Kisah Dokter Kandungan di Amerika yang Memeluk Islam

Tersebutlah seorang dokter. Orivia namanya. Ia adalah dokter spesialis kandungan di sebuah rumah sakit di Amerika. Ia cerdas, ramah dan suka berfikir. Suatu hari, datang seorang perempuan Arab muslimah ke rumah sakitnya bekerja. Ia akan segera melahirkan. Setelah waktu jaganya habis, ia pun berpamitan kepadanya untuk pulang ke rumah dan disampaikan bahwa ada seorang dokter laki-laki yang akan menggantikannya bertanggung jawab atas persalinannya.

Tiba-tiba perempuan itu menangis, dengan histeris ia berkata, “Tidak!, aku tidak ingin dokter laki-laki. Pokoknya tidak!”



Dokter Orivia heran dengan perempuan itu. Di zaman modern ini, perempuan naif mana yang bisa lolos dari pemeriksaan dokter laki-laki, apalagi ketika mau operasi melahirkan. Kebanyakan dokter anastesi pun adalah laki-laki. Ya, walaupun dirinya mengakui hampir setiap wanita sedikit risih apabila masuk pemeriksaan vaginal touche (colok vagina) atau pemeriksaan vagina dalam dengan alat spekulum. Tapi ini kan sudah darurat! Lalu suami perempuan tersebut memberitahukan kepada sang dokter bahwa seumur hidupnya tidak ada seorang laki-laki pun yang pernah melihat wajah istrinya kecuali ayahnya, saudara-saudara laki-lakinya, paman-pamannya, dan dirinya (mahramnya). Apalagi melihat organ intimnya. MasyaAllah.

Perkataan suami perempuan tersebut sontak membuat sang dokter tanpa sadar tertawa kecil keheranan. Berbanding terbalik dengan pasiennya tersebut, sang dokter justru merasa bahwa tidak ada satu pun laki-laki di Amerika yang belum pernah melihat wajahnya. Ya, bagaimana tidak. Ia adalah dokter wanita yang terkenal. Apalagi di Amerika ini, negara yang menjunjung tinggi feminisme sebagai pedoman tertinggi bergaul wanita, wanita mana yang bisa lolos menjaga wajahnya dari “buasnya” tatapan para lelaki Amerika. Tapi wanita ini begitu terjaga, suci, terhormat. Fikirnya. Sang dokter pun luluh untuk full mengurusinya.

Baca Juga :   Taukah Kamu Ramadhan adalah Bulan Jihad.

Di hari berikutnya, sang dokter menemui mereka kembali untuk memeriksa keadaan sang perempuan pasca melahirkan. Lalu ia memberitahukan bahwa setelah melahirkan kebanyakan wanita di Amerika mengalami infeksi internal dan demam. Hal itu dikarenakan mereka melakukan hubungan suami istri setelah melahirkan. Oleh karena itu sang dokter menasihatkan kepada mereka untuk tidak berhubungan suami istri minimal di 40 hari pertama. Dan selama 40 hari hendaknya memakan makanan yang bergizi dan tidak sibuk beraktivitas karena tubuh yang masih lelah pasca melahirkan.

Muslimah tersebut menanggapi saran-saran sang dokter dengan tersenyum lalu mengatakan, “Islam memang sudah menetapkan aturan demikian, yakni tidak boleh berhubungan suami istri selam 40 hari setelah melahirkan (nifas) hingga wanita tersebut suci kembali. Dan mereka pun diberikan keringanan untuk tidak shalat dan puasa.”

Luar biasa! Ucapannya ini benar-benar membuat sang dokter kagum bercampur heran. Islam telah mengajarkan demikian? Sejak kapan? Kenapa saya baru tahu? dan kami (orang-orang non-Islam) baru mengetahuinya setelah melakukan berkali-kali penelitian dan riset yang sangat panjang. Tidak berhenti sampai di situ, ketika sang dokter mengatakan agar bayi hendaknya tidur dengan sisi kanannya, agar posisi tubuh tidak menindih jantungnya. Mereka mengatakan,” demikianlah memang yang disunnahkan Nabi kami Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam.” MasyaAllah, sang dokter pun tercekat tak bisa berkata apa-apa.



Ia ingat ketika ia mulai mengambil spesialis kandungan untuk mempelajari lebih detil tentang masalah melahirkan dan hal-hal yang berhubungan dengannya. Ia menempuh pendidikan dokter umum selama 7 tahun. Lalu menempuh spesialis selama 5 tahun setelah lolos TOEFL diatas 500, melakukan testing tertulis dan wawancara, melakukan pemeriksaan kesehatan fisik dan mental, dsb. Semua syarat itu pun masih diadukan dengan ribuan dokter umum lainnya yang sama-sama ingin mendaftar. Belum lagi harus berjaga 24 jam sambil mengerjakan tugas-tugas seperti laporan jaga, laporan kasus, journal reading. Sungguh menghabiskan umur untuk mempelajari ilmu kedokteran ini, namun ternyata umat Islam telah mengetahuinya lebih dulu di masa lampau. Inilah keajaiban Tuhan.

Baca Juga :   Al-Qur’an dan "Dokumen Sejarah"

Mulai saat itu sang dokter menekuni agama Islam. Ia pun mengambil cuti beberapa bulan lalu pergi ke kota lain di Amerika dimana terdapat Islamic Center yang besar. Ia habiskan hari-harinya di tempat itu untuk bertanya-jawab dan “ngaji” serta bergaul dengan orang-orang Islam baik dari kalangan Arab atau Amerika sendiri. Alhamdulillah.. setelah beberapa bulan mengkaji, sang dokter mendapat hidayah Allah dan menyatakan keislamannya dengan dua kalimat syahadat.