Inilah Wanita Yang Dua Kali Menolak Lamaran Rosulullah SAW.

Semua tingkah laku Nabi Muhammad merupakan suri tauladan bagi umat Islam.

Ia merupakan manusia mulia, dan merupakan pemimpin para Nabi dan Rasul utusan Allah.

Namun tahukah, ada kisah yang layak menjadi pelajaran bukan saja soal cara beribadah dari Rosulullah.

 

Soal kehidupan dan soal hubungan asmara pun semua dicontohkan Nabi Muhammad.

Diketahui, Rosulullah memiliki lebih dari satu istri sejak meninggalnya Khadijah istri pertama yang menemaninya berdakwah saat awal mula perjuangan Islam.

Tapi ternyata, sebelum menikah dengan Khadijah Nabi Muhammad pernah melamar seorang wanita dan lamarannya ditolak.


Menikah dengan Rosulullah Muhammad SAW? Siapa yang tidak ingin menjadi istri beliau, manusia paling agung dan saleh di muka bumi.

Semua muslimah pasti menginginkannya, tapi mungkin tidak bagi satu wanita ini, Ummu Hani’.

Siapakah Ummu Hani’?
Belaiu adalah wanita Quraisy yang bijak memberi ­pendapat dan berakhlak mulia.

Namanya adalah Fakhitah binti Abi Thalib bin Abdul Muthalib bin Hasyim, namun lebih dikenal dengan nama Ummu Hani’ karena anak pertamanya bernama Hani’.

Beliau merupakan sepupu Rosulullah, ibu Ummu Hani’ adalah Fatimah binti Asad bin Hasyim bin Abdu Manaf, sedangkan ayahnya adalah Abu Thalib.

Dengan demikian Ummu Hani’ adalah kakak perempuan dari dua orang laki-laki istimewa; Ali bin Abi Thalib dan Ja’far bin Abi Thalib.

Tentu kita ingat bahwa setelah orang tua dan kakek Nabi wafat, Abu Thalib lah yang mengasuhnya.

Baca Juga :   Fakta Tersembunyi di Balik Lebaran dan Ketupat yang Jadi Tradisi di Indonesia

Ummu Hani’ menolak lamaran Nabi.

Sebelum menjadi Rosulullah, Muhammad SAW pernah melamar Fakhitah.
Namun Abu Thalib yang juga paman Rosulullah, menolaknya dan justru menerima pinangan Hubayra bin Abi Wahb.

Hubayra adalah pria kaya dan sekaligus penyair berbakat seperti Abu Thalib.

Selain kaya raya, ia juga berasal dari kabilah Bani Makhzum yang pada waktu itu kekuatannya semakin meningkat seiring dengan merosotnya kekuasaan Bani Hasyim.

Abu Thalib pun menjelaskan alasan penolakannya pada Muhammad SAW sebab demi menjaga hubungan baik kedua kabilah, sesuai tradisi arab kala itu.

“Wahai Muhammad putriku telah ku jodohkan dengan kabilah Makhzum sebagaimana kabilah itu menikahkan putrinya dengan kabilah kita yaitu orang tuamu Abdullah dan Aminah”

Akhirnya Fakhitah menikah dengan Hubayra.
Mereka tinggal di Mekah dan dikaruniai empat orang anak.


Tak berselang lama Muhammad SAW diangkat menjadi rasul, hal ini menyebabkan Ummu Hani’ berpisah dengan suaminya karena Hubayra enggan masuk Islam dan lari keluar Mekah saat Fathu Mekah.

Rasulullah menikah dengan Khadijah.

Tak lama berselang, Nufaysah, paman Khadijah datang menemui Rosulullah dan menceritakan kepada beliau bahwa ada wanita cantik, terhormat, dan kaya yang menyukainya, yaitu Khadijah.

Mendengar penjelasan itu, Rosulullah menjelaskan kepada Nufaysah bahwa beliau tidak memiliki harta dan tidak mungkin menikahi Khadijah.

Baca Juga :   5 Cara Menghadapi Suami Acuh Tak Acuh.

Nufaysah meyakinkan Rosulullah agar bersedia terlebih dulu dan masalah biaya pernikahan bisa diatur belakangan.

Saat beliau datang, Khadijah pun berkata, “Putra pamanku, aku mencintaimu karena kebaikanmu padaku, juga karena engkau selalu terlibat dalam segala urusan di masyarakat, tanpa menjadi partisipan.

Aku menyukaimu karena engkau dapat diandalkan, juga karena keluruhan budi dan kejujuran perkatanmu.”

Dilamar kedua kali, Ummu Hani’ tetap menolak

Usai ditinggal oleh suaminya, Ummu Hani’ mengurus keempat anaknya sendiri.

Melihat keadaan ini, Rosulullah merasa iba dan kembali datang kepadanya untuk melamar.

Namun lagi – lagi lamaran Rosulullah ditolak,

“Wahai Rosulullah tidak ada wanita yang tak ingin menjadi istrimu, begitu pula denganku, aku memiliki banyak anak, jika aku menikah denganmu aku bingung aku harus memilih berat kemana, kalau aku berat kepada suami aku takut menelantarkan anak – anakku yang masih kecil dan jika aku berat kepada anak aku takut dzalim kepada hak suamiku, dari pada aku menjadi orang yang dzalim jadi Rosulullah maaf saya tidak bisa menerima lamaranmu”.

Begitulah kisah wanita yang menolak Rosulullah dua kali, kita dapat memetik pelajaran bahwa jodoh memang sudah diatur oleh Allah.


Bahkan ketika kesempatan berjodoh itu ada, belum tentu ia menjadi jodoh kita.

Di sisi lain, Allah sudah menakdirkan jodoh yang lebih baik, seperti Allah menyandingkan Khadijah sebagai jodoh Rosulullah.

sumber:http://bangka.tribunnews.com