4 Nasihat Rasulullah Untuk Persiapan Akhirat



Dunia ini hanya bersifat fana dan sementara, sedangkan tujuan hidup kita sebenarnya adalah akhirat kelak. Dunia ini hanyalah sebuah tempat persinggahan untuk kita, tempat mengumpulkan bekal menuju akhirat, dan tempat mempersiapkan kehidupan akhirat yang merupakan kehidupan sebenarnya.

Allah telah berfirman dalam surah Al-Hasyr ayat 18: “Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan hendaklah setiap diri memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok (akhirat); dan bertakwalah kepada Allah, Sesungguhnya Allah Maha mengetahui apa yang kamu kerjakan.”

Disebutkan dalam kitab Nashaihul ‘Ibad yang merupakan penjelasan (syarh) daripada kitab Al-Munabbihaat ‘Alal Isti’daad Li Yaumil Ma’aad karangan Ibnu Hajar Al-Asqalani yang berisi nasihat-nasihat nan bijaksana, bahwasanya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam pernah bersabda kepada salah seorang sahabat yaitu Abu Dzar Al-Ghifari rahimahullah:

“Wahai Abu Dzar,

Perbaharuilah perahumu, karena lautan itu sangat dalam;
Carilah perbekalan yang lengkap, karena perjalanan itu sangat jauh;
Kurangilah beban, karena rintangan itu amatlah sulit untuk diatasi; dan
Ikhlaslah dalam beramal, karena yang menilai baik dan buruk adalah Dzat Yang Maha Melihat”
Maksud daripada 4 nasihat Rasulullah tersebut adalah sebagai berikut:

Perbaharuilah perahumu, maksudnya perbaikilah niatmu dalam setiap beramal agar engkau memperoleh pahala dan selamat dari siksa Allah.
Kurangilah beban, maksudnya janganlah banyak-banyak engkau mengambil keduniaan.

Diserupakannya akhirat dengan lautan yang dalam, perjalanan yang jauh, dan rintangan yang amat sulit untuk diatasi, karena banyaknya kesulitan dan rintangan yang mesti dilewati untuk bisa sampai kepada kebahagiaan akhirat.

Baca Juga :   Percakapan Romantis Antara Hasan dan Hosen Cucu Baginda Nabi Muhammad SAW

Abu Sulaiman Ad-Darani berkata: “Beruntunglah orang yang dalam hidupnya benar-benar hanya mengharap ridha Allah.” Ucapan Ad-Darani ini mengacu pada sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam yang ditujukan kepada Mu’adz radhiallahu ‘anhu, yang artinya:

“Ikhlaskan niat, niscaya engkau akan menerima balasan amalmu meskipun amalmu itu sedikit”.

Selanjutnya lebih jauh mengenai makna yang tersirat dari nasihat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam tersebut kepada Abu Dzar, dapat kita ambil hikmah yang terkandung di dalamnya, bahwa yang sebenarnya menjadi tempat persinggahan adalah akhirat kelak, sedangkan dunia ini hanyalah sementara.

Dunia hanya sebagai ladang untuk mempersiapkan bekal sebaik-baiknya untuk kehidupan di akhirat kelak. Persiapan menuju ke akhirat diibaratkan seperti menempuh perjalanan mengarungi lautan yang luas, sehingga hendaknya kita benar-benar telah memiliki persiapan yang baik dan matang.

Kita juga hendaknya mengurangi beban, yakni beban pertanggungjawaban duniawi, yaitu janganlah kita terlalu berlebih-lebihan atau terlalu melekatkan hati kita dalam mengambil urusan duniawi.

Sehingga di akhirat kelak kita tidak dibebankan dengan pertanggungjawaban tentang dunia yang terlalu banyak.
Dalam kitab Nashaihul Ibad juga diterangkan tentang 2 perumpamaan manusia yang tiada bekal menuju alam kubur:

Abu Bakar As-Shiddiq pernah berkata: “Barangsiapa masuk kubur tanpa membawa bekal, maka seakan-akan dia mengarungi lautan tanpa perahu.”
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Keadaan mayat di dalam kubur itu tak ubahnya seperti orang yang tenggelam yang meminta pertolongan.”
Semoga kita semua mampu mempersiapkan bekal ke akhirat dengan sebaik-baiknya dan mendapat ridha Allah serta tempat yang baik di akhirat kelak, dengan bertaqwa kepada Allah, menjalankan perintah-Nya dan Rasul-Nya, menjauhi segala larangan-Nya, dimudahkan dalam melakukan ibadah dan segala kebaikan.


Dan semoga kita dijauhkan dari tergolong kepada 5 kelompok manusia, sebagaimana yang disabdakan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam:

Baca Juga :   Ternyata Kokok Ayam di Awal Pagi Bukan Karena Membangunkan Manusia Tapi Karena Melihat Malaikat. Ini Bukti Ilmiahnya.

“Akan datang pada umatku suatu masa yang mana umatku mencintai lima perkara dan melupakan lima perkara lainnya, yaitu:

Mereka mencintai dunia dengan melupakan akhirat,
Mereka mencintai kehidupan (dunia) dengan melupakan kematian,
Mereka mencintai rumah yang megah dengan melupakan kubur,
Mereka mencintai harta benda dengan melupakan hisab (pertanggungjawabannya), dan
Mereka mencintai makhluk dengan melupakan Khaliqnya (penciptanya, yaitu Allah).”
Allah berfirman dalam surah Al-A’laa ayat 17: “Sedang kehidupan akhirat adalah lebih baik dan lebih kekal.”

“Dan di antara mereka ada orang yang bendoa: “Ya Tuhan kami, berilah kami kebaikan di dunia dan kebaikan di akhirat dan peliharalah kami dari siksa neraka” (surah Al-Baqarah: 201). Inilah doa yang sebaik-baiknya bagi seorang Muslim.

Wallahu a’lam.

Sumber: muslimahdaily.com