Pages: 1 2

Hal-hal yang Berkaitan Dengan Mahar

Mahar adalah apa yang diberikan kepada isteri berupa harta atau selainnya dengan sebab pernikahan.

Hukum Keberadaannya

Pertama: Larangan Bermahal-mahal Dalam Mahar
Terdapat larangan bermahal-mahal dalam mahar dalam sejumlah hadits, kita sebutkan di antaranya:



1. Apa yang diriwayatkan oleh Imam Ahmad dari Abu Hadrad al-Aslami bahwa dia datang kepada Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam untuk meminta fatwa tentang wanita, maka beliau bertanya: “Berapa engkau memberi mahar kepadanya?” Ia menjawab: “Dua ratus dirham.” Beliau bersabda:

لَوْ كُنْتُمْ تَغْرِفُوْنَ مِنْ بَطْحَاءَ مَا زِدْتُمْ.

“Seandainya kalian mengambil dari Bathha’, niscaya kalian tidak menambah.”

2. Ahmad meriwayatkan dari Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam:

إِنَّ مِنْ يَمْنِ الْمَرْأَةِ تَيْسِيْرُ صَدَاقُهَا وَتَيْسِيْرُ رَحِمُهَا.

“Di antara kebaikan wanita ialah memudahkan maharnya dan memudahkan rahimnya.”

‘Urwah berkata: “Yaitu, memudahkan rahimnya untuk melahirkan.”

3. Abu Dawud meriwayatkan dari ‘Uqbah bin ‘Amir Radhiyallahu anhu, ia mengatakan: “Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

خَيْـرُ النِّكَـاحِ أَيْسَـرُهُ.

‘Sebaik-baik pernikahan ialah yang paling mudah.’”

Dalam riwayat Ahmad:

إِنَّ أَعْظَمَ النَّكَـاحِ بَرَكَةً أَيَْسَرُهُ مُؤْنَةً.

“Pernikahan yang paling besar keberkahannya ialah yang paling mudah maharnya.”

Di antara contoh yang harus kita ikuti dalam masalah meringankan mahar dan tidak bermahal-mahal di dalamnya ialah sebagai berikut.

Kedua: Menikahkan Dengan Bacaan al-Qur’an dan Tanpa Mahar (Harta)
Imam al-Bukhari meriwayatkan dari Sahl bin Sa’ad as-Sa’idi Radhiyallahu anhu, ia mengatakan, “Aku berada di tengah kaum di sisi Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam, tiba-tiba seorang wanita berdiri lalu mengatakan:

‘Wahai Rasulullah, sesungguhnya dia menghibahkan dirinya kepadamu, maka bagaimana pendapatmu mengenainya?’ (Dalam riwayat Malik: “Sesungguhnya aku menghibahkan diriku kepadamu”).

Beliau tidak menjawabnya sedikit pun. Kemudian ia berdiri kembali lalu berkata: ‘Wahai Rasulullah, dia menghibahkan dirinya kepadamu, maka bagaimana pendapatmu mengenainya?’

Beliau tidak menjawabnya sedikit pun. Kemudian dia berdiri untuk ketiga kalinya lalu berkata: ‘Dia telah menghibahkan dirinya kepadamu, maka bagaimana pendapatmu mengenainya?’

Lalu seorang pria berdiri dan mengatakan, ‘Wahai Rasulullah, nikahkanlah aku dengannya?’

Beliau bertanya, ‘Apakah engkau mempunyai sesuatu?’

Ia menjawab: ‘Tidak.’

Beliau bersabda: ‘Pergilah, lalu carilah walaupun cincin yang terbuat dari besi!’

Ia pun pergi dan mencari, kemudian datang seraya mengatakan: ‘Aku tidak mendapatkan sesuatu, dan tidak pula mendapatkan cincin dari besi.’

Beliau bertanya: ‘Apakah engkau hafal suatu surat dari al-Qur-an?’

Ia menjawab: ‘Aku hafal ini dan itu.’

Beliau bersabda: ‘Pergilah, karena aku telah menikahkanmu dengannya, dengan mahar surat al-Qur-an yang engkau hafal.’”



Ketiga: Rasul Shallallahu Alaihi Wa Sallam Merekomendasikan Pernikahan Dengan Mahar Emas Seberat Biji
Imam al-Bukhari meriwayatkan dari Anas bahwa ‘Abdurrahman bin ‘Auf menikahi seorang wanita dengan mahar seberat biji. Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam melihat keceriaan pengantin (padanya) lalu bertanya kepadanya, maka dia menjawab: “Aku menikahi seorang wanita dengan mahar seberat biji (emas).” Dalam riwayat lain bahwa ‘Abdurrahman bin ‘Auf menikah dengan mahar seberat biji emas.

Keempat: Rasulullah Shallallahu ‘alaihi Wa sallam Mengajarkan Kepada Kita Kemudahan Dalam Mahar Agar Kita Meneladaninya
Imam Abu Dawud meriwayatkan dari ‘Abdullah bin ‘Abbas Radhiyallahu anhuma, ia mengatakan, “Ketika ‘Ali menikah dengan Fathimah Radhiyallahu anhuma dan hendak menggaulinya, maka Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, ‘Berikanlah sesuatu kepadanya.’

Ia mengatakan, ‘Aku tidak mempunyai sesuatu.’ Beliau bertanya, ‘Di mana baju besimu (دِرْعُكَ)?’ Lalu ia memberikan baju besinya kepada Fathimah, kemudian menggaulinya.’”

Ad-dir’u adalah baju yang dipakai oleh orang yang berperang untuk melindungi diri dari berbagai bahaya.

Kelima: Kisah Seorang Wanita Yang Memberitahu Kaum Pria Dan Wanita Supaya Bersikap Toleran Dalam Mahar
Imam an-Nasa-i meriwayatkan dari Tsabit, dari Anas, ia mengatakan, “Abu Thalhah meminang Ummu Sulaim, maka ia mengatakan, ‘Demi Allah, wahai Abu Thalhah, orang sepertimu tidak akan ditolak. Tetapi engkau adalah seorang kafir, sedangkan aku wanita muslimah, dan tidak halal bagiku menikah denganmu. Jika engkau masuk Islam, maka itulah maharku dan aku tidak meminta selainnya.’ Lalu Abu Thalhah masuk Islam, dan itulah maharnya.”

Tsabit berkata: “Aku tidak mendengar seorang wanita pun yang lebih mulia maharnya daripada Ummu Sulaim, yaitu Islam. Lalu Abu Thalhah menggaulinya, dan dia melahirkan anak untuknya.”

Keenam: Mahar Pada Masa Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam