. 34/Muhammad as-Syirbȋnȋ, op.cit. Jilid I, h. 84/ Muhammad Ibn Muhammad al-Khoţȋb, po.cit. Jilid I, h. 242/ Muhammad Ibn Abȋ al-Abbas Ahmad Bin Hamzah ar-Ramlî, op.cit. jilid I, h. 569.