Aku Menyesal Telah Mengkhianati Suamiku

Roda kehidupan memang terus berputar. Saat suamiku jatuh bangkrut, bukannya membantu, aku malah meninggalkannya.

Hingga kemudian, aku tega mengkhianatinya untuk mencari pria lain yang lebih sukses dari suamiku. Kini, aku harus menerima kenyataan, bahwa anak dan suamiku menderita karena ulahku. Ya Allah, maafkan aku.



Assalamualaikum para sahabat yang dirahmati oleh Allah. Sebut saja namaku Rani (bukan nama sebenarnya). Sebenarnya aku merasa malu untuk menceritakan ini semua.

Tapi semoga apa yang aku ceritakan ini bisa diambil hikmahnya oleh para sahabat yang membacanya dan tidak akan melakukan hal yang sama seperti yang ku lakukan.

Aku terlahir dari keluarga yang bisa dibilang mampu. Sejak kecil kebutuhanku selalu terpenuhi. Bahkan aku sama sekali tidak pernah merasakan hidup yang mandiri.

Semuanya dipersiapkan oleh orang tuaku. Karena aku adalah anak satu-satunya. Keluargaku memiliki usaha di bidang property. Alhamdulillah usaha yang dijalankan oleh orang tuaku berjalan lancar sampai aku lulus kuliah.

Ketika Ayahku Bangkrut
Ketika lulus kuliah, aku mencoba untuk meneruskan usaha dari keluargaku. Karena bagaimanapun juga nantinya aku dan keluarga kecilku yang akan meneruskan usaha ayah dan ibu.

Tidak sampai satu tahun aku memegang bisnis dari ayahku. Tapi mungkun aku kurang beruntung. Usaha keluargaku perlahan mengalami penurunan hingga kami mengalami bangkrut.

Saat itu aku dekat dengan seorang pria yang sekarang menjadi suamiku. Dia juga memiliki usaha dan cukup sukses. Aku dan dia memutuskan untuk menjalin sebuah ikatan rumah tangga.

Baca Juga :   Khatam Al-Qur’an Tiap Minggu, Ini Keajaiban yang Didapat Nenek Ini

Orang tuaku dan orang tuanya menyetujui niat baik kami. Lalu kami menikah dan tinggal terpisah dari orang tua masing-masing.

Orang tua tinggal di daerah Surabaya, sementara kami memilih tinggal di daerah Malang. Karena suami juga akan mengembangkan bisnisnya. Aku terlepas dari orang tua, kami hidup sendiri-sendiri.

Aku bersyukur karena suamiku diberikan rizki yang cukup oleh Allah. Setiap bulan aku masih bisa mengirim uang ke orang tuaku. Walaupun mereka sekarang sudah memulai usaha kembali. Tapi aku tetap memberikan mereka ‘jatah’ setiap bulan.

Tidak hanya itu, aku juga sangat sering meminta uang kepada suami untuk hangout bersama dengan teman-temanku. Suami tidak pernah melarang, selama itu bisa membuatku bahagia.

Aku sangat suka dengan belanja dan jalan-jalan. Sampai beberapa orang bilang bahwa aku adalah cewek matre yang hanya bisa belanja. Aku tidak pernah menghiraukan itu. Selama suamiku masih bisa memberi aku uang, maka aku tetap dengan gaya hidupku.

Cobaan Datang
Rupanya aku tidak menyadari dan belajar dari kehidupan orangtuaku. Bahwa tidak semua usaha selalu lancar dan kehidupan selalu berada di atas.

Keluarga kami mengalami cobaan, bisnis suamiku mengalami penurunan. Bahkan sempat bangkrut dan suamiku bingung untuk mengembalikan modal yang dipinjam dari beberapa bank.

Entah apa yang ada dipikiranku saat itu, bukannya ikut membantu bisnis suamiku supaya kembali ‘bangkit’.

Tapi aku justru malah berpaling dari suamiku dan memilih untuk bersama orang lain yang memiliki uang lebih. Aku tidak bisa jika kebutuhan ku tidak terpenuhi.

Baca Juga :   Ibnu Firnas, Muslim Pertama Pencipta Konsep Pesawat & Teknologi Gelas

Suamiku sempat curiga, dari mana aku mendapatkan uang untuk belanja setiap bulan. Padahal ia hanya memberikan aku uang secukupnya untuk kebutuhan hidup saja. Sementara beberapa kali aku belanja perhiasan.

Aku hanya bisa menjawab pinjam dari uang teman, padahal waktu itu aku diberi oleh orang lain. Aku masih merasa tidak bersalah.

Bahkan waktu itu, aku sempat ingin berpisah dengannya, tapi aku masih ingat anak. Lalu aku hanya memutuskan untuk meninggalkan sementara.

Selama aku meninggalkannya, suamiku kembali mencoba untuk bangkit lagi dengan usaha baru. Aku merasa bersalah ketika melihat anakku tidak terurus dengan baik. Anakku sempat sakit, suamiku tidak terlalu memperhatikan.

Dari situ aku merasa bahwa anakku membutuhkan aku dan apa yang aku lakukan ini adalah salah. Aku bersalah kepada keluargaku. Seharusnya aku mendukung suamiku pada masa sulitnya. Bukan malah meninggalkannya.

Aku meminta maaf kepada suamiku dan anakku. Aku bukan ibu yang baik, tapi aku berjanji untuk menjadi lebih baik lagi. Kedua orang tuaku sangat marah ketika tau kalau aku sempat meninggalkan keluargaku selama beberapa hari.

Mereka memarahiku dan menyuruh aku untuk kembali kepada keluarga kecilku. Karena bagaimanapun juga yang mau menerima kembali adalah keluarga. Maafkan aku suamiku. Ampuni aku, Ya Allah.

Sumber: akuislam.id