6 Jenis Ghibah yang Diperbolehkan, Ketahuilah Agar Anda Tak Salah Paham

Ghibah itu adalah menyebutkan sesuatu yang terdapat pada diri seorang, sementara orang itu nggak suka kalau hal tersebut disebutkan. Sesuatu itu bisa soal fisiknya, sikapnya, keimanannya, ketaqwaannya, hal-hal yang dimilikinya, fakta pengalaman aktivitasnya, kata-katanya, dan sebagainya.

Dan ghibah itu bisa banyak macamnya. Di antaranya dengan membeberkan aib, menirukan tingkah laku, atau gerak tertentu dari orang yang dipergunjingkan dengan maksud mengolok-ngolok.


Saya kira dasar dalil syara’-nya yang mengharamkan ghibah itu sudah kita pahami bersama.

Namun, meski begitu, ada kondisi-kondisi di mana ghibah itu boleh, tidak dilarang.

Kondisi-kondisi tersebut perlu kita ketahui. Apalagi mengingat beberapa saat yang lalu, ada oknum sekelompok orang yang melarang orang lain mengungkap kedzoliman karena katanya hal tersebut merupakan ghibah, sedangkan ghibah itu tidak boleh. Padahal, kalau ghibah dalam rangka mengungkap kedzoliman, itu boleh.

Nah, maka dari itu, silahkan simak pembahasan berikut ini, terkait bahwa ghibah diperbolehkan untuk tujuan yang sah menurut syari’at, di mana ada suatu keperluan yang tidak dapat tercapai kecuali dengan melakukan ghibah tersebut.

Ada 6 kondisi yang membolehkan ghibah itu dilakukan. Berikut ini 6 kondisi tersebut, yang saya sadur dari Zendarr yang notebene refrensinya dari Kitab Riyadush Sholihin-nya Imam An-Nawawi.

1. Mengadukan kezhaliman (at-tazhallum)

Boleh bagi orang yang dizhalimi untuk mengadukan kezhaliman yang menimpa dirinya kepada penguasa, qadhi, atau yang memiliki otoritas hukum ataupun pihak yang berwajib lainnya.

Ia dapat menuntut keadilan ditegakkan, misalnya dengan mengatakan si Fulan telah melakukan kezhaliman terhadapku dengan cara seperti ini dan itu.

2. Permintaan bantuan untuk mengubah kemungkaran, dan mengembalikan pelaku maksiyat pada kebenaran (al isti’ânah ‘ala taghyîril munkar wa raddal ‘âshi ila ash shawâb)

Maka seseorang boleh menyampaikan kepada orang yang diharapkan mampu menghilangkan kemungkaran tersebut, dengan mengatakan bahwa si Fulan telah berbuat begini, hingga selamatlah orang tersebut dari kemaksiyatan atau kemungkaran.


Ataupun dengan pernyataan lain yang sejenis dengan itu, yang jelas maksudnya adalah mengarah kepada terhilangkannya suatu kemungkaran.

Tapi jika tidak mengarah kepada hal semacam ini, maka tersebut adalah haram.

3. Permintaan fatwa (al istiftâ`)

Misal seseorang mengatakan kepada seorang mufti (pemberi fatwa), “Ayahku (atau saudaraku atau suamiku atau fulan) telah menzhalimi aku dengan cara begini. Lalu apa yang harus aku perbuat padanya?; bagaimana cara agar aku terlepas darinya, mendapatkan hakku, dan terlindung dari kezhaliman itu?” Atau pernyataan apapun yang semacam itu.

Maka ini hukumnya boleh jika diperlukan. Tapi lebih tepat dan lebih afdhal jika ia mengatakan, “Bagaimana pendapat Anda tentang orang atau seoseorang, atau seorang suami yang telah memperbuat hal seperti ini?” Maka ini dapat membuatnya mencapai hasil (jawaban) tanpa harus menyebutkan rinciannya (tanpa perlu menyebut siapa orangnya).

Meskipun demikian, tetap diperbolehkan untuk melakukan rincian (at ta’yîn), sebagaimana yang akan kami sebutkan dalam hadits dari Hindun nanti, insya Allah.

4. Memperingatkan kaum muslimin agar waspada terhadap suatu keburukan dan menasihati mereka (tahdzîrul muslimîn min asy syarr wa nashîhatuhum)

Ini ada beberapa bentuk, diantaranya adalah menyebutkan keburukan sifat orang yang memang pantas disebutkan keburukannya (jarhul majrûhîn) yakni dari kalangan para perawi hadits dan saksi-saksi (di pengadilan, red).

Hal ini diperbolehkan menurut ijma’ kaum muslimin. Bahkan bisa menjadi wajib untuk suatu keperluan tertentu.

Contoh lainnya adalah meminta masukan atau pendapat (musyawarah) tentang rencana melakukan pernikahan dengan seseorang (mushâharah), kerjasama, memutuskan kerjasama, mua’amalat dan lain sebagainya, atau tentang hubungan ketetanggaan. Maka wajib bagi orang yang dimintai masukan untuk tidak menyembunyikan informasi seputar orang yang ingin diketahui keadaan dirinya. Bahkan ia mesti menyebutkan perangai-perangai buruknya yang memang diniatkan untuk melakukan nasehat.

Yang juga termasuk dalam point ini adalah bahwa ia memiliki kekuasaan yang tidak ia tegakkan dengan semestinya. Boleh jadi karena memang ia tidak layak. Atau boleh jadi karena ia fasiq maupun lalai, atau yang sejenis dengan itu. Maka wajib hal itu diungkapkan kepada orang yang memiliki kewenangan lebih tinggi di atasnya agar kelalaian itu dihilangkan atau orangnya diganti dengan yang lebih kompeten. Atau diinformasikan mengenai apa saja agar pemilik otoritas yang lebih tinggi dapat mengambil treatment sesuai tuntutan keadaan orang yang lalai tersebut. Ia tidak boleh lengah. Ia harus berusaha untuk mendorongnya agar istiqomah atau menggantinya.

5. Seseorang memperlihatkan secara terang-terangan (al- mujâhir) kefasiqan atau perilaku bid’ahnya

Sebagaimana orang yang yang memperlihatkan perbuatan minum khamr, menyita, mengambil upeti, pengumpulan harta secara zhalim, memimpin dengan sistem yang bathil. Maka ini boleh untuk disebutkan dikarenakan perbuatan itupun dilakukan terang-terangan (mujâharah).

Adapun hal-hal lain yang merupakan aib yang disembunyikan, tidak boleh turut disebut-sebut. Kecuali, adanya kebolehan yang disebabkan oleh alasan yang telah kami sebutkan pada 4 point sebelumnya.

6. Penyebutan nama (at-ta’rîf)

Jika seseorang telah dikenal luas dengan nama laqab (julukan) seperti al-A’masy (Si Kabur Penglihatannya) atau al-A’raj (Si Pincang), atau al- Ashamm (Si Tuli), al-A’maa (Si Buta), al-Ahwal (Si Juling), dan lain sebagainya maka boleh menyebut nama mereka dengan sebutan itu. Dan diharamkan menyebutkan sisi kekurangannya yang lain.

Maka, jika memungkinkan untuk menyebutkan namanya selain dengan menggunakan julukan seperti itu, maka tentu lebih diutamakan.

Inilah 6 sebab yang disebutkan oleh para ulama, dan sebagian besarnya mereka sepekati. Adapun dalil-dalilnya adalah dari hadits-hadits shahih yang masyhur, diantaranya adalah:

عن عائشة رضي الله عنها أن رجلا استأذن على النبي صلى الله عليه وسلم فقال‏:‏ “ائذنوا له، بئس أخو العشيرة‏؟‏ ‏”‏ ‏(‏‏(‏متفق عليه‏)‏‏)‏‏.‏

Dari Aisyah r.anha bahwa seseorang meminta izin pada Nabi SAW, lalu beliau berkata: izinkanlah ia, seburuk-buruk saudara suatu kabilah. (Muttafaq Alaih)

Al Bukhori berhujjah dengan hadits ini mengenai kebolehan berghibah terhadap ahlul fasad (pembuat kerusakan) dan ahlu ar rayb (menciptakan keraguan).

وعنها قالت‏:‏ قال رسول الله صلى الله عليه وسلم‏:‏ ‏”‏ما أظن فلانًا وفلانًا يعرفان من ديننا شيئًا‏”‏ ‏(‏‏(‏رواه البخاري‏)‏‏)‏‏.‏ قال الليث بن سعد أحد رواة هذا الحديث‏:‏ هذان الرجلان كانا من المنافقين

Dan masih dari Aisyah, ia berkata: Rasulullah SAW bersabda, aku melihat si fulan dan si fulan tidaklah mengetahui sedikitpun dari perkara agama kami. (HR al Bukhari). Al Layts ibn Sa’ad—salah seorang perawi hadits ini—berkata: kedua orang yang disebut di sini adalah orang munafiq.
Sumber: teknikhidup.com