2 Kesalahan Dalam Memahami Biografi Nabi (2)

Dengan demikian, bisa kita simpulkan bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam mengalami fase kehidupan sulit dan fase kekayaan. Di awal masa kenabian dan awal kedatangan di Madinah, beliau mengalami kondisi perekonomian yang sulit. Tapi di akhir kehidupan beliau, beliau menyandang status sebagai seorang yang kaya. Hanya saja beliau tidak mengubah gaya hidup yang sederhana dan bersahaja. Kekayaan harta digunakan bukan untuk meningkatkan belanja, tapi digunakan untuk meningkatkan pemberian.

Kaya dan miskin memiliki peluang yang sama untuk bertakwa kepada Allah.



Kedua: Pemahaman masyarakat tentang kesabaran Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah sikap menerima, pemaaf, tidak pernah marah, dalam berbagai keadaan.

Pemahaman masyarakat ini didasarkan pada data-data berikut ini:

Pertama: Anas bin Malik radhiallahu ‘anhu meriwayatkan bahwa ada seorang Arab badui mendatangi Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dan meminta sesuatu. Saat itu, beliau sedang mengenakan jubah. Orang badui tersebut menarik jubah beliau hingga sobek. Goresan bekas tariakn tersebu membekas di leher beliau. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam tetap menyuruh orang itu diberikan sesuatu. (HR. Ahmad dan selainnya).

Ini menunjukkan kelemah-lebutan dan kesabaran Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam menghadapi kekasaran yang dilakukan orang lain.

Kedua: Dari Anas bin Malik radhiyallahu anhu, beliau berkata, Seorang Arab Badui pernah memasuki masjid, lantas dia kencing di salah satu sisi masjid. Lalu para sahabat menghardik orang ini. Namun Nabi shallallahu alaihi wa sallam melarang tindakan para sahabat tersebut. Tatkala orang tadi telah menyelesaikan hajatnya, Nabi shallallahu alaihi wa sallam lantas memerintah para sahabat untuk mengambil air, kemudian bekas kencing itu pun disirami. (HR. Bukhari no. 221 dan Muslim no. 284).

Baca Juga :   Kenapa Nabi Muhammad Diutus di Arab? (Menjawab Kaum Liberal dan Anti Islam)

Dan riwayat-riwayat lain yang menjelaskan tentang kesabaran dan sifat nabi yang memaafkan. Riwayat-riwayat yang banyak tentang hal ini bukanlah berarti nabi tidak pernah marah. Kita tahu, dalam kehidupan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam sampai terjadi kurang-lebih 27 peperangan. Tentu hal ini menunjukkan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menggunakan kekuatan untuk menghadapi orang-orang yang berlebihan. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam juga pernah mengutuk orang-orang kafir. Sebagaimana terjadi pada Perang Khandaq. Beliau menghadapi orang-orang musyrik hingga menunda shalat ashar sampai menjelang maghrib. Beliau kutuk orang-orang tersebut dengan mengatakan,

مَلَأَ اللَّهُ قُبُورَهُمْ وَبُيُوتَهُمْ نَارًا، كَمَا شَغَلُونَا عَنْ صَلاَةِ الوُسْطَى حَتَّى غَابَتِ الشَّمْسُ

“Semoga Allah memenuhi kubur dan rumah mereka dengan api. Sebagaimana mereka telah memenuhi (menyibukkan) kita dari shalat wushta (ashar) hingga matahari terbenam.” (HR. Bukhari).

Dalam riwayat yang lain, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam hendak membakar rumah kaum laki-laki yang tidak shalat lima waktu berjamaah di masjid.



Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

وَالَّذِى نَفْسِى بِيَدِهِ لَقَدْ هَمَمْتُ أَنْ آمُرَ بِحَطَبٍ فَيُحْتَطَبَ ، ثُمَّ آمُرَ بِالصَّلاَةِ فَيُؤَذَّنَ لَهَا ، ثُمَّ آمُرَ رَجُلاً فَيَؤُمَّ النَّاسَ ، ثُمَّ أُخَالِفَ إِلَى رِجَالٍ فَأُحَرِّقَ عَلَيْهِمْ بُيُوتَهُمْ

Baca Juga :   Dialog Iblis dan Rosulullah dalam Memastikan Siapa Teman dan Musuh Iblis yang Sebenarnya

“Demi jiwaku yang ada pada tangan-Nya, aku telah bermaksud memerintahkan untuk mengambilkan kayu bakar, lalu dikumpulkan, kemudian aku memerintahkan azan shalat untuk dikumandangkan. Lalu aku memerintahkan seseorang untuk mengimami orang-orang berjama’ah, kemudian aku mendatangi orang-orang yang tidak shalat berjama’ah lalu aku membakar rumah mereka.” (HR. Bukhari, no. 644 dan Muslim, no. 651).

Kesimpulannya, Nabi shallallahu pernah marah dan beliau pun seorang yang sabar. Beliau sabar apabila pribadi beliau yang diganggu. Dan beliau marah apabila agama dan syariat ini diusik. Dari sini kita mengetahui apa yang dimaksud dengan bijaksana. Kita juga mengetahui mana marah yang terpuji dan marah yang tercela. Beliau marah karena syariat dilanggar. Bisa jadi orang-orang yang lemah imannya menganggap kemarahan beliau berlebihan. Karena mereka terbiasa meninggalkan apa yang dianggap oleh Nabi sesuatu yang serius. Mereka menganggap kecil apa yang beliau anggap besar.

Demikian juga dengan orang-orang yang hanya diam ketika syariat ini diusik, disepelekan, dan dicela, kemudian mereka mengklaim moderat, tentu itu ucapan dusta. Siapa yang lebih moderat dibanding Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam mempraktikkan Islam? Ucapan mereka adalah bukti hilangnya rasa kecemburuan dan rasa memiliki agamanya sendiri.

Sumber: kisahmuslim.com

One thought on “2 Kesalahan Dalam Memahami Biografi Nabi (2)

Comments are closed.