Seorang Nabi yang Tidak Memiliki Pengikut Sama Sekali

Sebagian orang khususnya dari kalangan para mahasiswa mengira bahwa kemuliaan seorang ustadz dan kapasitas keilmuannya ditandai oleh jumlah jamaah yang hadir di dalam majelisnya, ini merupakan pemahaman yang salah dan tidak benar. Diriwayatkan dari Al-Auza’iy, ia berkata: “Adalah ‘Atha’ bin Abi Rabah merupakan orang yang paling diridhai di tengah-tengah manusia, dan tidaklah yang hadir di majelisnya melainkan tujuh atau delapan orang saja.”

Perhatikan bersama-sama saya, isi tazkiyah (rekomendasi) agung tersebut yang berasal dari Imam mulia ini, dan perhatikan juga bahwa seorang dari penguasa Bani Umaiyah pernah mengumumkan bahwa: “Tidak ada yang boleh memberikan fatwa untuk orang-orang pada musim haji selain Atha’”. Dan sebagaimana dikatakan oleh Maimun bin Mahran, “Tidak ada lagi orang semisalnya (Atha’) yang dapat menggantikannya setelah dirinya,” namun demikian beliau tidak sombong atau bermalas-malasan dari meneruskan kajiannya, kendati sedikitnya jumlah orang yang hadir di dalamnya.

Begitu pula Imam Ahmad rahimahullah menyampaikan kajian kitab Musnad-nya terhadap tiga orang saja, berkata Hanbal bin Ishaq: “Kami bertiga dikumpulkan oleh Imam Ahmad bin Hanbal; Saya, Shaleh, dan Abdullah. Lalu beliau membacakan kepada kami isi Musnad-nya yang tidak didengar oleh orang selain kami bertiga. Dan beliau berkata: ‘Kitab ini telah saya kumpulkan dan telah pula saya bersihkan dari tujuh ratus lima puluh ribu hadits lebih’.”

Dan rupanya, jumlah/kuantitas jamaah masih menjadi alat pembuktian atas kehebatan seorang da’i dalam mempengaruhi hati para jama’ahnya, maka Anda akan dapati da’i seperti itu akan riang gembira dengan banyaknya jamaahnya, namun sebaliknya, akan loyo dengan berkurangnya jamaahnya! Sedangkan jiwa pada kondisi demikian memiliki kecenderungan dengan segala tujuan dan niat yang berbeda-beda. Akan tetapi ada yang penting untuk disebutkan pada kesempatan ini, yaitu bahwa seorang da’i yang jujur tidak sepatutnya menahan dirinya dari meneruskan dakwahnya kendati melemahnya antusiasme para jamaah, serta sedikitnya jumlah orang-orang yang hadir dalam kajian dan nasehatnya. Sebagai panutan dalam kondisi seperti itu adalah apa yang dikatakan Allah Ta’ala terhadap Nabi Shallallaahu ‘alaihi wasallam: اِنْ عَلَيْكَ اِلَّا الْبَلاَغُ Artinya: “Tidak ada kewajibanmu melainkan menyampaikan saja.”

Dan barangsiapa yang memperhatikan kondisi sebagian para ulama niscaya ia mendapati satu permulaan dalam kesabaran yang memilukan bagi mereka, namun permulaan itu justru memberikan satu penyelesaian berupa kebaikan yang terang-benderang bagi mereka. Bisa jadi mereka akan diuji dalam beberapa saat dengan sedikitnya orang yang hadir dalam majelisnya, namun jika ia bersabar dan terus bertahan dalam kesabarannya maka Allah Ta’ala pasti akan membukakan untuknya pintu kebaikan yang tidak pernah terlintas dalam benaknya.

Pada tahun 1390 H, ketika Syaikh bin Baz rahimahullah datang ke Riyadh, kami hadir di majelisnya dan jumlah kami pada saat itu tidak sampai sepuluh orang, dan keadaan ini berlanjut sampai tahun 1400 H, seperti inilah keadaan Syaikh bin Baz rahimahullah. Demikian halnya dengan Syaikh Ibnu Jibrin rahimahullah pada tahun 1397 H, telah hadir di majelisnya hanya satu orang saja dan bukan orang Saudi, kemudian setelah itu barulah orang-orang berdatangan kepada beliau. Karena sudah menjadi sebuah keniscayaan bahwa seorang alim akan diuji oleh sedikitnya jamaah yang hadir di majelisnya, jika ia konsisten sehingga Allah Ta’ala mengetahui ketulusannya niscaya manusia akan berdatangan kepadanya.

Dan berikutnya adalah Syaikh Ibnu Utsaimin rahimahullah, dimana dalam majelisnya untuk beberapa waktu tidak ada yang hadir kecuali hanya empat orang saja, dan kadang-kadang setengah dari jumlah itu tidak hadir. Bahkan pernah satu kali beliau datang ke tempat halaqah-nya namun beliau tidak menemukan seorang pun kecuali kitabnya yang telah diletakkan oleh salah satu muridnya lalu pergi untuk suatu urusan, tatkala Syaikh melihat kondisi seperti ini, maka beliau menuju mihrab, mengambil mushaf lalu duduk dan membacanya. Pada saat murid tersebut telah kembali, ia menemukan Syaikh sedang membaca mushaf, dan ia tidak menemukan apa-apa kecuali kitabnya saja, maka ia merasa malu lalu ia pun mengambil kursi-kursi yang ada dan segera pergi.

Berkata Abdurahman bin Mahdi: “Dahulu saya punya majelis taklim pada hari Jumat, jika banyak manusia yang hadir maka saya merasa senang namun jika sedikit yang hadir maka saya merasa sedih, lalu saya bertanya kepada Basyar bin Manshur, ia berkata: ‘Ini adalah majelis yang buruk maka kamu jangan melakukannya kembali.’ Dan saya pun tidak pernah kembali kepadanya.”

Dan contoh paling agung dari semua ini, dalam hal bersabar dari permasalahan sedikitnya orang yang hadir pada saat mengajar atau pada saat mengisi kajian adalah kondisi yang dialami oleh para Nabi ‘alaihimussalam. Berikut ini satu contoh dari Khatamul Anbiya’ Nabi Muhammad Shallallaahu ‘alaihi wasallam, ketika beliau Shallallaahu ‘alaihi wasallam ditanya oleh Amer bin Abasah, pada waktu beliau Shallallaahu ‘alaihi wasallam mengajaknya kepada Islam: “Siapa saja yang bersamamu di atas Agama ini?” Beliau Shallallaahu ‘alaihi wasallam menjawab: “Satu laki-laki yang merdeka dan satu budak laki-laki” pada saat itu beliau Shallallaahu ‘alaihi wasallam bersama Abu Bakar < dan Bilal < yang telah beriman kepadanya.

Tatkala kafilah dagang Madinah telah memasuki kota Madinah maka orang-orang yang tadinya mendengarkan khutbah Nabi Muhammad Shallallaahu ‘alaihi wasallam berhamburan keluar menyambut kafilah tersebut, sehingga mereka tidak tersisa melainkan hanya dua belas orang saja, namun kendati demikian beliau Shallallaahu ‘alaihi wasallam tetap berdiri dan melanjutkan khutbahnya sebagaimana disebutkan oleh Allah Ta’ala yang artinya: “Dan mereka meninggalkanmu berdiri” 

Syaikh Abdullah as-Sualim telah menyebutkan kepada saya, bahwasannya beliau satu saat pernah diundang untuk menyampaikan sebuah ceramah di Riyadh. Tatkala beliau datang untuk menyampaikan ceramahnya, tiba-tiba tidak ada yang tinggal dari para hadirin kecuali dua orang saja, maka beliau pun tetap menyampaikan ceramahnya dengan lengkap dan direkam karena kebetulan disana ada alat perekamnya. Namun dalam beberapa periode kemudian, beliau bertemu dengan seseorang dan orang itu menyampaikan kepada beliau bahwa ceramahnya tersebut telah dikopi menjadi empat puluh ribu keping kaset serta telah pula dibagi dan disebarluaskan.

(Visited 2 times, 1 visits today)

Leave a Reply

Your email address will not be published.

1xbet casino siteleri casino siteleri betpasbahçeşehir escort bahçeşehir escort cossinc cratosslot vdcasino asyabahis sekabet ikitelli eskortsi5.org