Kontroversi Ulama Tentang Perayaan Maulid Nabi Muhammad SAW

Mayoritas umat Islam Indonesia merayakan maulid Nabi. Secara khusus, pemerintah menjadikannya sebagai hari libur nasional. Bagi sebagian masyarakat, perayaan Maulid adalah suatu  keharusan. Bahkan, sudah sejak jauh-jauh hari mereka menyiapkan berbagai hal untuk kepentingan perayaan maulid Nabi itu. Bagi sebagian lain, peristiwa maulid tak perlu dirayakan, bahkan menjadi suatu bid’ah yang menyesatkan.

Ada tiga hal menarik tentang maulid Nabi  ini.

Pertama: tradisi perayaan maulid dijalankan di hampir semua negara muslim, setidaknya jika kita melihat dari sisi “tanggal merah”-nya. Kecuali Saudi Arabia, hampir semua negara muslim “memerahkan” tanggal 12 Rabi’ul Awal. Artinya, resmi sebagai libur nasional. Dalam kalender resmi yang diterbitkan kerajaan Arab Saudi, 12 Rabi’ul Awal bukan libur nasional walaupun sebagian penduduk negeri itu “merayakan” maulid Nabi.



Kata merayakan sengaja saya berikan tanda petik. Sebab, perayaan di kalangan penduduk Mekkah tidak sama dengan perayaan maulid di tanah air. Mereka tak menggelar kenduri, pasang tenda, bacakan kisah Maulid karya Syeikh al-Barzanji atau keramaian lainnya. Mereka hanya mengungkapkan rasa bahagia itu dengan membagi-bagikan hadiah kepada orang lain.

Apa yang dilakukan pemerintah Arab Saudi (dan rakyatnya) dapat dipahami. Secara umum, Saudi Arabia adalah manifestasi pemikiran Imam Ibn Taymiyah. Dalam bukunya, إقتضاء الصراط المستقيم لمخالفة اصحاب الجحيم, Ibn Taymiyah mengatakan,

اتخاذ موسم غير المواسم الشرعية كبعض ليالي شهر ربيع الأول التي يقال إنها ليلة المولد….. فإنها من البدع التي لم يستحبها السلف ولم يفعلوها

“menjadikan musim-musim selain musim-musim syariah seperti sebagian malam pada bulan Rabi’ul Awal yang diyakini sebagai malam maulid…., perbuatan itu adalah bid’ah (inovasi) yang tidak pernah dilakukan para ulama terdahulu (salaf).”

Kedua: Bagi kalangan yang menyelenggarakan Maulid, perayaan tersebut bukan saja sebuah prosesi kultural tetapi ibadah yang bernilai. Ibadah itu meliputi; silaturahim, shalawat nabi, majelis ilmu, dan – tentu – bersedekah. Karena itu, di kampung dan pesantren saya dulu, maulid Nabi biasanya diakhiri dengan makan bersama di nampan yang dibawa ibu-ibu dari rumah masing-masing. Saat kecil dulu, saya paling suka “berburu” nampan yang di atasnya ada bawang dan cabai goreng, diiris halus dan rapi. Tentu ada semur daging dan emping gorengnya juga.

Baca Juga :   Hukum Wanita Berambut Pendek dan Dalilnya

Di banyak tempat, maulid adalah perayaan tahunan yang meriah. Di berbagai kitab kuno, kita mendapatkan bahwa para ulama besar seperti As-Suyuthi, Ibn Hajar al-Asqalani, Ibn Jauzi dan Ibn ‘Abidin tidak melarang maulid Nabi.

Dalam kitab حسن المقصد في عمل المولد, Imam As-Suyuthi menulis,

عندي أن أصل عمل المولد الذي هو اجتماع الناس وقراءة ما تيسر من القرآن ورواية الأخبار الواردة في مبدأ أمر النبي وما وقع في مولده من الآيات ثم يمد لهم سماط يأكلونه وينصرفون من غير زيادة على ذلك هو من البدع الحسنة التي يثاب عليها صاحبها لما فيه من تعظيم قدر النبي وإظهار الفرح والاستبشار بمولده الشريف

“Menurut saya, prosesi rangkaian maulid yang terdiri atas berkumpulnya manusia, membaca al-Quran, membaca riwayat tentang Nabi dan peristiwa kelahirannya serta menyantap makanan kemudian selesai, tanpa ada tambahan macam-macam adalah inovasi (bid’ah) yang baik yang mendapat balasan pahala pelakunya, sebab di dalamnya ada penghormatan kepada kemuliaan Nabi dan mempertegas rasa bahagia atas kelahiran Nabi yang mulia.”

Dari penjelasan singkat Imam As-Suyuthi itu – dan ulama lainnya – perayaan Maulid adalah suatu “bid’ah yang baik”. Disebut “bid’ah” sebab memang tak dikenal di zaman Nabi, juga tidak di zaman para sahabat Nabi. Esensi-nya adalah, bahwa pada hari Maulid itu, umat Islam berbahagia atas kelahiran Rasulnya dan kemudian mengungkap rasa bahagia dalam syair seperti yang ditulis oleh Syeikh al-Barzanji.

Dalam satu hadits, Rasulullah ﷺ diriwayatkan berkata bahwa Abu Lahab diringankan azabnya pada setiap hari Senin. Kok bisa, padahal dia musuh besar Rasullah ﷺ? Ya, sebab dia berbahagia ketika Rasulullah ﷺ dilahirkan. Maklum, secara garis keluarga, Nabi ﷺ masih terhitung keponakan Abu Lahab sehingga dia bahagia ketika Nabi ﷺ dilahirkan.

Baca Juga :   Jika Ingin Berkumpul Dengan Keluarga di Surga, Begini Caranya



Karena itu, al-Hafiz Syamsuddin ad-Dimasyqi menulis suatu syair:

إذا كان هذا كافرا جاء ذمه * وثبت يداه في الجحيم مخلدا

أتى انه في يوم الاثنين دائما * يخفف عنه للسرور بأحمدا

فما الظن بالعبد الذي طول عمره * بأحمد مسرور ومات موحدا

Jika dia (Abu Lahab) saja yang kafir telah jelas dosanya * kekal tangannya berada di neraka jahim

Datang (berita) bahwa pada setiap hari Senin selalu * diringankan darinya (azab neraka) karena bahagia dengan (kelahiran) Muhammad

Maka, bagaimana pula dengan hamba yang sepanjang hidupnya * dengan (kelahiran) Muhammad dia berbahagia dan mati dalam keadaan beriman

Ketiga: Terlepas dari Anda sepakat atau tidak dengan perayaan Maulid, sesungguhnya ada satu persoalan yang menyita perhatian para pakar sejarah Islam. Selama ini, kita meyakini bahwa Rasullah ﷺ lahir pada hari Senin tanggal 12 Rabi’ul Awal tahun gajah. Bacaan lebih lanjut sesungguhnya boleh membuat kita berbeda pendapat.

Kita mulai dari harinya, yaitu Senin. Keyakinan ini didasari pada hadits Nabi ﷺ ketika ditanya mengapa beliau ﷺ suka berpuasa di hari Senin? Rasulullah ﷺ menjawab: “Ini adalah hari di mana aku dilahirkan.” (HR Muslim No. 1162).

Tentang tanggalnya: 12 bulan Rabi’ul Awal. Sesungguhnya tanggal 12 Rabiul Awal adalah hanya keyakinan mazhab Sunni. Kalangan Syiah meyakini Nabi lahir pada tanggal 17 masih di bulan yang sama. Menurut Syiah, pada tanggal 17 Rabi’ul Awwal pula Imam Ja’far As-Shadiq – imam keenam Syiah — dilahirkan, tentu di tahun yang berbeda.

Lalu, tentang tahunnya yang dikenal sebagai Tahun Gajah. Disebut demikian, sebab pada tahun ketika Nabi ﷺ lahir itu, pasukan Abrahah dari Yaman tengah menuju Mekkah untuk menghancurkan Ka’bah. Peristiwa itu, menurut Ibn Hisyam, berbarengan dengan kelahiran Nabi Muhammad ﷺ.

sumber:dakwatuna.com