Nuzulul Qur’an Sebuah Refleksi Ummat Termulia

MALAM 17 Ramadhan menjadi salah satu malam yang sangat istimewa di antara deretan malam-malam istimewa lain sepanjang bulan Ramadhan. Malam pada bulan ini kurang lebih 1400 tahun yang lalu Al-Quran diturunkan dari langit ke-7 Lauhul Mahfuzh ke Baitul ‘Izzah di langit dunia.

Lalu Al-Qur’an diturunkan berangsur-angsur kepada Rasulullah SAW sesuai dengan peristiwa-peristiwa dalam jangka waktu sekitar 23 tahun. Dibawa oleh “jenderal-nya” para malaikat yakni Jibril dengan teknologi lintas batas antar galaksi yang hingga sekarang para ilmuwan belum mampu memahaminya.

Benda dari langit ke-7 ini turun dari tempat paling tinggi ke bumi agar manusia menjadi mulia apabila memuliakannya. Sehingga siapa pun dan apapun yang terkait dengan Al-Quran, maka ia akan menjadi mulia. Lihat saja sosok Malaikat Jibril sang perantara diwahyukannya Al Quran, maka ia menjadi pemimpin para malaikat yang dijuluki ruuhul amiin. Lalu Rasulullah Muhammad SAW yang Al-Quran turun kepada beliau, maka beliau menjadi pemimpin seluruh umat manusia dan menjadi sebaik-baik nabi dan rasul. Al-Quran turun untuk ummat Muhammad, maka ia menjadi khoiru ummah, ummat terbaik.


Al-Quran turun saat bulan Ramadhan, maka ia menjadi bulan yg paling mulia. Dan ia turun saat malam lailatul qadar maka ia menjadi malam yg paling baik, bahkan lebih baik dari 1000 bulan. Maka demi Allah yang tidak ada Tuhan yang berhak disembah selain Dia bahwa Al-Quran apabila turun di hati seorang hamba , maka ia akan menjadi sebaik baik manusia.

Seperti sabda Rasul yang Artinya: “Sebaik-baik kalian adalah yang belajar al-Quran dan mengajarkannya.” (HR Bukhari). Namun faktanya kini kemuliaan Al-Quran mulai tak terasa. Membacanya tak lagi berpengaruh kepada hati seorang hamba. Maknanya seolah sirna ditelan masa, karena orang tak lagi tau apa yang terkandung di dalamnya. Al-Qur’an seolah – olah hanya menjadi arsip sejarah kemuliaan sebuah peradaban yang menerapkannya secara kaffah, yakni khilafah. Cahaya Al-quran tak lagi terpancar, tak lagi menerangi gelapnya relung jagad raya. Cahayanya mulai pudar.

Tak lain karena manusia mengabaikannya. Kini Al-Quran hanya ada di pojok – pojok surau. Kitab mulia ini tak lagi menjadi pengatur kehidupan seorang hamba, diganti dengan aturan yang diciptakan oleh akal manusia. Akhirnya karena kesombongan manusia masalah timbul dimana – mana bahkan di segala lini kehidupan.


Perpolitikan dan ekonomi dunia yang kacau balau, ketimpangan ekonomi yang semakin menghujam, kemiskinan yang semakin meroket tajam, pergaulan bebas remaja yang tak teredam, hingga rusaknya generasi penerus peradaban secara masal. Berjuta masalah lain yang tak akan habis tertuliskan.

Sebagai umat Islam harusnya kita peka akan semua kerusakan ini, peka akan masalah yang menghujani, peka akan ketiadaan cahaya di dalam hati, dan peka akan hilangnya kemuliaan Al-Quran yang tak lagi dipahami. Maka pada malam Nuzulul Quran ini yakni 17 Ramadhan harusnya kita merenung dalam, berfikir cemerlang bagaimana kita kembali menjadi umat yang mulia, menjadi negara yang mulia, menjadi masyarakat yang mulia bahkan hamba yang mulia. Hanya dengan Al-quran kita bisa menjadi mulia karena kemuliaanNya. Dengan melaksanakan kewajiban kita terhadap Al-Quran yakni, membacanya, memahaminya, menghafalkannya, mengamalkannya, dan mendakwahkannya.


Maka apabila suatu negara mengamalkan Al-quran, menerapkannya secara menyeluruh pasti negara terbut akan menjadi negara yang mulia, baldatun toyyibatun wa robbul ghofuur. Hal ini telah terbukti pada masa kejayaan Islam yang mampu menjadi mercusuar dunia selama 13 abad. Terbentang hingga 2/3 dunia melintas benua dan samudra yang melahirkan generasi emas penerus peradaban.

sumber:islampos.com