3 Sikap yang Harus Kamu Perhatikan Jika Ingin Sukses Nikah Muda

Membahas pernikahan punya keunikan tersendiri di dalam tulisan ini. Siapa sih yang tidak ingin menikah? Lalu terbesit judul ini di dalam benak saya. Dan pada tulisan ini, secara jujur, saya tidak bermaksud mengompori agar kalian nikah muda. Sama sekali tidak. Tetapi kalau termotivasi untuk nikah muda juga sama seperti saya, apa boleh buat. Hehehe.

Saya menikah dengan istri pada saat usia menginjak 21 tahun. Banyak orang yang mengatakan saya terlalu cepat memutuskan menikah. Banyak pula yang melarang saya untuk nikah muda. Bahkan ada yang menakut-nakuti dengan segudang permasalahan rumah tangga. Itu bahasa halusnya. Kalau diterjemahkan ke bahasa kasarnya, “emang sudah bisa menikah?”. Kira-kira seperti itu.

Saya tidak memungkiri dengan adanya masalah di dalam rumah tangga. Pasti ada saja, bukan? Namun sebagaimanapun masalah di dalam rumah tangga, bukan berarti kita lantas memutuskan untuk tidak menikah. Istilahnya, “kabur sebelum perang”. Saya sangat mempercayai hal itu, masalah pasti datang, siap-siap saja dengan kedatangannya. Tapi bukan berarti dengan nasehat-nasehat tentang rumitnya berumah tangga, lantas kita takut dan tidak ingin menikah.

Saya meyakini kalau masalah datang pasti karena ada sebabnya. Setelah saya menelusuri sebabnya, ternyata masalah dalam rumah tangga justru karena kurangnya ILMU soal CINTA dan RUMAH TANGGA. Hal yang saya pikirkan adalah bukan malah menjauhi pernikahan itu sendiri, justru saya berusaha mempelajari ilmu-ilmu tentang CINTA dan RUMAH TANGGA. Saya sama sekali tidak khawatir jika memang masalah akan menimpa rumah tangga yang kami bangun, sebab saya percaya, datangnya masalah sebab Allah swt sedang mengajak bermesraan dengan hamba-Nya.

Takut terhadap masalah rumah tangga bukan sesuatu yang tidak bisa diselesaikan. Jika ada satu masalah, pasti ada sepuluh jalan keluar. Jika ada sepuluh masalah, pasti ada seratus jalan keluar. Jika ada seratus masalah, pasti ada seribu jalan keluar. Begitu seterusnya.

Ibadah pernikahan bukan hendak menyusahkan hamba-Nya. Bahkan menikah adalah sunnah Rasulullah saw. Jika Rasulullah saw saja mensunnahkan pemuda untuk menikah, maka sangat besar keuntungan dan keberkahan di dalamnya. Berkah dalam hidup berumah tangga bahkan berkah dalam finansial. Bahkan, kalaupun tidak mampu dalam hal finansial Allah akan memampukannya. Itulah janji dari-Nya. Jadi, siapkah kita untuk menikah?

1. Mengukur Parameter Kesiapan Nikah Muda
Saya seringkali mendapatkan jawaban kenapa banyak yang menunda menikah dengan alasan yang sama. Alasan tersebut berbicara soal kesiapan untuk menikah. Banyak yang menunda pernikahan karena alasan belum “siap” baik dari segi ilmu, mental maupun finansial.

Kalaupun saya sudah menikah di usia yang terbilang sangat muda, apa dengan begitu kita mengambil kesimpulan kalau saya sudah siap secara ilmu, mental maupun finansial? Jawabannya TIDAK. Mari kita bahas bersama.

Pertama siap secara ilmu cinta dan rumah tangga. Tidak ada yang menjamin saya sudah mumpuni dalam ilmu cinta dan rumah tangga. Bahkan saya termasuk orang yang masih bodoh dalam bidang itu. Buktinya, sampai saat ini saya masih belajar tentang ilmu cinta dan rumah tangga. Saya katakan sejujurnya seandainya menikah diukur dengan kesiapan ilmu cinta dan rumah tangga, sampai saat ini mungkin saya tidak akan menikah. Toh saya sama sekali tidak begitu paham dengan ilmu cinta dan rumah tangga. Siapa yang menjamin kita mengusai ilmu tersebut?

Ilmu cinta dan ilmu rumah tangga sangatlah rumit dan harus dipelajari seumur hidup. Maka disini saya hanya berusaha belajar. Meski saya sangat belum siap dalam ilmu tersebut, tetapi saya mau belajar langsung sambil praktek di dalam rumah tangga. Ada kesalahan? Wajar, namanya juga masih belajar.

Mengukur kesiapan menikah dengan ilmu tidak akan ada habisnya. Sebab manusia diminta untuk belajar dari lahir sampai liang lahat. Jadi, sama sekali bukan masalah kesiapan ilmu cinta dan rumah tangga yang jadi masalah, akan tetapi, seberapa besar kita mau berusaha untuk belajar ilmu cinta dan rumah tangga bersama-sama dengan pasangan hidup kita.

Menurut saya, kesiapan belajar bersama dengan pasangan soal ilmu cinta dan rumah tangga adalah parameter kesiapan yang sudah terpenuhi. Sudah saatnya menikah. Hanya yang tidak mau belajarlah yang menurut saya belum siap menikah, sebab dengan berhenti belajar, itu akan menimbulkan kesombongan dan keangkuhan diri dalam mengelola masalah. Yang saya khawatirkan, jika kita berhenti belajar justru malah menimbulkan masalah dalam rumah tangga bukan malah menyelesaikan masalah.

Maka dari itu, teruslah balajar ilmu cinta dan rumah tangga, maka disitulah letak kesiapan menikah. Siaplah belajar bersama dengan pasanganmu. Sebab ilmu cinta dan rumah tangga, tidak akan pernah cukup sekalipun kamu membaca buku-buku pernikahan atau mendengarkan kajian pernikahan, tidak akan cukup, tapi untuk menyempurnakannya hanya dengan menikah. Praktek!

Jadi, siap ataupun tidak siap, niatkanlah pernikahan kita untuk belajar dan terus belajar. Jangan berhenti belajar. Dengan belajar kita semakin hari akan semakin baik. Soal belum mampunya ilmu kita, belajarlah sambil berupaya untuk menyegerakan menikah. Sebab dengan menikah, sempurnalah agama kita dan belajar ilmu cinta serta rumah tangga jadi semakin mengasyikan.

2. Menyikapi Masalah Finansial
Hambatan kedua bagi seseorang yang ingin menikah adalah masalah finansial. Tidak bisa dipungkiri bahwa untuk berumah tangga finansial adalah hal penting yang harus dibahas. Kita sangat manusiawi ketika membahas finansial. Toh untuk berkeluarga kan butuh uang juga, bukan? Alias ujung-ujungnya duit.

Benar, pernikahan membutuhkan finansial yang cukup. Cukup dalam kata artian cukup untuk mahar, cukup untuk walimahan, cukup untuk keseharian dan cukup untuk bekal kehidupan. Finansial menjadi tolak ukur penting bagi seorang laki-laki dalam memutuskan untuk menikah.

Ada tipe laki-laki yang mau menikah kalau ia rasa finansialnya sangat matematis untuk berumah tangga. Alias, si laki-laki tersebut sudah berpenghasilan dalam logikanya dan insyaAllah cukup sebagai bekal pernikahan. Atau ia sudah bekerja di perusahaan yang sudah bergaji tiap bulannya. Dengan bekal itulah ia memberanikan diri untuk menikah. Laki-laki tipe ini sangat bagus dan matematis. Ia tidak ingin rumah tangganya kekurangan dalam hal finansial. Makanya ia sangat mempersiapkannya.

Ada pula tipe laki-laki nekat yang dalam benaknya sama sekali tidak matematis. Bayangkan, tipe laki-laki yang kedua ini hanya mengandalkan keyakinan kepada Allah dan dia nekat untuk menikah. Kita bisa lihat contoh saya pribadi, tidak perlu jauh-jauh mencari contoh hehehe.

Saya termasuk tipe laki-laki yang kedua. Nekat. Bahkan sangat nekat. Bayangkan saja, saya belum lulus kuliah, belum punya pekerjaan tetap, serabutan, tapi berani memutuskan menikah. Akhirnya saya menikah, dengan modal keyakinan besar kepada Allah. Lah, terus gimana kelanjutannya? Alhamdulillah sampai sekarang saya baik-baik saja dan tidak merasa kekurangan apapun. Laki-laki tipe seperti ini biasanya akan mencari jalan alternative lainnya agar ia tetap berpenghasilan walaupun tidak berpenghasilan tetap. Yang penting cukup.

Saya sangat menyadari mengambil resiko ini amatlah berat. Apalagi saya sudah punya kewajiban menafkahi istri dan keluarga. Sudah nekat, nambah beban lagi. Gila namanya. Hahahaha.

(Visited 2 times, 1 visits today)

Leave a Reply

Your email address will not be published.

1xbet casino siteleri betpasbahçeşehir escort bahçeşehir escort escort beylikdüzü esenyurt escort büyükçekmece escort toopla.com avcılar escort cossinc deneme bonusu