Rezeki Tidak Selalu Diukur dengan Matematika. Ternyata Sangat Banyak Rezeki yang Tidak Disangka-Sangka.

Congkop.xyz Matematik menjadi pelajaran wajib bagi setiap siswa. Sepertinya, matematika adalah mata pelajaran paling dasar kedua setelah bahasa yang ditanamkan sejak dini.

Bahasa adalah sebagai dasar berkomunikasi sementara matematika adalah sebagai dasar berhitung. Komunikasi dan berhitung sepertinya menjadi bagian pokok kegiatan hidup.


Pelajaran berhitung paling dasar adalah tentang penambahan dan pengurangan. Ini adalah pelajaran agar manusia terbebas dari kerugian.

Sayangnya, yang banyak muncul dalam fase berikutnya adalah semangat menambah terus tanpa mau mengurangi. Tampaklah karakter tamak dan bakhil. Semoga Allah menjauhkan kita dari karakter jelek ini.

 Pelajaran matematika berikutnya adalah perkalian dan pembagian agar manusia paham penghitungan dengan semangat pelipatgandaan dan terbebas dari pembagian yang meruntuhkan secara bertahap dan terstruktur.

Sayangnya, semangat seperti ini seringkali memunculkan karakter mengeksploitasi orang lain dan menguras habis segala yang bisa dikuras tanpa mempertimbangkan etika. Semoga Allah hindarkan kita dari tabiat tak baik ini.

Karakter tersebut muncul dengan terang benderang dalam domain perebutan rezeki, semangat ingin cepat kaya. Yang dibicarakan selalu saja penambahan dan perkalian.

Banyak yang lupa bahwa terlalu sering berpikir penambahan akan memaksa pengurangan datang tiba-tiba dan mengejutkan.

Akhirnya rezekinya tak jadi bertambah. Banyak yang tak sadar bahwa terlalu banyak bicara perkalian akan memaksa hadirnya pembagian yang menuntut pengeluaran rezeki tanpa disangka.


Matematika rezeki itu adalah bahwa siapa yang mengurangi hartanya secara sadar dengan niat kebaikan maka penambahan jumlah dan keberkahan akan tiba dengan sendirinya.

Lebih dari itu, siapa selalu membagi hartanya sengan niat kemaslahatan maka Allah akan mengkalikannya dengan sesuka Allah sehingga jumlah hartanyapun berkali lipat.

sumber:kabarhijrah.com