Dua Fitnah Yang Kerap Menipu Manusia

Congkop.xyz DEWASA kini kata ‘fitnah’ sudah menjadi sesuatu yang biasa, bahkan dijadikan sebuah tontonan (diumbar) halayak umum. Fitnah kian hari kian meraja rela. Bermunculan bagaikan jamur liar yang amat sulit tuk dibasmi.

Kini fitnah tak lagi sesuatu yang “mahal”, maksudnya sulit dijumpai dan tak banyak pula. Tetapi kini, fitnah menjadi sesuatu yang “murah”, jika Anda ingin “menemukan” fitnah, Anda tinggal menyalakan teve saja.

Fitnah ada dua macam: Fitnah syubhat dan ini yang lebih berbahaya serta fitnah syahwat. Kadang-kadang dua-duanya menjangkit pada se-orang hamba, tetapi terkadang hanya salah satunya.

1. Fitnah Syubhat

Adapun fitnah syubhat, maka hal itu disebabkan lemahnya bashirah dan sedikitnya ilmu, apalagi jika hal itu dibarengi dengan niat yang rusak dan hawa nafsu, maka akan timbul fitnah yang sangat besar dan maksiat yang keji. Karena itu, katakanlah apa yang kau kehendaki ten-tang kesesatan orang yang niatnya rusak, yang dipimpin oleh hawa naf-su dan bukan petunjuk, dengan kelemahan bashirah-nya. dan sedikit ilmu -yang dengannya Allah mengutus Rasul-Nya- yang ia miliki, dan sung-guh dia termasuk orang-orang yang Allah befirman tentang mereka,



“Mereka tidak lain hanyalah mengikuti sangkaan-sangkaan dan apa yang diingini oleh hawa nafsu mereka,” (QS An-Najm: 23).

Lalu, Allah mengabarkan bahwa mengikuti hawa nafsu akan menye-satkan dari jalan Allah. Allah befirman,

“Hai Daud, sesungguhnya Kami menjadikan kamu khalifah (penguasa) di muka bumi, maka berilah keputusan (perkara) di antara manusia dengan adil dan janganlah kamu mengikuti hawa nafsu, karena ia akan menyesatkan kamu dari jalan Allah. Sesungguhnya orang-orang yang sesat dari jalan Allah akan mendapat adzab yang berat, karena mereka melupakan Hari Perhitungan,” (QS Shad: 26).

Fitnah tersebut akan berakhir dengan kekufuran dan nifaq. Dan itu-lah fitnah orang-orang munafik serta para ahli bid’ah, sesuai dengan tingkat bid’ah mereka. Semua itu muncul karena fitnah syubhat, di mana menjadi samar antara yang haq dengan yang batil, antara petunjuk de-ngan kesesatan.

Tidak ada yang bisa menyelamatkan dari fitnah ini dengan memurnikan dalam mengikuti Rasul Shallallahu Alaihi wa Sallam, berhukum kepada beliau dalam seluruh persoalan agama, baik persoalan yang sepele maupun yang berat, secara lahir maupun batin, dalam aqidah maupun amal perbuatan, dalam hakikat maupun syariat.

Menerima dari Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam seluruh haki-kat iman dan syariat Islam, menerima apa yang ditetapkan bagi Allah tentang sifat-sifat, perbuatan dan nama-nama-Nya, juga menerima apa yang dinafikan daripada-Nya.



Sebagaimana ia juga menerima sepenuhnya dari beliau Shallallahu Alaihi wa Sallam tentang wajibnya shalat, waktu-waktu dan bilangannya, ukuran-ukuran nisab zakat dan yang berhak me-nerimanya, wajibnya berwudhu dan mandi karena jinabat serta wajibnya puasa Ramadhan.

Baca Juga :   Sobekan Kertas Bertebaran di Jalanan, Begitu Dilihat, Bikin Warga Terkejut dan Marah

Dengan demikian, ia tidak menjadikan beliau Shallallahu Alaihi wa Sallam sebagai rasul dalam masalah tertentu dari persoalan agama, tetapi tidak dalam masalah agama yang lain. Sebaliknya, men-jadikan beliau Shallallahu Alaihi wa Sallam sebagai rasul dalam segala hal yang dibutuhkan oleh umat, baik dalam ilmu maupun amal, tidak menerima (ajaran agama) kecuali daripadanya, tidak mengambil kecuali daripadanya.

Sebab seluruh petunjuk berporos pada sabda dan perbuat-annya, dan setiap yang keluar daripadanya adalah sesat. Karena itu, ji-ka ia mengikatkan hatinya pada hal tersebut dan berpaling dari yang selainnya, menimbang segala sesuatu dengan apa yang dibawa oleh Rasul Shallallahu Alaihi wa Sallam, jika berkesesuaian dengannya maka ia menerimanya, tidak karena siapa yang menyampaikannya, tetapi karena ia sesuai dengan risalah, dan jika bertentangan ia menolaknya, meski siapa pun yang mengucapkannya, jika semua hal itu yang ia lakukan maka itulah yang akan menyelamatkannya dari fitnah syubhat.

Dan jika ia tidak melakukan sebagian daripadanya, maka ia akan terkena fitnah syubhat tersebut, sesuai dengan tingkat perkara yang ia tinggalkan.

Fitnah-fitnah di atas, terkadang timbul karena pemahaman yang rusak, atau karena periwayatan yang dusta, atau karena kebenaran yang tegak itu tersembunyi dari orang tersebut, sehingga ia tidak bisa menda-patkannya, atau karena tujuan yang rusak dan hawa nafsu yang diikuti. Dan semua itu karena kebutaan dalam bashirah dan karenanya rusaknya iradah (keinginan).

2. Fitnah Syahwat

Fitnah yang kedua adalah fitnah syahwat. Allah menghimpun kedua fitnah tersebut (fitnah syahwat dan syubhat) dalam suatu firman-Nya.

“(Keadaan kamu hai orang-orang munafik dan musyrikin adalah) seperti keadaan orang-orang sebelum kamu, mereka lebih kuat dari-pada kamu, dan lebih banyak harta benda dan anak-anaknya daripada kamu. Maka mereka telah menikmati bagian mereka, dan kamu telah menikmati bagianmu,” (QS At-Taubah: 69).

Maksudnya, bagian tertentu dari dunia dan syahwatnya. Kemudian ayat selanjutnya menyebutkan,

“Dan kamu mempercakapkan (hal yang batil) sebagaimana mereka mempercakapkannya,”(QS At-Taubah: 69).

Mempercakapkan hal batil di sini adalah syubhat.

Dalam ayat di atas Allah menunjukkan sebab kerusakan hati dan agama, yakni karena menikmati syahwat dan tenggelam dalam kebatil-an. Sebab kerusakan agama itu bisa disebabkan oleh kepercayaan yang batil serta memperbincangkannya, dan bisa juga disebabkan oleh amal yang tidak sesuai dengan ilmu yang benar.



Yang pertama adalah bid’ah dan yang berkaitan dengannya, sedang yang kedua amal perbuatan yang fasik. Yang pertama rusaknya dari sisi syubhat dan yang kedua rusaknya dari sisi syahwat. Karena itu, para salaf berkata, “Berhati-hatilah terha-dap dua jenis manusia: Orang yang menuruti hawa nafsunya sehingga ia terkena fitnah dengannya dan orang yang mencari dunia sehingga dunia membutakannya.” Mereka juga berkata, “Berhati-hatilah dari fit-nah orang alim yang pendosa dan ahli ibadah yang jahil, sebab fitnah mereka adalah fitnah segala fitnah.”

Dan asal segala fitnah adalah mendahulukan akal daripada syara’, serta mendahulukan hawa nafsu daripada akal. Yang pertama merupakan asal dari fitnah syubhat dan yang kedua merupakan asal dari fitnah syahwat. Fitnah syubhat dihalau dengan keyakinan, dan fitnah syahwat dihalau dengan kesabaran. Karena itu, Allah menjadikan kepemimpinan dalam agama berdasarkan dua hal tersebut,

“Dan Kami jadikan di antara mereka itu pemimpin-pemimpin yang memberi petunjuk dengan perintah Kami ketika mereka sabar dan (ketika) mereka meyakini ayat-ayat Kami,” (QS As-Sajdah: 24).

Baca Juga :   Kalam Dan Syarat-Syaratnya

Ini menunjukkan bahwa kepemimpinan dapat diperoleh dengan ke-sabaran dan keyakinan. Dan Allah menghimpun pula dua hal tersebut dalam firman-Nya,

“Dan nasihat-menasihati supaya mentaati kebenaran dan nasihat-menasihat supaya menetapi kesabaran,” (QS Al-‘Ashr: 3).

Maka nasihat-menasihati supaya mentaati kebenaran itulah yang bisa menolak syubhat dan nasihat-menasihat supaya menetapi kesabar-an itulah yang bisa menolak syahwat. Dalam firman-Nya yang lain, Allah juga menghimpun antara dua hal tersebut,

“Dan ingatlah hamba-hamba Kami, Ibrahim, Ishaq dan Ya’kub yang memiliki perbuatan-perbuatan besar dan ilmu-ilmu yang tinggi,” (QS Shad: 45).

Ibnu Abbas berkata, “Yang memiliki kekuatan dalam mentaati Allah dan pengetahuan tentang-Nya.”

Al-Kalbi berkata, “Yang memiliki kekuatan dalam ibadah dan me-miliki ilmu tentang-Nya.”

Mujahid berkata, “Al-Aydi adalah kekuatan dalam mentaati Allah, sedang al-abshar adalah ilmu tentang kebenaran.”

Sa’id bin Jubair berkata, “Al-Aydi berarti kekuatan dalam beramal, sedangkan al-abshar adalah pengetahuan mereka tentang persoalan aga-ma mereka.”

Dengan kesempurnaan akal dan kesabaran, maka fitnah syahwat itu bisa ditolak, dan dengan kesempurnaan ilmu serta keyakinan maka fitnah syubhat itu juga bisa ditaklukkan. Dan hanya kepada Allahlah kita memohon pertolongan.

sumber:islampos.com