Kisah Cinta Beda Agama Zainab Binti Muhammad SAW (Part 1)

Kisah ini terjadi pada kehidupan sekitar Rasulullah, kisah ini tentang putri pertama Rasulullah bernama Zainab binti Muhammad saw yang menikah dengan Pemuda bangsawan dari suku abdi syam bernama Abul Ash bin Rabi.

Awal Kisah Bahagia

Abul Ash dikenal sebagai seorang yang jujur. Di usianya yang masih muda beliau juga dikenal sebagai seseorang yang dapat dipercaya dan memiliki kepiawaian dalam berdagang. Dengan segala kelebihan yang ia miliki, ia mengenal banyak saudagar kaya di mekah termasuk ibunda Khadijah ra. Istri pertama Rasulullah saw. Melihat kemuliaan pemuda ini, Khadijah binti Khuwailid berkeinginan menjodohkan putrinya Zainab dengan Abul Ash bin Rabi. Ketika itu nabi Muhammad saw. Pun menyetujuinya. Baginya perangai yang dimiliki Abul Ash cukup baik untuk dijadikan seorang menantu terlebih Abul Ash bukan termasuk orang yang asing bagi Rasulullah karena moyang Abul Ash bertemu dengan moyang Nabi pada Abdu Manaf.



Penikahan merekapun dilangsungkan. Di hari bahagia itu Zainab mendapat hadiah perhiasan kalung yang indah dari ibunda tercinta. Setelah menikah, Zainab kini menjadi tanggung jawab Abul Ash seutuhnya. Zainab berpindah meninggalkan ayah dan ibunya untuk kemudian membangun kehidupan berumah tangga baru bersama Abul Ash.

 Turunnya Wahyu Menjadi Awal Ujian Cinta

Pernikahan Zainab dan Abul Ash berjalan harmonis. Mereka saling mencintai dan saling menyayangi satu sama lain. Seiring dengan berjalannya waktu, tugas menyampaikan risalah itu pun datang kepada Rasulullah. Rasul menyampaikan Islam kepada keluarga dan kerabatnya. Beberapa keluarga terdekat dan putrinya segera menerima ajaran Islam yang dibawa oleh Rasulullah. Tapi tidak dengan menantu Rasul termasuk Abul Ash, padahal sesungguhnya Abul Ash adalah tipikal menantu yang sangat menghormati mertuanya. Namun urusan keyakinan, Abul Ash masih sulit memercayai apa yang Rasulullah katakan. Tidak seperti Zainab istrinya yang serta merta beriman kepada apa yang ayahnya serukan.



Bagaimana perasaanmu ketika itu wahai Al-amin? Tidak kah engkau bersedih hati karena putri-putrimu harus tinggal bersama orang yang tidak satu iman denganmu dan keluargamu. Adakah ketakutan dalam hatimu bahwa suami-suami mereka akan menyakiti putri-putrimu karena ketidaksukaan mereka kepadamu seperti kaum Quraisy yang lain, sedang engkau tak bisa menjaga putrimu karena mereka tak ada di sisimu, melainkan di sisi suami sah mereka yang tidak mengimanimu? Anda tidak mampu membawa kembali putri-putrimu karena larangan tentang pernikahan berbeda akidah itu belum turun dari Allah Swt.

Baca Juga :   Munculnya Binatang Ini Sebagai Pertanda Bahawa Kita Semakin Dekat Dengan Kiamat

Syukurlah gayung bersambut ketika keinginan agar anak-anakmu dapat berpisah dengan suami mereka yang berbeda agama dilancarkan oleh kaum kafir Quraisy. Namun itu hanya terjadi pada Ruqayah dan Umi Kultsum saja bukan? Kerena kemarahan Quraisy terhadap risalah yang engkau sampaikan, orang Quraisy menyuruh para suami dari putri-putrimu menceraikan anak Rasul dengan tujuan ingin menyakitimu. Mereka pikir, mereka akan dapat menyiksamu karena telah menghancurkan rumah tangga putri-putrimu. Tapi hal itu tidak benar karena engkau sendiri yang berharap agar putri-putrimu kembali.

Justru engkau kini lebih mengkhawatirkan Zainab putri pertamamu. Sebab suaminya Zainab yakni Abul ash bin Rabi tidak bersedia melepaskan putrimu karena ia begitu mencintai Zainab. Sekuat apa pun hasutan para penduduk Quraisy, pendirian menantumu itu amatlah kuat. Sehingga, meski berbeda aqidah, ia tidak mau melepaskan putrimu. Ia ingin selalu dapat menjaga putrimu dan selalu ingin berada di samping putrimu.



Begitulah bijaksananya engkau wahai pria yang tidak pernah berbohong. Engkau tidak serta merta menyuruh Zainab dan Abul Ash berpisah sebab belum turun larangan dari Allah Swt. Tentang tidak bolehnya seorang muslim menikah dengan seorang yang bukan muslim. Meski hatimu berat merelakan hal tersebut terjadi pada putri pertamamu. Jika saat itu sudah turun larangan tersebut padamu, pasti engkau memiliki alasan untuk membawa Zainab pergi dari suaminya, atas dasar ketaatamu terhadap Allah.

Baca Juga :   Kisah Di Balik Julukan Al Faruq

(Bersambung)