Palestina: Dulu, Kini, dan Akan Datang (2/2)

Ketika Adol Hitler dengan Nazinya muncul di Eropa,yang anti Yahud,i maka gelombang demi gelombang besar bangsa Yahudi mengungsi ke Palestina yang merupakan dampak positif bagi berdirinya negara Yahudi di Palesti na semakin kokoh ,meskipun dengan setengah hati Inggris menawarkan wilayah-wilayah jajahannya yang lain kepada Zionisme sebagai ganti Palestina,terutama Uganda dan Zimbawe di Afrika.Tawaran tersebut ditolak oleh organisasi Freemasonry-Zionisme Yahudi,sehingga pada tahun 1931 penduduk Palestina sekitar 1.035.821 jiwa dengan komposisi 759.712 jiwa muslim,83.610 Yahudi ,91.398 Kristen,serta sisanya 10.101 jiwa terdiri dari kelompok kelompok lainnya.Dan antara tahun 1936 dan tahun 1939 menjelang perang dunia kedua,bangsa Arab Palestina memberontak terhadap kekuasaan Inggris .Usul pembagian Palestina kedalam wilayah Arab dan Yahudi ditolaknya. Namun pada tahun 1939 Inggris membatasi pemukimanYahudi di Palestina dan mengakhiri imigrasi bangsa Yahudi ke Palestina selama lima tahun,tetapi ini hanya isapan jempol belaka karena secara terselubung sesungguhnya Inggris tidak pernah menyetop imigrasi Yahudi kesana.Apalagi ketika terjadi perang dunia kedua,dengan dalih menyelamatkan diri dari amuk jerman Hitler berduyun duyun orang-orang Yahudi dari Eropa Timur,Eropa Barat,Rusia,Afrika berimigrasi ke Palestina.Sehingga menjelang perang dunia kedua berakhir ,penduduk Palestina mencapai 1.764.000 jiwa dengan komposisi 1.179.000 Arab,554.000 Yahudi dan 32.000 jiwa dri unsur-unsur lain.Jadi sejak tahun 1931 orang orang Yahudi di Palestina berjumlah 83.610 jiwa namun sewindu berikutnya menjadi 554.000 jiwa,suatu peningkatan yang sangat drastis yang dengan cept pula mendesak orang orang Arab kedaerah daerah yang kurang subur dan jauh dari sumber air yang amat penting di lahan bergurun itu.




Supaya Inggris tidak kehilangan mukanya,maka menghimbau PBB untuk menangani sendiri Palestina,sehingga pada tanggal 29 November 1947,sesuai rekomendasi PBB maka dibentuklah komisi untuk Palestina dengan membagi wilayah Palestina menjadi negara Arab dan negara Yahudi.Sementara kota Yerusalem berada di bawah pengawasan internasional,sesuai dengan resolusi PBB yang juga diterima oleh Yahudi tapi ditolak oleh bangsa Arab. Konsekuwensinya perang Arab-Israel pecah,namun pada bulan Mei 1948 pasca Inggris mengundurkan diri dari Palestina ,negara Israel diproklamirkan dengan ibukotanya Yerusalem.Bangsa Arab Palestina dengan dukungan bangsa Arab lainnya menyerbu Israel,namun pasukan Israil yang merupakan veteran perang dunia kesatu dan kedua didukung mesin perang dari Eropa dan AS berhasil memukul mundur pasukan Arab dengan senjata kunonya tersebut,sehingga diselamatkan oleh PBB lewat gencatan senjata tahun 1948 dan tahun berikutnya dengan tanpa penandatanganan perjanjian damai.

Gencatan senjata tersebut dimamfaatkan oleh Arab dan Israil untuk memulihkan kekuatannya masing masing, negara Israil selama waktu jeda tersebut mengadakan jembatan udara dengan AS,Eropa untuk memasok berba gai logistik,keperluan militer serta bantuan finansial dari organisasi Yahudi Internasional sehingga angkatan bersenjata Israil sangat kuat. Demikian pula bangsa Arab yang terpukul mundur saat perang sebelumnya memper siapkan dirinya dengan lebih baik lagi,meskipun bngsa Arab belum berpengalaman bertempur sebaik pasukan Yahudi, namun bangsa Arab sudah kepalang basah ,enggak ada rotan akarpun jadi.Perang Arab-Israel akhirnya meletus juga tahun l967,tetapi hanya dalam tempo seminggu saja diberbagai medan pertempuran pasukan Arab kalah telak,dan wilayah-wilayah Arabpun berpindah tangan dikuasai Israel yang hingga kinipun masih tetap dikuasai oleh negara Yahudi tersebut,kecuali Sinai yang sudah diserahkan kembali kepada Mesir pasca perjanjian yang ditanda tangani antara PM. Israil,Manachem Begen dan Presiden Mesir Anwar Sadat tahun l979 yang dimediasi Presiden Jimmy Carter di Camp David,Amerika serikat.Sementara Dataran Tinggi Goland(Siriya) ,Tebing Barat Sungai Yordania,Yerusalem dan kawasan Palestina tetap dibawah pantauan pemerintahan Israel.




Meskipun sejak tahun 1949 sampai tahun 1967 merupakan periode berkobarnya kesadaran nasionalisme rakyat Palestina,dan berbagai organisasi muncul untuk mewujudkan sebuah negara yang merdeka dan berdaulat di Palestina. Organisasi revolusioner muncul dengan berbagai ideologi yang sulit disatukan,ada pro Mesir sehingga berpaham Nasseris,Ba’tsisme dan Maxisme yang sudah terkontaminasi blok Timur pimpinan Moskow,sebagai reaksi terhadap Israil dukungan blok Barat pimpinan Washington. Karenanya persaingan kedua blok dalam perang dingin tersebut telah berlangsung di timur tengah sama sengitnya dengan persaingan NATO-Pacta Warsawa waktu itu. Diantara organisasi yang terpenting saat itu adalah PLO(Palestine Liberation Organization) yang didirikan pada konferensi puncak Arab tahun 1964 ,yang bertujuan mendirikan negara Palestina yang mer deka dan berdaulat. Selanjutnya ketegangan terus meningkat antara Arab -Israil,semua resolusi PBB tidak dipatuhi oleh negara Yahudi tersebut sebab sampai kapanpun Amerika serikat yang berbagai posisi strategisnya berada dibawah pengaruh organiasai Yahudi Internasional,dan American Jewish Organisation tetap berada dibelakang negara Yahudi itu.Setiap presiden AS tanpa restu dari organisasi Yahudi sangat sulit menginjak kakinya ke Gedung Putih,dan berbagai keputusan strategis PBB yang merugikan israil pasti akan di veto oleh AS seperti halnya setiap kebijakan AS yang berkaitan dengan Timur tengah tidak akan mulus tanpa melalui sensor organisasi Fremasonry-Zionisme Internasional.Sejak dulu sampai sekarang puluhan resolusi PBB yang menge cam Israil karena kebiadabannya terhadap bangsa Palestina, telah gagal karena di veto oleh Amerika serikat kare na tidak disetujui oleh organisasi Yahudi internasional.

Perang Arab-Israil kembali berkecamuk tahun 1973 dan berakhir dengan gencatan senjata pula tahun 1974. Namun bangsa Arab yang tergabung dalam PLO terus menerus melakukan serangan terhadap Israil yang menduduki wilayah Palestina, menbabkan ribuan pengungsi mengalir deras keseputar wilayah Palestina untuk menjauhi konflik senjata antara para pejuang Palestina dengan pasukan pendudukan zionisme Israil. Masalah pengungsi tersebut telah melibatkan negara-negara tetangga Palestina seperti Mesir,Libanon,Yordania,Siriya. yang sampai sekarang masalah tersebut makin sulit diselesaikan,karena Yahudi masih enggan menghentikan pendirian pemukiman Yahudi di wilayah pendudukannya di Palestina bersamaan menolak kembalinya para pe ngungsi Palestina ketanah tumpah darahnya.Sementara bangsa Arab yang sebagiannya terdiri dari negara kaya tersebut kurang peduli kepada nasib rakyat Palestina,bahkan dalam berbagai konflik antara Palestina dan Israil bahan bakar mesin perang Israil justru dipasok oleh Arab Saudia, bersamaan Mesir berkongkow dengan Israil menutup perbatasannya dengan wilayah Palestina. Dan ini masih berlangsung sampai sekarang, sementara bangsa Palestina sampai kinipun terpecah belah dalam faksi Hamas yang berkuasa di Jalur Gaza, dan faksi Fattah yang berkuasa di tebing barat Sungai Yordania.




Anehnya AS dan Eropa hanya mengkui Mahmud Abbas sebagai Kepala pemerintahan Palestina yang sah ,meskipun sebagai pecundang dalam Pemilu tahun 2006. Sedangkan pe menang dalam pemilu pertama di Palestina waktu itu, Ismael Haniyah tidak diakui karena berasal dari Hamas. Peristiwa seperti ini sebenarnya sudah dilkukan Barat terhadap FIS di Aljazair,yang mengakui rejim yang kalah dalam pemilu dan presidennyapun diambil dari epengasingan.Sedangkan FIS(Front Islami Salute) memenangkan pemilu dibatalkan oleh rejim Aljers dukungan AS dan sekutunya. Inilah politik AS dan sekutunya terhadap negara-negara lain yang harus cocok dengan garis politiknya, kalau tidak cocok apalagi bertentangan dengan kebijakannya tentu saja akan direkayasa dengan kondisional tertentu hingga terdapat alasan kuat untuk melibasnya.

 

Sumber: kompasiana.com

Leave a Reply

Your email address will not be published.