Perang Uhud Berakhir, Simbah Darah dan Mahkota Surga



Setelah pertempuran sengit di medan Uhud itu berakhir, jasad Mush’ab yang gugur sebagai syuhada itu pun ditemukan dalam keadaan telungkup menyembunyikan wajahnya yang berlumuran darah ke tanah. Seolah-olah tubuh yang telah kaku itu masih khawatir jika melihat Rasulullah Saw. tertimpa bencana. Karena itu, disembunyikannyalah wajahnya itu agar tak menyaksikan suatu hal yang sangat ia khawatirkan tersebut. Mungkin juga ia seakan malu karena telah gugur sebagai syuhada sebelum hatinya tenteram memastikan keselamatan Rasulullah dan sebelum bisa menunaikan kewajiban untuk melindungi dan membela beliau secara sempurna.

Wahai Mush’ab, cukuplah Allah bagimu. Sungguh namamu harum dalam kehidupan. Rasulullah dan para sahabat datang memeriksa jejak medan peperangan demi menyampaikan kata perpisahan kepada para syuhada. Tatkala sampai di tempat terbaringnya jasad Mush’ab, mengalirlah air mata beliau yang penuh berkah dengan derasnya. Khabbab ibn Arats mengatakan, “Kami hijrah di jalan Allah bersama Rasulullah Saw. demi mengharap ridha Allah hingga jelaslah pahala di sisi Allah bagi kami. Beberapa di antara kami ada yang meninggal dan tak sedikit pun sempat memakan pahalanya di dunia. Salah satu di antaranya adalah Mush’ab ibn ‘Umair yang gugur dalam Perang Uhud. Saat itu kami tidak mendapatkan sesuatu pun yang bisa digunakan untuk mengafaninya selain selembar kain burdah. Jika kami letakkan kain itu di kepalanya, tampaklah kakinya. Sebaliknya, jika kami letakkan di kakinya, tersingkaplah kepalanya.

Baca Juga :   3 Amalan di Bulan Sya’ban yang Dicontohkan Oleh Nabi Muhammad

Rasulullah Saw. memerintahkan, ‘Letakkanlah kain itu di bagian kepala lalu tutuplah kedua kakinya dengan idzkhir (tumbuhan berbau harum yang bisa digunakan dalam penguburan).” Kepedihan yang mendalam telah dialami oleh Rasulullah atas gugurnya paman beliau, Hamzah, hingga jasadnya dicincang sedemikian rupa oleh orang-orang musyrik. Peristiwa itu membuat air mata beliau bercucuran dan hati beliau pun haru oleh duka. Medan pertempuran penuh dengan jasad para sahabat dan karib Rasulullah yang tiap-tiap dari mereka mewakili panji kejujuran, kesucian, dan cahaya di sisi Rasulullah. Meskipun semua pemandangan yang memilukan hati itu terpampang jelas di hadapan Rasulullah, beliau tetap tegar berdiri di samping jasad dutanya yang pertama demi melepas kepergiannya. Benar, Rasulullah Saw. berdiri di samping Mush’ab ibn ‘Umair dengan kedua mata yang memandang diliputi cahaya kesetiaan dan kasih sayang. Beliau membacakan ayat:
“Di antara orang-orang mukmin itu ada orang-orang yang menepati apa yang telah mereka janjikan kepada Allah.” (QS. Al-Ahzab: 23)

Dengan pandangan penuh rasa iba, Rasulullah melihat ke arah burdah (kain) yang digunakan untuk membungkus jenazah Mush’ab seraya bersabda, “Dahulu ketika di Mekah tidak ada seorang pun yang kulihat lebih halus pakaiannya dan lebih indah rambutnya selain engkau. Namun, sekarang, engkau gugur dengan rambutmu yang kusut dan hanya dibalut sehelai kain.”


Dengan penuh arti, Rasulullah memandangi hamparan jasad-jasad syuhada sahabat Mush’ab yang gugur di medan pertempuran. Beliau bersabda, “Sungguh pada hari Kiamat nanti, Rasulullah akan bersaksi bahwa kalian adalah para syuhada di sisi Allah.” Setelah itu, beliau berpaling kepada para sahabat yang masih hidup dan hadir di sekeliling beliau. Rasulullah bersabda, “Wahai manusia, berziarahlah kepada mereka, datangilah mereka, dan ucapkanlah salam kepada mereka! Demi Tuhan yang jiwaku ada di tangan-Nya, tidaklah seorang muslim mengucapkan salam kepada mereka hingga hari Kiamat, kecuali mereka pasti akan menjawab salamnya.”

Baca Juga :   Nadhar (Melihat) Calon Istri dan Taaruf Perspektif Islam

jalansirah.com