Kisah Di Zaman Nabi Muhammad Sebuah Pernikahan dengan Mahar Ayat Al-Qur-an.

Congkop.xyz Rasulullah Shalallahu alaihi wasallam hari itu, sebagaimana biasanya, duduk bersama sahabat beliau di Masjid Nabawi, Madinah. Mereka membentuk lingkaran mengelilingi beliau sehingga tampak seolah beliau sebagai puncak sebuah cincin tempat batu permata diletakkan.

Para sahabat yang datang dalam pertemuan itu tidaklah selalu sama. Dan setiap sahabat yang ingin hadir dalam pertemuan tersebut, tanpa memandang status sosialnya, boleh duduk di tempat yang masih kosong tanpa menghiraukan apakah tempat tersebut sesuai atau tidak dengan status sosialnya.



Tak lama kemudian, seorang perempuan datang kepada Rasulullah Shalallahu alaihi wasallam. Selepas mengucapkan salam dan beberapa lama berbagi sapa dengan beliau, perempuan itu berkata kepada beliau dalam keadaan tetap berdiri, “Wahai Rasul! Sejatinya saya datang ke sini dengan tujuan untuk menyerahkan diri saya kepadamu. Nikahilah saya.”

Beliau sejenak tercenung dan diam merenung mendengar ucapan tak terduga perempuan itu. Beberapa saat kemudian, beliau memandangi perempuan itu dan menundukkan kepala. Melihat beliau diam dan tidak memberikan jawaban, perempuan itu lantas duduk. Sejenak suasana pun hening.

Tapi, tak lama kemudian seorang sahabat berkata dengan penuh semangat kepada beliau.

“Wahai Rasul! Jika engkau tidak berkenan menikahi perempuan itu, nikahkanlah dia dengan saya!”

Betapa gembiranya beliau mendengar ucapan sahabat beliau itu. Beliau kemudian berkata kepada sahabat tersebut, “Sahabatku! Apakah engkau memiliki sesuatu yang akan engkau sediakan sebagai maskawin?”

“Demi Allah, saya tidak punya, wahai Rasul,” jawab pria itu lirih, menahan malu, karena terlalu cepat memberanikan diri untuk mengambil perempuan itu sebagai calon pendamping hidupnya tanpa memperhitungkan kesiapan diri.

“Begini saja. Pergilah engkau kepada keluargamu. Lalu, carilah sesuatu yang layak engkau jadikan sebagai maskawin.”

Pria itu pun berdiri dan beranjak menemui keluarganya. Tak lama kemudian,dia datang dengan wajah muram dan kusut masai. Dan kemudian, dengan suara lirih, dia berkata kepada Rasulullah Shalallahu alaihi wasallam, “Wahai Rasul. Ternyata, saya tidak menemukan sesuatu yang layak saya jadikan sebagai maskawin.”

Sejenak beliau diam merenung, dan kemudian beliau berkata ramah dan santun kepada pria itu, “Carilah sesuatu, wahai sahabatku, meskipun hanya berupa cincin besi.”



Pria itu segera menapakkan kedua kakinya keluar dari masjid dengan langkah-langkah gontai, tak percaya diri. Beberapa lama kemudian, pria itu datang dengan wajah tetap kuyu.

“Wahai Rasul. Demi Allah, tiada sesuatu pun yang bisa saya dapatkan. Sebuah cincin besi pun tiada. Saya hanya memiliki kain sarung yang saya kenakan ini. Barangkali separuhnya bisa menjadi maskawin bagi perempuan itu.”

Beberapa saat beliau diam dan merenung, dan kemudian berkata kepada pria itu dengan ramah dan santun, “Sahabatku. Bagaimana engkau bisa mempergunakan kain sarungmu itu sebagai maskawin? Jika engkau memakainya, perempuan itu tentu tidak bisa me-makainya. Sebaliknya, jika dia memakainya, engkau tentu tidak bisa mengenakannya.”

Mendengar perkataan beliau, pria itu lantas duduk dan berdiam diri dengan merundukkan kepala. Tak lama kemudian, pria itu berdiri dan menapakkan kedua kakinya keluar dari masjid dengan langkah-langkah gontai dan hati yang sangat gundah.

Melihat pria itu berlalu, Rasulullah Shalallahu alaihi wasallam yang tetap berupaya mencarikan jalan keluar persoalannya, lalu beliau memanggilnya kembali dan berkata kepadanya, “Sahabatku! Surah apa dari Al-Quran yang engkau hafal?”

“Saya hafal surah begini dan begini, wahai Rasul!” jawab pria itu penuh semangat dan percaya diri.

“Sahabatku! Bersediakah engkau membacakan surah-surah Al-Quran itu di luar kepala sebagai maskawin?”

“Tentu, wahai Rasul! Tentu!” jawab pria itu semakin gembira dan dengan wajah berbinar-binar.

“Jika demikian, engkau akan kunikahkan dengan perempuan itu, dengan maskawin pengajaran surah-surah Al-Quran yang engkau hafal,” kata Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wasallam dengan santun dan ramah kepada pria itu.

sumber:jalansirah.com