Al-Qur’an dan “Dokumen Sejarah”(2)

Syekh Manna’ al-Qathhan melanjutkan penjelasannya:

أما إذا كان السبب خاصا ونزلت الآية بصيغة العموم فقد اختلف الأصوليون: أتكون العبرة بعموم اللفظ أم بخصوص السبب؟

Adapun jika ayat yang turun dalam konteks khusus namun menggunakan redaksi yang umum, maka para ulama Ushul al-Fiqh berbeda pandangan: apakah yang dijadikan pegangan itu keumuman teks atau kekhususan konteks?

Jumhur ulama berpegang pada keumuman teks. Zamakhsyari dalam penafsiran surat Al-Humazah di kitab tafsirnya al-Kasyaf mengatakan bahwa surat ini diturunkan karena sebab khusus, namun ancaman hukuman yang tercakup di dalamnya jelas berlaku umum, yaitu mencakup semua orang yang berbuat kejahatan yang disebutkan. Ibnu Abbas pun mengatakakan bahwa ayat Li’an, yang turun pada Hilal bin Umayyah dan istrinya, kandungan hukumya berlaku umum, tidak hanya bagi Hilal dan istrinya saja.


Bagaimana kalau lafadhnya khusus ditujukan kepada Nabi? Para ulama melihat terlebuh dahulu apakah ada indikasi (qarinah) untuk Nabi saja atau untuk umatnya? Misalnya dalam QS at-Tahrim ayat 1 ditujukan kepada Nabi, tapi di ayat selanjutnya digunakan lafadh umum. Maka ini indikasi hukum yang dikandung ayat tersebut ditujukan juga untuk umat.

Namun ada kalanya ayat tersebut memang khusus untuk Nabi, khususnya dalam kaitan dengan tugas kenabian beliau. Misalnya ketika al-A’raf ayat 158 meminta Nabi mengumukan beliau sebagai Rasul. Tentu ini khusus untuk Nabi, karena mustahil semua orang boleh mengaku jadi Rasul. Begitu juga ayat yang menyebut Nabi diutus sebagai rahmatan lil alamin maka ini khusus untuk Nabi. Tapi pesan moralnya tentu juga berlaku untuk umatnya.

Terakhir, ada ayat al-Qur’an yang turun dalam konteks kesejarahan masa lalu dan kini sulit diaplikasikan karena dunia telah berubah, alias konteksnya pun berubah. Masihkah kita harus mengamalkannya sekarang? Contohnya adalah ayat perbudakan. Misalnya kebolehan menyetubuhi budak.

وَالَّذِينَ هُمْ لِفُرُوجِهِمْ حَافِظُونَ إِلاعَلَى أَزْوَاجِهِمْ أوْ مَا مَلَكَتْ أَيْمَانُهُمْ فَإِنَّهُمْ غَيْرُ مَلُومِينَ

“Dan orang-orang yang menjaga kemaluannya, kecuali terhadap isteri-isteri mereka atau budak yang mereka miliki; maka sesungguhnya mereka dalam hal ini tiada tercela.” (QS 23:5-6)

Bagaimana mau menerapkan ayat ini dalam konteks sekarang dimana perbudakan tidak ada lagi?

ISIS punya jawaban: ciptakan lagi perbudakan agar ayat al-Qur’an tetap berlaku. Tidak aneh kita membaca berota bagaimana banyak wanita dijadikan budak oleh ISIS. Apa kita mau seperti ini? Seolah memutar kembali jarum jam sejarah ke belakang. Bahaya banget kan!?

Maka di sinilah pentingnya penafsiran, dimana kita kembali pada pesan moral al-Qur’an yang justru hendak menghapus perbudakan 15 belas abad yang lampau. Kembali ke pesan moral-etis ini yang juga harus kita lakukan dalam menafsirkan al-Qur’an pada konteks relasi kita dengan ahlul kitab, yaitu Yahudi dan Nasrani, untuk konteks sekarang. Pesan ‘Rahmah’ menjadi petunjuk buat kita dalam memahami aplikasi ayat suci.

Kita tidak meninggalkan ayat al-Qur’an ketika mengatakan al-Qur’an sebagai ‘dokumen sejarah’. Justru kita hendak menegaskan bahwa mustahil memahami pesan moral-etis al-Qur’an tanpa memahami sejarah umat lalu dan sejarah turunnya ayat al-Qur’an itu sendiri. Mengatakan al-Qur’an sebagai ‘dokumen sejarah’ bukan menganggap al-Qur’an sebagai kisah dongeng yang harus ditinggalkan, tapi justru mengambil inti dari pesan al-Qur’an untuk diterapkan pada kondisi saat ini.

Sumber: Islami.co