Engkau Adalah Putri Seorang Nabi, Pamanmu Seorang Nabi dan Engkau Menjadi Istri Seorang Nabi

Diriwayatkan dari Anas r.a dia berkata: ‘Shafiyyah mendengar bahwa Hafshah berkata tentangnya bahwa dia adalah putri dari seorang Yahudi.’

Shafiyyah pun menangis. Ketika Rasulullah SAW masuk menemuinya, beliau mendapatinya sedang menangis. Beliau pun bertanya: “Kenapa engkau menangis?”



Shafiyyah menjawab: ‘Hafshah berkata kepadaku bahwa aku putri seorang Yahudi.’ Maka Rasulullah SAW pun berkata: “Engkau adalah putri seorang nabi, pamanmu seorang nabi dan engkau menjadi istri seorang nabi. Lalu apa yang membuatnya membanggakan diri di atasmu?” Lalu beliau berkata kepada Hafshah: “Bertaqwalah kepada Allah, hai Hafshah.”

Bahkan pada suatu kesempatan Aisyah r.a pernah mengejek Shafiyyah bahwa dia itu bertubuh pendek. Rasulullah SAW sangat tidak senang dengan hal itu.

Diriwayatkan dari Aisyah r.a, dia berkata: ‘Aku berkata kepada Rasulullah SAW: Shafiyyah begini dan begini (maksudnya dia bertubuh pendek). Maka Rasulullah SAW bersabda: “Engkau telah mengucapkan sebuah kata kalau dicampurkan ke air laut pasti laut akan tercemar.”

Hal yang mirip dengan itu juga terjadi pada Zainab binti Jahsy r.a, maka Rasulullah SAW pun memarahinya.

Diriwayatkan dari Shafiyyah binti Huyay r.a: Rasulullah SAW menunaikan haji bersama para istrinya. Tiba-tiba unta Shafiyyah berlari meninggalkannya dan Shafiyyah pun menangis. Rasulullah SAW lalu mendatanginya ketika hal itu disampaikan kepada beliau.

Baca Juga :   Rasulullah SAW: Seandainya Setelahku Ada Lagi Nabi, Maka Inilah Orangnya.

Lalu beliau mengusap air matanya dengan tangan beliau dan Shafiyyah terus menangis. Rasulullah SAW pun bergabung kembali dengan orang-orang, hingga ketika sampai di Rawah, beliau berkata kepada Zainab binti Jahsy r.a: “Pinjamkan saudarimu unta.” Zainab lalu berkata: “Aku meminjamkan Yahudimu!”

Maka Rasulullah SAW pun marah dan tidak menegurnya hingga kembali ke Madinah. Hal itu terus berlanjut sampai bulan Muharram dan Shafar. Beliau tidak memberi jatah hari untuknya sehingga Zainab binti Jahsy r.a merasa putus asa atas beliau.



Maka ketika memasuki bulan Rabiul Awwal, beliau pun mendatangi Zainab binti Jahsy r.a. Ketika melihat beliau, Zainab bertanya kepada beliau:

‘Wahai Rasulullah SAW, apa yang harus aku lakukan?” Waktu itu Zainab memiliki budak perempuan yang disembunyikannya dari Rasulullah SAW. Maka Zainab berkata: ‘Dia untukmu.’

Maka Rasulullah SAW berjalan menuju tempat tidurnya  yang waktu itu telah dilipat, kemudian beliau membuka kembali lipatan tempat tidur tersebut dan beliau memaafkan (Zainab bin Jahsy r.a), menerima dan ridha dengan keluarganya.

Demi Allah, Dia Jujur
Jika seorang manusia itu memiliki fitrah yang bersih dan ruhani yang suci, dia akan selalu berbicara jujur dan tidak akan pernah mencoba berdusta. Sifat ini membuat pemiliknya dihormati oleh semua orang.

Baca Juga :   Benarkah Bayi yang Meninggal Dapat Memberi Syafaat Kelak Di Mahsyar?

Oleh karena itu, Ummul Mukminin Shafiyyah r.a memiliki ruhani yang bersih dan jasmani yang suci. Dia mencintai Rasulullah SAW dan jujur dalam rasa cintanya kepada Allah SWT.

Maka tingkah lakunya muncul dari kepribadian yang jujur, yang membuatnya lain sendiri dalam beberapa kesempatan. Rasulullah SAW sendiri mengakui kejujuran Shafiyyah setelah beliau bersumpah atas hal itu.

Diriwayatkan dari Zaid bin Aslam: Waktu itu Rasulullah SAW sedang sakit menjelang wafatnya. Shafiyyah binti Huyay r.a berkata: ‘Demi Allah, wahai Nabi Allah, andai aku bisa menggantikan dirimu untuk menanggung sakit ini.’

Maka para istri Rasulullah SAW yang lain saling memberi isyarat meremehkan ucapan Shafiyyah itu. Rasulullah SAW melihat hal itu, lalu beliau berkata: “Berhentilah kalian.”

Para istri Rasulullah SAW bertanya: ‘Berhenti dari apa?’ Jawab Rasulullah: “Dari sikap kalian yang meremehkan Shafiyyah. Demi Allah, sesungguhnya dia itu jujur dengan apa yang dikatakannya.”

Sungguh sebuah keistimewaan yang luar biasa untuk ummul mukminin Shafiyyah r.a ketika kejujurannya diakui oleh Rasulullah SAW, sosok yang tidak berbicara dari hawa nafsunya. Bahkan Rasulullah SAW sampai bersumpah untuk itu.

Sumber: syahida.com