7 Kisah Bakti Ulama Kepada Orang Tuanya yang Patut Kita Contoh

Perkara berbakti kepada orangtua merupakan perkara yang mulia dan agung. Sudah sepantasnya bagi kita untuk mengetahui serta memahami apa saja hak-hak orangtua yang seharusnya kita penuhi.



Terlebih lagi jika kedua orangtua kita sudah dalam keadaan tua, tak punya daya dan tenaga seperti saat mereka masih muda.

Kita semua harus ingat bahwa Allah Ta’ala telah memerintahkan kita untuk berbakti kepada orangtua serta tidak menyakiti perasaan mereka meski dengan ucapan, apalagi dengan perbuatan. Allah Ta’ala berfirman dalam ayat-Nya,

وَقَضَى رَبُّكَ أَلَّا تَعْبُدُوا إِلَّا إِيَّاهُ وَبِالْوَالِدَيْنِ إِحْسَانًا إِمَّا يَبْلُغَنَّ عِنْدَكَ الْكِبَرَ أَحَدُهُمَا أَوْ كِلَاهُمَا فَلَا تَقُلْ لَهُمَا أُفٍّ وَلَا تَنْهَرْهُمَا وَقُلْ لَهُمَا قَوْلًا كَرِيمًا (23) وَاخْفِضْ لَهُمَا جَنَاحَ الذُّلِّ مِنَ الرَّحْمَةِ وَقُلْ رَبِّ ارْحَمْهُمَا كَمَا رَبَّيَانِي صَغِيرًا (24)

“Dan Tuhanmu telah memerintahkan agar kamu jangan menyembah selain Dia dan hendaklah berbuat baik kepada ibu bapak. Jika salah seorang di antara keduanya atau kedua-duanya sampai berusia lanjut dalam pemeliharaanmu, maka sekali-kali janganlah engkau mengatakan kepada keduanya perkataan “ah” dan janganlah engkau membentak keduanya, dan ucapkanlah kepada keduanya perkataan yang baik. Dan rendahkanlah dirimu terhadap keduanya dengan penuh kasih sayang dan ucapkanlah, ”Wahai Tuhanku, sayangilah keduanya, karena mereka berdua telah mendidik aku pada waktu kecil.” (QS. Al-Israa’: 23-24).



Dalam berbakti kepada orangtua, mungkin sebaiknya kita mencontoh perilaku orang-orang shaleh terdahulu sebagaimana mereka memperlakukan orangtuanya.

Seperti kisah tujuh ulama ini, mereka memperlakukan orangtuanya dengan sangat baik. Dengan banyaknya ilmu, membuat mereka tahu hak-hak yang besar yang dimiliki orangtua atas diri-diri mereka.

1. Iyas bin Mu’awiyyah
Ketika ibu beliau meninggal, beliau menangis dengan sangat sedih. Orang yang melihat hal tersebut langsung bertanya kepada beliau.

Pertanyaan ini didorong oleh rasa heran karena melihat seorang yang ‘alim di antara mereka tak mampu menahan airmatanya tatkala mendapati ibunya telah meninggal. “Mengapa Anda menangis?”.

Maka Iyas bin Mu’awiyyah menjawab,”Dahulu aku memiliki dua pintu yang terbuka untuk menuju surga, namun kini salah satunya telah terkunci.”

Betapa sedihnya seorang ulama ketika ibunya meninggal dunia. Lalu bagaimana kiranya dengan kita, adakah rasa sedih kehilangan pintu surga sebagaimana yang dirasakan Iyas bin Mu’awiyyah tatkala salah satu dari keduanya meninggal?

Baca Juga :   3 Jenis Pernikahan yang di Larang oleh Syara'.

2. Abu Hanifah
Sesungguhnya ibu dari Abu Hanifah pernah bersumpah dengan satu sumpah, kemudian dia melanggarnya. Maka sang ibu pun meminta fatwa kepada anaknya, Abu Hanifah. Namun fatwa yang diberikan anaknya ternyata tidak membuat ibunya merasa mantap.

Ibunya berkata,”Aku tidak merasa ridha, kecuali dengan mendengar langsung fatwa dari Zur’ah Al-Qash!”

Maka Abu Hanifah pun mengantar ibunya untuk meminta fatwa kepada Zur’ah. Namun Zur’ah Al-Qash mengatakan,”Wahai Ibu, engkau meminta fatwa kepadaku, sementara di depanku ada seorang yang paling alim di kota Kuffah?!”

Abu Hanifah pun berkata dengan berbisik kepada Zur’ah, “Berilah fatwa kepadanya demikian dan demikian” (sebagaimana fatwa Abu Hanifah kepada ibunya), kemudian Zur’ahpun memberikan fatwa hingga ibu Abu Hanifah merasa ridha!

Inilah sikap bakti Abu Hanifah kepada ibunya. Baktinya kepada sang ibu tidak membuatnya merasa gengsi ketika sang ibu menginginkan fatwa dari orang lain yang tingkatan ilmunya justru lebih rendah dari Abu Hanifah.

Beliau sama sekali tak merasa sombong dan angkuh di hadapan ibunya meski orang lain telah mengakui kefaqihannya dalam memahami ilmu syar’i.

Dalam kisah yang lain, Abu Yusuf menyampaikan, “Aku menyaksikan Abu Hanifah rahimahullahu ta’ala menggendong ibunya naik ke atas keledai untuk menuju majelisnya ‘Umar bin Dzar, dikarenakan ia tak ingin menolak perintah ibunya.”

Adapun yang dimaksud adalah Ibu Abu Hanifah menyuruh beliau untuk bertanya kepada ‘Umar bin Dzar tentang kepentingan ibunya.

3. Manshur bin Al-Mu’tamar
Muhammad bin Bisyr Al-Aslami berkata, ”tidaklah didapati orang yang paling berbakti kepada ibunya di kota Kuffah ini selain Manshur bin Al-Mu’tamar dan Abu Hanifah. Adapun Manshur sering mencari kutu di kepala ibunya, dan menjalin rambut ibunya.”

Bakti Manshur kepada ibunya mungkin terlihat remeh, ia hanya menyempatkan dirinya untuk mencari kutu dan menjalin rambut sang ibu.

Namun begitu besar di mata Manshur. Bahkan perbuatannya tersebut tidaklah membuatnya merasa turun harga dirinya disebabkan beliau seorang laki-laki.

4. Haiwah bin Syarih
Haiwah bin Syarih –beliau salah seorang imam kaum muslimin- duduk dalam majelis beliau untuk mengajarkan ilmu kepada manusia. Lalu ibunya berteriak memanggil beliau, “Berdirilah wahai Haiwah, beri makan ayam-ayam itu!”

Baca Juga :   Halaqoh Ikaba Pontianak (3 Mei 2016)

Lalu beliaupun berdiri dan meninggalkan majelisnya untuk memberi makan ayam.

Kembali kita bercermin kepada Haiwah bin Syarih, panggilan ibunya untuk memberi makan ayam tidaklah membuat beliau malu dan merasa turun derajatnya di hadapan murid-murid beliau.

Justru saat itulah beliau memberikan keteladanan yang besar kepada murid-muridnya akan kewajiban berbakti kepada orangtua dan lebih mendahulukan orangtua dibandingkan dengan orang lain.

5. Muhammad bin Al-Munkadir
Muhammad bin Al-Munkadir pernah menceritakan, “’Umar (saudara beliau) menghabiskan malam dengan mengerjakan sholat malam, sedangkan aku menghabiskan malamku untuk memijat kaki ibuku. Dan aku tidaklah ingin malamku itu diganti dengan malamnya ‘Umar.”

Ternyata, melalui kisah ini, bakti kepada orangtua itu lebih besar pahalanya dari pada mengerjakan amalan sunnah. Bahkan meskipun amalan sunnah itu adalah shalat malam yang dilakukan semalam suntuk yang engkau pasti tahu sholat malam merupakan sholat sunnah yang paling utama.

Oleh karena itu, tatkala orangtuamu menyuruhmu melakukan sesuatu yang tidak melanggar aturan syariat, sementara engkau dalam keadaan melakukan amalan sunnah, maka segera sambut mereka, dan batalkan amalan sunnah tersebut untuk sementara.

6. Imam Ibnu ‘Asakir
Kisah bakti ulama kepada ibundanya ini terjadi pada Al-Imam Ibnu ‘Asakir yang pernah ditanya tentang mengapa ia terlambat dalam menuntut ilmu di Asbahan. Ia pun menjelaskan mengapa ia terlambat dengan menjawab,”Ibuku tidak mengizinkanku.”

7. Imam Adz-Dzahabi
Beliau pernah mengisahkan bahwa beliau membaca Al-Qur’an kepada Syaikhnya yang bernama Syaikh al-Fadhili. Kemudian beliau berkata,”Ketika guru kami (Al-Fadhili) meninggal, sementara aku belum selesai membaca Al-Qur’an dengannya, akupun merasa sedih. Kemudian ada orang yang menyampaikan kepadaku bahwa Abu Muhammad Al-Makin Al-Asmar yang tinggal di Iskandariyah memiliki sanad yang lebih tinggi daripada Al-Fadhili.”

Imam Adz-Dzahabi berkata,”Maka semakin bertambahlah kesedihanku karena ayahku tidak mengizinkanku melakukan safar ke kota Iskandariyah.

Adz-Dzahabi menyampaikan dalam biografi ‘Abdurrahman bin ‘Abdul Latif Al-Baghdadi, “Aku merasa sedih ketika bepergian kepadanya, tidaklah aku menyeberangi jembatan, karena khawatir dengan ayahku. Sesungguhnya dia telah melarangku.”

Perilaku yang dilakukan ulama di atas tentunya sangat baik bagi kita untuk ditiru. Betapapun mereka tinggi ilmu, namun tidak pernah keberatan untuk melakukan hal kecil yang akan membuat orantuanya senang.

Sumber: inspiradata