Fenomena Ngirit Hanya Demi Beli Secuil Kue Dengan Harga Selangit Biar Bisa Foto di Tempat Elit

Fenomena remaja urban yang mendewakan gengsi dan gaya hidup merupakan fenomena tersendiri yang sulit didefinisikan.

Ada banyak kejanggalan yang tentu diluar nalar tentang pengorbanan yang rela menahan lapar, rela gadai, tunggak sana-sini, bobol kartu kredit hanya untuk sebuah prestise semu.


Disini redaksi sholihah akan paparkan sebuah tulisan utuh dari Luthfi Ersa Fadhilah terkait fenomena serupa. Judul asli dari tulisan di bawah ini adalah Gaya Hidup Semu dan Diri Palsu:

Ada ragam cara bagi anak muda untuk menunjukkan eksistensi dirinya. Dari mulai menggunakan cara yang paling umum hingga cara paling berlebihan dan terkadang agak nyeleneh.

Kesemuanya tak lain didorong atas nama kultur “kekinian” dan hasrat mobilitas sosial atas dirinya sendiri.

Saya tidak hanya berbicara dan menyoroti sebuah kultur anak muda tetapi juga diri anak muda itu sendiri. Dan, itu yang akan menjadi titik fokus utama tulisan ini.

Kenyataan bahwa anak muda yang menahan lapar hanya untuk dapat menikmati sebuah kue kecil atau minuman segelas yang harganya selangit di tempat yang juga selangit hingga sulit terjamah kaum jelata.

Hingga rela menggunakan berhutang kartu kredit untuk membeli barang yang secara fungsional bisa di pasar atau toko-toko kecil menyiratkan sebuah pola berpikir yang sulit dicerna.

Ada ungkapan sindiran yang sering kita lihat di banyak meme, salah satunya adalah “Lebih baik menggunakan dompet seharga satu dollar dan memiliki uang 99 dollar didalamnya dari pada sebaliknya” juga “Kita membeli barang yang tidak bisa kita beli untuk membuat kagum orang yang tidak kita suka”.

Arti dari sindirian itu sebetulnya sederhana, kita dihimbau untuk lebih berhati-hati untuk tidak melakukan sesuatu yang sia-sia dengan uang kita.

Baca Juga :   Kisah 15 Hari Buya Hamka ‘Disiksa’ Penguasa

Sayangnya, kultur yang sedang dibuat oleh anak muda kantoran ini justru memaksa mereka untuk melakukan segala kesia-siaan itu.

Saya ingin memberikan sebuah refleksi sosial dari fenomena ini. Selalu ada makna di balik setiap tindakan sosial seorang individu.

Dari gambaran aktivitas konsumtif  oleh anak muda membuat saya mulai berpikir bahwa mereka sebetulnya ingin mencoba mendefinisikan diri mereka sendiri dari pandangan orang lain.

Seorang sosiolog bernama Charles Horton Cooley (selanjutnya disebut Cooley) menjelaskan sebuah konsep jitu bernama Looking Glass Self.


Penjelasan sederhana dari konsep ini adalah Aku adalah apa yang kamu pikirkan tentang diriku. Artinya, seseorang akan mendefinisikan identitas, self esteem dan juga segala hal yang berkaitan tentang dirinya sendiri dari sudut pandang orang lain.

Dengan alur berpikir yang demikian, sampai kapanpun  sebetulnya ia akan sulit menjadi dirinya sendiri karena seringnya bergantung pada penilaian orang lain.

Penjelasan ini kemudian tersirat secara jelas dari apa yang telah dijelaskan di atas bahwa segala bentuk aktivitas hedonistik itu semata-mata dilakukan tidak lain untuk menemukan diri mereka sendiri.

Sebagai contoh paling sederhana adalah memakai tas seharga ratusan juta hanya untuk dikira sebagai orang kaya.

Makan di restoran mahal (yang saya ragu apakah ia sendiri menyukai makanan itu karena tidak semua makanan mahal rasanya enak) hanya agar orang berpikir bahwa dirinya ‘eksis’.

Implikasi utama dari perspektif Cooley yang seringkali dilupakan oleh para ‘eksmud’ ini adalah mereka sebenarnya sedang mengejar sesuatu yang semu.

Pun, mereka mendapatkan yang mereka mau, tidak akan bertahan lama. Sesuatu yang tidak akan memberikan efek pijakan atas dirinya sendiri yang bersifat kokoh.

Baca Juga :   Haramkah Chatting dengan Teman Lawan Jenis?

Social climbing yang diimpikan akan terlalu rapuh. Mengapa? Karena target-target yang dituju hanya sesuatu yang bersifat sekelibat lupa.

Mereka menggunakan gadget terbaru, tas termahal, makan dan ngopi di tempat yang viewnya cocok dipasang di Instagram atau sekedar check in di sosial media lain hanya sekedar untuk mendapatkan perhatian dan penilaian sederhana, “Duh, jalan-jalan mulu nih” atau “Waah, keren banget sih tempatnya”.

Atau bahkan sekedar untuk menginisiasi pandangan pribadi, “Saya eksis lho!”. Sepertinya, dengan biaya semahal itu, tentu saya tidak berniat mencobanya.

Yang klise adalah mereka tidak sepenuhnya tak sadar akan hal itu. Mereka sadar bahwa mereka harus mengeluarkan banyak uang dan rela menanggung lapar juga gengsi bahkan mereka wajib berstrategi supaya tidak ketahuan orang lain.

Hal ini meninggalkan pertanyaan untuk saya. Mengapa sejak awal para anak muda kantoran yang hanya sekedar ikut-ikutan trend atau memang berniat sekali mendapatkan promosi jabatan tidak membuat suatu karya saja yang tidak hanya membuat dirinya lebih fungsional.

Fair dalam mendapat prestise status sosial di tempat kerja dan juga sebagai pembuktian kepada diri sendiri juga di mata publik bahwa memang dirinya benar-benar seorang pekerja yang berkualitas dan berkompetensi tinggi?

Tanpa sadar, gaya hidup anak muda kaum urban yang seringkali mengimitasi gaya hidup kelas atas tidak hanya membuat sebuah struktur yang mendorong individu untuk keluar dari dirinya sendiri, menjauhinya dan kemudian memaksa mencarinya sendiri dari sudut pandang orang lain tetapi juga menggadaikan dan mengikis realitas kebenaran akan dirinya sendiri.

Sumber: sholihah.web.id