Kisah Khalifah Umar Menaklukkan Sungai Nil

Kisah Khalifah Umar bin Khattab RA (sahabat setia Rasulullah SAW) membebaskan sungai nil dari tradisi syirik telah diceritakan dalam banyak kitab. Kehebatan Khalifah Umar mengairi Sungai Nil dari bencana kering membuat rakyat Mesir dan Gubernur Amr bin Ash takjub dan bersuka cita.

Dikisahkan, ketika pasukan Islam di bawah kepemimpinan Amr bin Ash berhasil menaklukkan Negeri Mesir. Mereka menghadapi musibah keringnya Sungai Nil. Saat memasuki bulan Bu’unah (salah satu bulan dalam kalender yang berlaku di Mesir waktu itu), penduduk datang menghadapnya.


“Wahai Gubernur, sesungguhnya Sungai Nil kami ini memiliki tradisi yang airnya tidak akan mengalir kecuali dengan tradisi tersebut.” kata penduduk.

“Tradisi apakah itu?” jawab Amr bin Ash.

“Jika telah melewati tanggal 12 bulan Bu’unah, kami akan mengambil seorang anak gadis dari orang tuanya. Kami akan membujuk orangtua itu agar mau merelakan anak gadisnya sebagai tumbal. Lalu kami rias gadis itu dengan pakaian dan perhiasan yang menawan, lalu kami lemparkan ia ke sungai Nil,” jelas penduduk.

Amr bin Ash pun terkejut mendengar tradisi tumbal itu. Tradisi syirik sekaligus pembunuhan yang tidak dibenarkan. Masalah akidah sekaligus masalah hilangnya nyawa manusia. “Sesungguhnya tradisi ini tidak ada dalam Islam. Islam menghapus segala tradisi leluhur sebelumnya yang bertentangan dengan ajaranNya,” demikian tegas Amr bin Ash.

Sesuai arahan Amr bin Ash, mereka menahan diri melakukan tradisi tumbal itu. Mereka bersabar selama tiga bulan; Bu’unah, Abib dan Masra. Namun, air sungai Nil tidak juga mengalir seperti biasanya.

Tidak mendapatkan air adalah masalah besar bagi penduduk. Karenanya mereka berniat pindah dari daerah itu. Mengetahui kesulitan penduduk dan keinginan mereka untuk hijrah, Amr bin Ash mengirim surat kepada Khalifah Umar bin Khattab yang berada di Madinah. Ia menceritakan peristiwa yang terjadi dan meminta arahan Umar.

“Engkau benar. Sesungguhnya Islam menghapus seluruh tradisi yang buruk. Bersama surat ini, Aku kirimkan pula kepadamu lembaran kertas. Jika telah sampai kepadamu, lemparkanlah lembaran (surat) itu ke Sungai Nil,” kata Umar bin Khattab melalui suratnya.

Sebelum melempar kertas itu ke Sungai Nil, Amr bin Ash membuka dan membaca isinya. Berikut isi surat yang ditulis Khalifah Umar: “Dari hamba Allah Umar Amirul Mukminin kepada Sungai Nil penduduk Mesir, amma ba’du. Jika engkau mengalir semata-mata karena dirimu sendiri, maka janganlah mengalir! Akan tetapi, jika yang mengalirkanmu adalah Allah Yang Mahaesa lagi Mahaperkasa, maka kami memohon kepadaNya untuk mengalirkanmu.”

Amr bin Ash pun melemparkan kertas itu ke Sungai Nil tepat sehari sebelum rencana keberangkatan penduduk ke wilayah lain. Esoknya, pagi-pagi sebelum mereka berangkat, Sungai Nil telah dipenuhi air hingga sedalam enam belas hasta. Penduduk Mesir pun bergembira, mereka tidak jadi pindah ke wilayah lain.

Demikian kisah Khalifah Umar bin Khattab ini. Tidak hanya Sungai Nil kembali mengalir, tradisi tumbal (syirik) dalam kehidupan rakyat Mesir pun terhapus. Kisah ini merupakan satu dari banyak karomah yang dimiliki Umar bin Khattab.

Sumber: sindonews.com