Ketika Allah Tak Ada Pada Diri Kita

Congkop.xyz BAGAIMANA mungkin masih ada jiwa yang leluasa berjalan dengan membusangkan dadanya seolah ia lupa bahwa ada yang menyaksikan. Bagaimana mungkin masih ada jiwa yang merasa aman akan kelalaiannya padahal di depannya telah ada yang siap menantikan. Bagaimana mungkin masih ada jiwa yang merasa hidupnya akan abadi padahal di hadapannya telah ditunggu pengakuannya. Mungkinkah ia hanya sekadar lupa atau berpura-pura untuk lupa bahwa hidupnya hanyalah untuk membuktikan pengabdiannya kepada-Nya?

Masih adakah seorang muslim yang mengatakan bahwa ia masih mencintai Tuhannya? Tapi ia lupa bahwa cinta yang sesungguhnya adalah bentuk ketaatan kepada Allah. Bagaimana mungkin lisannya masih fasih mengatakan bahwa ia adalah insan yang begitu mencintai Allah.

Padahal jelas-jelas nyata bahwa ia perlahan telah mengisi waktunya dengan melupakan-Nya. Tentu, sebuah pengakuan saja tidak akan menjadi jawaban atas perkataannya di hadapan-Nya. Sebuah pengakuan adalah ruang pembuktikan bahwa apa yang dikatakan mampukah menjadi energi kebaikan yang membawanya pada kedalaman hati dan menjadi bukti ketaatan kepada-Nya.



Masihkah ada secercah dalam hati kita bahwa kita hadir dalam hidup ini semata bagian dari bentuk keinginan kita mengabdi dihadapan.-Nya. Bila kita hanya terus mengisi hari-hari dengan ragam kelalaian mungkinkah kita akan mendapatkan Syurga yang selama ini kita rindukan?

Bagaimana mungkin kita ingin mendapatkan itu bila untuk menghadirkan Tuhan saja dalam aktifitas kita terasa berat dan kita malah membiarkan itu bersemayam dihati. Kita pura-pura lupa, bahwa yang membiarkan desah nafas yang masih mengalir ini ialah Tuhan yang selama ini kita lupakan dan jauhi dalam hidup kita. Tentu kita perlu menyadari setiap rangkaian perjalanan hidup ini kelak akan ada penghakiman atas tingkah-tingkah busuk dalam diri kita.

Baca Juga :   Benarkah Islam Melarang Memanggil Ibu Dengan Panggilan Bunda?

Selama ini, banyak diantara kita hanya menjadikan Tuhan sebagai pemenuh kebutuhan saat kita berada dalam kesulitan saja. Kita hanya akan datang dan mengingat-Nya tatkala kita sudah merasa dalam kesulitan yang mendalam. Diluar itu kita menjadi manusia yang benar-benar seolah tidak mengakui kehadiran Tuhan. Bila itu yang terus kita lakukan, maka akan tibalah masa tatkala Tuhan akan menutup rapat-rapat hati kita.

Tak hanya itu Tuhan akan membiarkan pula menutup rapat-rapat pendengaran, penglihatan dari setiap kebenaran yang datang. Sebagai mana Tuhan menutup rapat orang-orang kafir. Yang tatkala datang kepadanya kebenaran ia tak berarti apa-apa dan tak membuatnya berubah. Bila itu benar-benar yang terjadi, kita hanya akan menjadi manusia yang berada dalam kerugian yang nyata.

Bila setiap kita menghadirkan Tuhan dalam setiap rangkaian aktivitas kita, tentu mungkin tak akan ada cerita seorang anak yang durhaka terhadap kedua orangtuanya, takkan ada pula cerita seorang pemimpin yang dzolim kepada rakyatnya, takkan ada cerita seorang wanita yang menggadaikan kehormatan dirinya, takkan ada cerita yang membuat jiwa terporak-porandakan dengan tindakan maksiat yang merugikan diri sendiri dan orang sekitarnya.

Bila Tuhan selalu ada dalam setiap jiwa kita, tentu kita akan mendengarkan cerita kesholihan seorang anak terhadap orangtuanya, menyaksikan pemimpin yang dicintai rakyatnya karena keteladanannya, dan segudang cerita yang menghantarkan bahwa hidup ini adalah rangkaian cerita satu kesatuan yang indah.



Kita telah semakin jauh dari-Nya dan semenjak itu banyak yang telah hilang dari kehidupan kita. Hidup menjadi rangkaian selaksa peristiwa yang menakutkan kemudian membuat hidup kita mencekam dan jauh dari ketenangan. Kadangkala setiap diantara jiwa kita merasa bahwa hidup seolah tanpa warna dan makna. Hanya kejenuhan yang mengisi hari-hari kita. Dan saat itu semua kita rasakan kita hanya menjadi manusia yang tak bernilai bila tanpa ada tarikan dalam hati dan jiwa untuk berubah dan menghadirkan Tuhan.

Baca Juga :   Inilah 6 Tanda Manusia yang Dicintai Jin

Jangan pernah mau terus membiarkan diri jauh dari Tuhan. Apalagi tidak menjadikan Tuhan sebagai tujuan utama jiwamu hidup. Bila itu, ketahuilah engkau telah salah mengambil jalan dan bersiaplah dalam jurang kesesatan dan kehancuran.