Catatan Aneh Sangat Langka Tentang Masa Kecil Dajjal

Anak itu kemudia melihat sisi batu besar ketujuh yg paling besar diantara batu-batu besar lainnya yg menjadi batu tulis. Disitu ia menemukan sepotong batu yg indah warnanya. Ada juga tanah berwarna seperti tinta yg digunakan Jibril untuk menulis. Pada potongan batu itu terdapat peringatan Allah SWT yg berbunyi: “Dan tidaklah Kami menyiksa sehingga Kami sehingga kami mengutus seorang rasul (Q.S. Al-Isra’, 17:15)”. Ini adalah sebuah tanda dan isyarat bahwa tanah tersebut bukan berasal dari pulau itu. Bahkan, tampaknya tanah itu bukan dari belahan bumi manapun. Hanya Allah saja yg lebih mengetahui yg paling benar. Tinta antik itu menyisakan kira-kira lima mud di telapak tangan anak itu. Meski begitu, ukurannya tidak sebanding dengan tiga telapak tangan laki-laki biasa diantara kita.

Hewan besar yg ada bersamanya itu mulai menerangkan makna dari tulisan itu, dan bahwa ia diberi kebebasan untuk memilih apakah di masa mendatang ia menjadi orang baik-baik atau menjadi orang jahat. Jika ia menjadi orang baik, maka ia akan menjadi seorang laki-laki biasa dan raja yg beruntung. Tetapi jika ia memilih menjadi orang jahat, maka ia akan menjadi seseorang yg mengaku-aku sebagai tuhan yg berkuasa dengan kerajaan atau kekuasaan sewenang-wenang atas alam jin kafir dan setan, dan mereka adalah makhluk ciptaan Allah. Ia akan menjadi raja yg menguasai alam manusia, sedang engkau termasuk salah satu dari mereka. Ia akan memerintah, tetapi hanya menjadi raja dalam waktu relatif singkat saja. Ihwal kepudahannya hanya Allah saja yg tahu. Sebab, segala sesuatu ditentukan oleh akhirnya. Dan tak ada yg mengetahui kesudahan segala sesuatu kecuali Allah SWT.



Selanjutnya anak itu bertanya kepada binatan besar itu. Ia bertanya; “Kalau begitu, siapakah engkau sebenarnya? Dan siapakah yg mengajarimu bisa berbicara dan menjelaskan sehingga engkau layaknya seperti manusia?”

Binatang besar itu menjawab: “Aku memang seekor binatang yg diciptakan dan diperintahkan untuk berbuat demikian dan hendak berada disini bersamamu. Jibril malaikat terpercaya itu akan membawamu dari hutan di penghujung dunia nanti. Hanya engkau saja satu-satunya orang yg hidup dari suatu keturunan subur yg telah hancur. Aku juga bertugas menjaga dan memeliharamu ketika Jibril tidak ada. Aku diperintahkan untuk berdiam disini, di pulau ini bersamamu sehingga engkau menentukan pilihan hidupmu. Ajalku di sini bersama dengan keluarnya engkau menuju pilihanmu.”

Binatang itu memberitahukannya bahwa ia diperintahkan untuk berbicara dengannya. Kemudian setelah itu ia diam membisu dan hanya mengeluarkan suara binatang sebagaimana lazimnya. Ia tidak akan berbicara untuk kedua kalinya kecuali jika masa keluarnya anak ajaib dari pulau tersebut di akhir zaman telah mendekat. Adapun pada masa-masa diantara itu, maka itu termasuk keadaan-keadaan yg hanya diketahui oleh Allah. Mungkin saja ketika ketika itu aku berbicara denganmu. Jadi, sesuatu yg gaib tidak dapat diketahui oleh semua makhluk. Ketahuilah bahwa apa yg dikatakan sekarang ini adalah wasiat-wasiat dari malaikat Jibril yg terpercaya itu.

Disini, mulailah lidah binatang itu terdiam dan kembali seperti semula. Ia bernama Jassasah (yg terus-menerus menata-matai), karena ia mencari berita dan memberitahukannya kepada anak itu. Hal ini dilakukannya demi kepentingan atau kemaslahatan anak itu. Ia bukan saja sebagai Jassah (tulang mencari berita dan memberitahukan), melainkan juga jassasah (yg selalu menari berita dan memberitahukannya). Hal ini sesuai dengan tugas binatang itu untuk mendapatkan dan memberitahukan berbagai hal dan berita kepadanya, bukan sekedar suatu berita. Semua berita yg dibawanya sangat menakjubkan dan mengagumkan serta mempunyai peranan sangat penting, disamping terwujud atau tercipta dalam keadaan yg ganjil. Maha suci Allah yg jika berkehendak, melaksanakan kehendak-Nya. Jika Dia mempunyai kemauan, maka tak ada sesuatu bisa menolaknya. Jika Dia menentukan hukum, maka tak ada sesuatu pun bisa menentang-Nya. Mahasuci Dia dan Mahaluhur dari apa yg mereka sekutukan.

Semua yg penulis (Muhammad Isa Dawud) kemukakan di bawah judul “Ketika Manuskrip Berbicara” adalah ringkasan dari apa yg tertulis pada berbagai manuskrip peninggalan (orang-orang terdahulu) yg beliau dapatkan di dalam bangunan bawah tanah milik para petani Palestina. Manuskrip-manuskrip itu tertulis dengan huruf Aram lama yg berumur sekitar empat abad sebelum diutusnya Nabi Musa. Tampaknya, ini adalah apa yg didiktekan oleh Nabi Ibrahim di lembah Quds (Palestina) yg sebagian besarnya merupakan bagian dari apa yg diwahyukan oleh Allah, Tuhan semesta alam, (kepada Nabi Ibrahim dan Nabi Musa) berkenaan dengan kehidupan akhirat dan dunia. Hanya Allah yg lebih mengetahui. Disamping itu, manuskrip tersebut menuturkan fitnah yg sangat besar. Sementara itu, yg menulis manuskrip-manuskrip pada daun semacam kurma atau seperti lembaran papirus yg dibuat sebagai kertas itu adalah seseorang yg dikenal dengan nama Azad bin Harim bin Shafur. Ia sendiri pernah bertemu dengan Nabi Ibrahim, bahkan menanyakan kepadanya ihwal seorang laki-laki yg disebut Dajjal yg sangat membahayakan itu. Semua Nabi diperintahkan Allah untuk memperingatkan kaumnya dari bahaya Dajjal. Menurut pengakuannya, ia adalah orang yg paling banyak bertanya mengenai hal itu kepada Nabi Ibrahim dan paling banyak bergaul dengan beliau ketika berada di negerinya.



Manuskrip-manuskrip itu di wariskan secara turun-temurun oleh anak cucunya. Mereka pun memperbarui tulisannya dengan bahasa Aram hingga masa kenabian Nabi ‘Isa al-Masih. Kemudian manuskrip-manuskrip itu di sembunyikkan oleh cicit-cicit dari cucu Azad. Ketika mereka bertanya kepada Nabi ‘Isa al-Masih mengenai apa yg diberitakan Nabi Ibrahim, beliau pun menguatkannya. Allah SWT juga mewahyukan kepada Nabi ‘Isa untuk memperingatkan kaumnya dari bahaya Dajjal yg mengaku sebagai tuhan dan minta disembah itu.

Dengan kehendak Allah SWT, ada petani palestina yg menemukan manuskrip-manuskrip dan surat-surat itu. Kemudian barang-barang berharga itu diserahkan kepada seorang alim yg saleh di Quds (Palestina). Ia memberitahukan kepada penulis kandungan manuskrip-manuskrip itu setelah terbuka mantera-mantera dan ungkapan-ungkapannya. Sebab, ia memang ahli dalam bidang ukiran atau tulisan Aram dahulu, dan juga ahli dalam berbagai bahasa yg sudah tidak digunakan lagi. Ia selalu menjaga manuskrip-manuskrip itu didalam bangunan bawah tanah rumahnya yg sudah tua di Quds (Palestina). Nama samaranya adalah Abu Basil ”Izzuddin Nur. Mana dan gelar sesungguhnya hanya diketahui oleh Allah SWT yg Maha Mengetahui.

Penulis sendiri membenarkan apa yg disebutkanya itu. Nabi Nuh yg sangat jauh dari masa kenabian Nabi Ibrahim, juga pernah memperingatkan kaumnya dari bahaya Dajjal. Jadi tidak ada alasan untuk meragukan atau menganggap aneh perkataan Nabi Ibrahim yg diterimanya dari Nabi Nuh.
Di dalam shahih Bukhari disebutkan; Telah menceritakan kepada kami ‘Abdan, telah menceritakan kepada kami ‘Abdullah, dari Yunus, dari as-Zuhri dari Salim, bahwa Ibn ‘Umar r.a. berkata, “Rasulullah saw. berdiri di hadapan orang banyak, lalu memuji dan menyanjung Allah sebagaimana biasanya. Kemudian beliau menyebut-nyebut Dajjal, ‘Sungguh aku memperingatkan kamu sekalian agar berhati-hati pada Dajjal. Setiap Nabi pasti memperingatkan kaumnya tentang Dajjal. Nabi Nuh telah memperingatkan kaumnya. Akan tetapi, akan kuberitahukan kepada kalian tentang Dajjal yg belum pernah pernah diberitahukan seorang nabi pun kepada kaumnya. Kalian harus tahu bahwa Dajjal buta sebelah matanya, dan bahwa Allah tidak buta sebelah mata-Nya.”

Sumber : ajaibdananeh.com

One thought on “Catatan Aneh Sangat Langka Tentang Masa Kecil Dajjal

Comments are closed.