11 Perkara Sunnah Pada Hari Raya

DI hari raya, baik Idul Fitri maupun Idul Adha, ada beberapa hal yang disunnahkan untuk dilakukan. Apa saja sunnah tersebut?

Inilah sunnah-sunnah yang bisa diamalkan muslimin di hari raya.

  1. Mandi

Disunnahkan untuk mandi sebelum berangkat ke tempat shalat Idul Fithri atau Idul Adha. Dasarnya adalah atsar yang dilakukan oleh Umar radhiyallahuanhu, ahwa Abdullah Ibnu Umar ibnul Khattab radhiyallahuanhu mandi pada hari raya Idul Fitri sebelum berangkat shalat.

Dasar ini memang tidak langsung dari Rasulullah SAW, namun dari praktek shahabat Nabi. Tapi, Al-Imam An-Nawawi rahimahullah mengomentari bahwa atsar di atas adalah atsar yang shahih, sebagaimana tercantum dalam kitab beliau, Al-Majmu’ Syarah Al-Muhadzdzab.

Sedangkan hadits yang menyebutkan bahwa Rasulullah SAW mandi pada dua hari raya, oleh sebagian ulama dikatakan sebagai hadits yang lemah.



Dari Ibnu Abbas radhiyallahuanhu berkata bahwa Rasulullah SAW mandi pada hari Idul Fitri dan Idul Adha. (HR. Ibnu Hibban)

2. Berparfum

Disunnahkan bagi yang melakukan shalat Id untuk memakai parfum dan wewangian. Salah satu hikmah karena akan bertemu dengan khalayak banyak dalam kesempatan itu.

3. Berpakaian Terbaik

Disunnahkan untuk mengenakan pakaian dan perhiasan yang terbaik di hari Raya, khususnya pada saat datang ke tempat shalat.

Dari Jabir radhiyallahuanhu bahwa Nabi SAW memiliki jubah yang dikenakannya pada saat dua hari raya dan hari Jumat. (HR. Al-Baihaqi)

4. Makan atau Puasa Sebelum Shalat

Disunnahkan untuk makan pagi atau sarapan terlebih dahulu sebelum melaksanakan shalat Idul Fithri. Dasarnya adalah hadis, dari Anas bin Malik radliyallahuanhu berkata, “Rasulullah tidak berangkat pada Idul Fithri hingga beliau memakan beberapa kurma.” (HR. Bukhari)

Dalam hal ini Rasulullah SAW sebelum berangkat shalat Idul-Fithr sarapan atau makan pagi terlebih dahulu. Sebab, kurma adalah salah satu bahan makanan pokok sehari-hari orang Madinah, dan bukan sekedar makanan cemilan yang dimakan sebutir dua butir.

Khusus shalat Idul Adha, disunnahkan sebelum berangkat atau mulai shalat, untuk tidak makan terlebih dahulu. Kesunnahan itu didasarkan pada hadits, ari Buraidah -radliyallahu’anhu- berkata, “Nabi shallallahu’alaihi wa sallam tidak keluar pada Idul Fithri hingga makan terlebih dahulu. Adapun pada Idul Adha beliau tidak makan hingga pulang dari makan dari daging kurban sembelihannya.”

Dalam hal ini Al-Imam Asy-Syafi’i berfatwa dalam kitab Al-Umm,  “Kami memerintahkan bagi yang mendatangi tempat shalat Id untuk makan dan minum terlebih dahulu sebelum mendatangi tempat shalat. Bila tidak makan, kami perintahkan untuk makan di jalan atau di tempat shalat bila memungkinkan. Namun bila tidak, tentu tidak berdosa tetapi hukumnya makruh bila tidak dikerjakan.”

5. Bertakbir

Disunnahkan bagi orang yang melaksanakan shalat Idul Fithri dan Idul Adha untuk bertakbir. Dahulu orang-orang bertakbir di hari raya ketika mereka keluar dari rumah-rumah mereka hingga sampai di tempat shalat, sampai imam keluar, maka mereka pun diam. Bila imam bertakbir maka mereka pun bertakbir.

6. Beda Jalan Pergi dan Pulang

Disunnahkan untuk mengambil rute yang berbeda antara jalan pergi dan pulangnya.

7. Pergi ke tempat shalat id dengan berjalan kaki, bukan menaiki kendaraan (selama tidak ada uzur syar’i, seperti fisik yang lemah karena sakit atau sudah tua, rumahnya sangat jauh dari tempat shalat id, dan lain-lain).

Ali bin Abi Thalib radhiyallahu ‘anhu berkata, “Salah satu sunnah adalah berangkat menuju tempat pelaksaan shalat id dengan berjalan kaki.” (HR. At-Trimidzi; beliau berkomentar, “Hadits tersebut berderajat hasan.”)

8. Bertahniah



Disunnahkan untuk bertahniah pada hari Raya Fithr dan Adha, karena keduanya merupakan hari yang dirayakan.

9. Wanita ikut keluar mendatangi tempat pelaksanaan shalat id.

Ummu Athiyah radhiyallahu ‘anha menceritakan, “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam memerintahkan kami untuk mengajak keluar (menghadiri pelaksanaan shalat id) pada hari idul fitri dan hari idul adha; gadis mendekati baligh, wanita yang sedang haid, gadis pingitan. Adapun wanita haid maka mereka menjauhi tempat shalat, namun mereka turut menyaksikan kebaikan dan syiar kaum muslimin.

Saya bertanya, ‘Wahai Rasulullah, bagaimana jika salah seorang dari kami tidak punya jilbab.’ Beliau bersabda, ‘Hendaklah muslimah lain memberinya jilbab.’” (HR. Bukhari dan Muslim)

10. Hendaknya seorang muslim maupun muslimah menunaikan shalat id dengan hati yang khusyuk.

Hendaknya memperbanyak zikir kepada Allah, berdoa kepada-Nya, mengharap rahmat-Nya, dan takut akan azab-Nya. Ketika dia melihat lautan manusia di tempat pelaksanaan shalat id, dia sepatutnya mengingat sebuah hari yang lebih besar, ketika seluruh manusia dikumpulkan di hadapan Allah ‘Azza wa Jalla; itulah hari kiamat. Sewaktu dia melihat lautan manusia ini, hendaklah dia berdoa kepada Allah agar diberi keutamaan pada hari kiamat kelak. Allah Ta’ala berfirman:

“Perhatikanlah bagaimana Kami lebihkan sebagian dari mereka atas sebagian (yang lain). Pasti kehidupan akhirat lebih tinggi tingkatnya dan lebih besar keutamaannya.” (QS. Al-Isra’: 21)

11. bergembira

Allah Ta’ala berfirman,



“Katakanlah, ‘Dengan karunia Allah dan rahmat-Nya, hendaklah dengan itu mereka bergembira. Karunia Allah dan rahmat-Nya itu adalah lebih baik dari perbendaharaan yang mereka kumpulkan.’” (QS. Yunus: 53)

Puasa Ramadhan dan shalat tarawih yang dilakukan karena iman dan mengharap pahala dari Allah merupakan sebab diampuninya dosa dan disucikannya jiwa. Mukmin dan mukminah berbahagia karena Allah telah membantunya berpuasa Ramadhan sebulan penuh.

sumber:islampos.com

Leave a Reply

Your email address will not be published.