3 Cara Rosulullah Menguasai Ekonomi Madinah

Congkop.xyz Pada masa sebelum Islam berkembang, Madinah merupakan kota yang dikenal sebagai pusat perdagangan. Madinah juga merupakan kota yang terbentuk tanpa memiliki sumber pendapatan dan pengeluaran. Oleh karena itu, semua umat Muslim pada saat itu harus ikut andil dalam perekonomian Madinah. Lalu, bagaimana cara umat Muslim menguasai ekonomi di Madinah?



Tidak perlu diragukan lagi bahwa Rasulullah ialah pemimpin di kota Madinah. Awal pemerintahan Rasulullah di Madinah termasuk sederhana, namun beliau telah menunjukkan prinsip mendasar untuk pengelolaan ekonomi. Karakter perekonomian saat itu ialah komitmen tinggi terhadap etika dan norma, perhatian terhadap keadilan, dan pemerataan rakyat.

Usaha-usaha ekonomi dilakukan secara syariah Islam. Sumber daya tidak boleh menumpuk pada seseorang saja, tapi harus dibagi secara merata. Hal ini dilakukan agar tidak ada batasan antara miskin dan kaya. Rasulullah melakukan beberapa cara dalam perekonomian saat itu, yaitu:

1. Membangun Masjid

Hal pertama yang dilakukan Rasulullah dan para umat Muslim ialah mendirikan Masjid Quba. Selain untuk beribadah, masjid ini juga sebagai pusat kegiatan umat Muslim. Masjid Quba juga dijadikan tempat jual beli masyarakat Madinah.

2. Suqul Anshar

Demi menjaga kekhusyuan beribadah, maka dipindahkanlah aktivitas jual beli dari lingkungan masjid. Aktivitas jual beli ini difokuskan di pasar yang diberi nama Suqul Anshar atau Pasar Anshar. Pasar ini dibangun oleh Abdurrahman bin Auf, sahabat yang dermawan, atas arahan Rasulullah. Pasar ini dikelola sepenuhnya oleh umat Muslim. Semua umat Muslim dihimbau untuk melakukan semua aktivitas perdagangan di pasar tanpa bekerjasama dengan orang Yahudi dan tanpa terlibat dengan segala produk atau barang mereka.

Baca Juga :   Menelisik Rumah Nabi Musa sebelum Berangkat ke Mesir untuk Melawan Fir'aun

3. Dasar-dasar Sistem Keuangan Madinah

Rasulullah meletakkan dasar-dasar sistem keuangan kota Madinah berdasarkan ketentuan Al-Quran. Seluruh paradigma di bidang ekonomi dan penerapan dalam kehidupan yang tidak sesuai dengan Al-Quran akan dihapus dan digantikan dengan ketentuan nilai-nilai Al-Quran yakni persaudaraan, keadilan, persamaan, dan kebebasan.



Setelah melakukan aktivitas ekonomi yang cukup signifikan dari hasil tiga cara di atas, maka Madinah mulai memiliki pendapatan dan pengeluaran sendiri.

Untuk mengatur jalannya arus pemasukan dan pengeluaran negara, maka dibentuklah Baitul Mal. Baitul Mal merupakan lembaga ekonomi atau keuangan Syariah non perbankan yang sifatnya informal. Berdirinya Baitul Mal sebagai sebuah lembaga setelah turunnya firman Allah: ”Mereka (para sahabat) akan bertanya kepadamu (Muhammad) tentang anfal, katakanlah bahwa anfal itu milik Allah dan Rasul, maka bertaqwalah kepada Allah dan perbaikilah hubungan diantara sesamamu dan taatlah kepada Allah dan Rasul-Nya jika kalian benar-benar beriman.” (QS. Al-Anfal : 1).

Demikianlah sistem perekonomian Madinah yang mengikuti ketentuan Al-Quran dan diterapkan pada zaman Rasulullah. Sistem inilah yang dijadikan cara umat Muslim dalam menguasai kota Madinah.

sumber:ummionline.com