Wahyu Telah Sempurna. Apakah Agama Akan Terkikis?

Congkop.xyz Tak lama selepas Rasulullah Shalallahu alaihi wallam berpulang ke hadirat Allah Swt, kaum Muslim ragu-ragu terhadap kemampuan Abu Bakar As-Shiddiq dalam memerangi orang-orang yang enggan membayar zakat. Mereka tahu, tokoh yang mendapat gelar Al-Shiddiq, karena membenarkan perjalanan Isra’ dan Mi’raj yang dilakukan Rasulullah Shalallahu alaihi wallam ini memiliki hati yang sangat lembut dan mudah terharu.

Oleh karena itu, mereka memohon kepada sang khalifah agar menghentikan perjalanan pasukan kaum Muslim yang akan dikirim untuk melaksanakan tugas tersebut, dengan alasan risikonya besar. `Umar bin Khaththab termasuk orang-orang yang merasa khawatir atas nasib pasukan itu.



Ucapnya kepada khalifah yang belum lama naik ke pentas kekuasaan itu, “Wahai khalifah Rasul! Engkau tak kan mampu memerangi semua orang Arab. Karena itu, mengurung dirilah di rumah, dan tutuplah pintu rumahmu rapat-rapat! Sembahlah Tuhanmu, sehingga engkau memperoleh kemantapan hati!”

Namun, tokoh yang tidak banyak bicara, acap menangis, perasa bagaikan halusnya angin semilir, lembut sehalus sutra, dan pengasih bagaikan hati seorang ibu, tiba-tiba ber-balik menjadi laksana singa galak dan membentak `Umar bin Al-Khaththab, “`Umar! Apakah engkau yang terkenal pemberani pada masa jahiliah kini menjadi seorang pengecut pada masa Islam? Wahyu telah sempurna. Apakah agama akan berkurang, sedangkan aku sendiri masih hidup? Demi Allah, andaikan ada serombongan penunggang kuda yang siap menyerang datang mengadang, perintah Rasul tetap akan kulaksanakan Sungguh, akan kuperangi mereka. Demi Allah, sungguh akan kuperangi mereka selama di tanganku ada pedang!”

Mendapat labrakan dari sahabat yang dicintai Rasulullah Shalallahu alaihi wallam itu, ‘Umar bin Al-Khattab tidak banyak berkomentar apa-apa kecuali berucap, “Allah Swt telah melapangkan dada Abu Bakar untuk berperang. Lalu aku sadar, dialah yang benar!”
sumber:jalansirah.com