2 Kesalahan Dalam Memahami Biografi Nabi

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah figur sempurna. Beliau menjadi teladan umatnya dalam segala hal. Tidak hanya dari sisi teori, tapi juga pengamalan dari teori tersebut. Ada nabi yang tidak punya istri. Beliau memiliki istri. Ada nabi yang tidak punya anak. Beliau memiliki anak, bahkan cucu. Sehingga umat beliau bisa meniru beliau dengan status apapun yang mereka sandang.

Manusia terkadang mencari-cari sosok teladan dalam keadaan yang sedang mereka hadapi. Apakah mereka tidak pernah membaca biografi nabi mereka?



Mereka yang ditimpa musibah kehilangan orang tua. Nabi kehilangan ayah sejak dalam kandungan ibu. Tak sempat memandang wajah sang ayah. Kehilangan ibu saat berusia enam tahun. Kemudian kehilangan kakek dan paman. Mereka yang kehilangan istri tercinta. Nabi kehilangan dua kekasih beliau, Khadijah dan Zainab binti Khuzaimah di masa hidupnya. Mereka yang bersedih karena kehilangan anak. Nabi memiliki tujuh orang anak. Semuanya wafat sebelum beliau, kecuali Fatimah.

Mereka yang jadi rakyat, yang jadi pemimpin, bisa meneladani beliau. Karena beliau pernah menjadi rakyat yang tertindas di Mekah. Dan menjadi pemimpin yang adil di Madinah. Mereka yang miskin dan kaya, pun tidak bingung mencari sosok teladan. Nabi pernah miskin bahkan sangat miskin di awal Islam. Kemudian kaya raya di akhir masa kenabian.

Karena pentingnya sosok nabi untuk diteladani, menjadi penting pula memahami dengan benar rekam jejak kehidupan beliau. Setidaknya ada dua kesalahan umum di tengah masyarakat kita dalam memahami biografi beliau.

Pertama: Nabi itu sepanjang hidupnya, hidup dalam keadaan miskin.

Inilah pandangan umum pertama. Mereka meyakini hidup nabi adalah hidup yang sulit. Merujuk kepada beberapa data berikut ini:

Pertama: Ummul mukminin, Aisyah radhiallahu ‘anha mengatakan,

مَا شَبِعَ آلُ مُحَمَّدٍ – صلى الله عليه وسلم – مُنْذُ قَدِمَ الْمَدِينَةَ مِنْ طَعَامِ الْبُرِّ ثَلاَثَ لَيَالٍ تِبَاعًا ، حَتَّى قُبِضَ

“Tidak pernah keluarga Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam kenyang dengan makanan dari gandum halus selama 3 hari berturut-turut, sejak beliau tiba di Madinah hingga beliau diwafatkan.” (HR. Bukhari 5416, Muslim 7633 dan yang lainnya).

Kedua: Aisyah radhiallahu ‘anha juga menuturkan,

إِنْ كُنَّا آلَ مُحَمَّدٍ نَمكُثُ شَهْرًا مَا نَسْتَوْقِدُ بِنَارٍ ، إِنْ هُوَ إِلا التَّمْرُ وَالْمَاءُ

“Sesungguhnya kami, keluarga Muhammad pernah selama sebulan tidak menyalakan api (tidak memasak apapun) kecuali kurma dan air.” (HR. Muslim 2972 dan at-Tirmidzi 2471).

Baca Juga :   Tempe Makanan Ajaib Dari Indonesia

Ketiga: Abu Hurairah menceritakan bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak pernah kenyang dengan roti gandum.

عن أبي هريرة رضي الله عنه أنه كان يشير بإصبعه مرارًا يقول: والذي نفس أبي هريرة بيده، ما شبع نبي الله صلى الله عليه وسلم وأهله ثلاثة أيام تباعًا من خبز حنطة حتى فارق الدنيا.

Dari Abu Hurairah radhiallahu ‘anhu, ia berkali-kali mengarahkan jarinya ke mulutnya, sembari mengatakan, “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dan keluarganya tidak pernah merasa kenyang dalam tiga hari berturut-turut karena memakan roti gandum. (Keadaan tersebut terus berlangsung) Hingga beliau berpisah dengan dunia”. (HR. Muslim 2976 dan Ibnu Majah 3343).

Keempat: Umar bin al-Khattab radhiallahu ‘anhu melihat bekas guratan tikar di pipi Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Umar berkisah tentang kebersamaannya dengan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, “Aku pernah berkunjung menemui Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Waktu itu beliau berada dalam sebuah kamar, tidur di atas tikar yang tidak beralas. Di bawah kepalanya ada bantal dari kulit kambing yang diisi dengan sabut. Pada kedua kakinya daun penyamak terkumpul. Di atas kepalanya, kulit kambing tergantung. Aku melihat guratan anyam tikar di sisi perutnya, maka aku pun menangis.”

Beliau mengatakan, “Apa yang menyebabkanmu menangis (ya Umar)?” “Wahai Rasulullah, Kisra dan Kaisar dalam keaadan mereka (selalu di dalam kesenangan, kemewahan, dan serba cukup), padahal engkau adalah utusan Allah.” Jawab Umar. Umar hendak menyatakan, Anda lebih layak menikmati isi dunia dibanding raja-raja itu karena Anda adalah utusan Allah. Rasulullah menjawab,

أَمَا تَرْضَى أَنْ تَكُونَ لَهُمُ الدُّنْيَا وَلَنَا الآخِرَةُ

“Apakah engkau tidak senang, bahwa dunia ini bagi mereka dan akhirat untuk kita?” (HR. al-Bukhari 4629 dan Muslim 1479).

Dan masih banyak lagi riwayat-riwayat yang bisa ditafsirkan bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah seorang yang miskin. Di sisi lain, ada riwayat-riwayat yang menunjukkan bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah seorang yang kaya. Tidak hanya kaya, tapi kaya raya. Seperti riwayat-riwayat berikut ini:



Pertama: Riwayat dari Umar bin al-Khattab yang menceritakan kondisi perekonomian nabi setelah Perang Khaibar di tahun 7 H.

كانت لرسول الله صلى الله عليه وسلم ثلاث صفايا: بني النضير وخيبر وفدك ، فأما بنو النضير فكانت حبسا لنوائبه ، وأما فدك فكانت حبسا لأبناء السبيل ، وأما خيبر فجزأها رسول الله ثلاثة أجزاء ، جزأين قسمهما بين الناس ، وجزءا نفقة لأهله ، وما فضل عن نفقة أهله حبسه أو جعله في فقراء المهاجرين. رواه أبو داود

Baca Juga :   7 Golongan Orang Yang Didoakan Malaikat

“Dahulu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mengambil tiga pilihan dari harta rampasan perang: Ladang peninggalan Bani Nadhir, ladang Khaibar, dan Fadak. Hasil ladang Bani Nadhir, beliau gunakan untuk membiayai berbagai keperluan beliau. Hasil ladang di Fadak, beliau persiapkan untuk orang-orang yang kehabisan bekal di perjalanan. Dan hasil ladang Khaibar beliau bagi menjadi tiga bagian: Dua bagian beliau bagi-bagikan kepada masyarakat, sedangkan bagian ketiga beliau gunakan untuk menafkahi keluarganya. Bila masih terdapat sisa, maka beliau wakafkan atau beliau distribusikan kepada kaum Muhajirin yang fakir miskin.” (Arifin Baderi, 2016, Konsep Kaya dan Miskin; Studi Anasilisa Status Sosial Nabi Muhammad, Hal: 22-23).

Dari hasil ladang negri Khaibar ini, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menafkahi istri-istrinya. Setiap tahun, masing-masing istri beliau mendapatkan nafkah sebesar 100 wasaq (takar) ; 80 wasaq kurma dan 20 wasaq gandum (Arifin Baderi, 2016, Konsep Kaya dan Miskin; Studi Anasilisa Status Sosial Nabi Muhammad, Hal: 22-23).

Sebagian literatur fiqih, menjelaskan bahwa 1 wasaq sebanding 60 Sha’a, dan satu Sha’a sama dengan 2040 gram, atau 2,040 Kg.

Berdasarkan data ini, maka kita dapat mengetahui bobot satu wasaq, yaitu: 2,040Kg x 60 = 122,4 Kg.

Selanjutnya berdasarkan hitungan ini, kita dapat mengetahui bahwa total nafkah yang beliau berikan kepada masing-masing istri beliau sebagai berikut: 80 x 122,4 = 9.792 Kg kurma.

20 x 122,4 = 2.448 Kg, gandum.

Bila kita asumsikan harga 1 Kg kurma senilai Rp 45.000, maka total nilai nafkah kurma setiap istri beliau ialah : 9.792 x Rp 45.000 = Rp. 440.640.000

Dan bila kita asumsikan harga 1 Kg gandum adalah Rp. 5.200,-

Maka nafkah gandum setiap istri beliau adalah senilai : 2.448 x Rp. 5.200 = Rp. 11.689.600



Bila nafkah kurma ditambahkan ke nafkah gandum maka total nila nafkah yang didapat oleh setiap istri beliau adalah = Rp. 440.640.000 + Rp. 11.689.600 = Rp.451.329.600.

Selanjutnya dapat diketahui nilai nafkah masing-masing istri beliau setiap bulan senilai Rp. 37.694.133,-

Padahal, beliau memiliki 9 orang istri, dengan demikian total nafkah beliau untuk seluruh istrinya, adalah: Rp. 451.329.600 x 9 = Rp.4.061.966.400,-

Dan masih banyak riwayat-riwayat lain yang menjelaskan bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah seorang yang kaya raya.

Baca Kesalahan Selanjutnya