Heboh, Masjid Riyadhul Jannah di Sukoharjo Disita Bank

Masjid Riyadhul Jannah di Dukuh Bangsri Cilik RT 03 / RW 01, Kelurahan Kriwen, Sukoharjo, Jawa Tengah heboh di media sosial.

Penyebabnya di sekitar halaman masjid itu terpampang papan pengumuman bertuliskan ‘Tanah dan Bangunan Ini dalam Pengawasan PT BPR Central International’.




Sontak netizen beranggapan masjid itu akan dilelang oleh bank.

Warganet juga berpolemik tentang status masjid yang harusnya wakaf menjadi kepemilikan salah satu Bank Perkreditan Rakyat (BPR).

kumparan kemudian mencoba menelusuri kebenaran kabar yang menghebohkan jagat maya itu.

Ketua Takmir Riyadhul Jannah Mulyono mengatakan masjid itu dibangun pada tahun 2011 oleh seorang pengusaha bus asal Sukoharjo bernama Yatimin Suyitno. Yatimin kini telah meninggal dunia.

Menurut Mulyono saat proses pembangunan masjid, Yatimin tidak mau dibantu oleh warga sekitar.

Karena menurut Mulyono, Yatimin sejak lama ingin mendirikan masjid dengan pendanaan sendiri.




“Warga pernah ada yang mau membantu menyumbang uang untuk bangun masjid, tetapi tidak direspons. Jadi, masjid ini seluruhnya dibangun dengan biaya sendiri (Yatimin),” ujar Mulyono, Rabu (30/10).

Masjid Riyadhul Jannah, kata Mulyono, dibangun di tanah seluas hampir 1.200 meter persegi milik Yatimin.

Masjid itu mampu menampung sekitar 2.000 jemaah.

Secara lisan, ketika masjid sudah jadi pada akhir 2012, keluarga Yatimin mewakafkan masjid itu ke warga sekitar dan disaksikan takmir.

Baca Juga :   Awas Bahaya Gengsi! Bentuk Lain Dari Kufur Nikmat

Namun wakaf itu hanya lisan dan tidak disaksikan oleh Kantor Urusan Agama setempat. Sertifikat tanah juga tidak pernah diberikan.

“Sebelum masjid itu dibangun, anak Yatimin (ternyata) menggadaikan sertifikat lahan (tanah) tersebut sebesar Rp 400 juta. Ya, kemudian terjadi kredit macet,” kata Mulyono.

Bahkan, ujar Mulyono, agunan pinjaman di bank saat ini telah mencapai sekitar Rp 600 juta. Akibatnya tanah dan masjid disita oleh bank.

Mulyono kaget pada Selasa (29/10) ada orang datang pasang plakat masjid bertuliskan ‘dijual’ dan viral di medsos. Kini plang bertuliskan dijual itu sudah diturunkan.

“Banyak warga datang ikut prihatin atas kejadian ini. Pihak keluarga Yatimin hanya bisa pasrah melihat masjid dilelang bank. Kami lakukan lobi ke bank agar masjid tidak sampai dijual,” kata dia.

Seorang pihak ketiga dari BPR Central International, Lukas, menegaskan dari bank tidak ada niat menjual masjid itu. Ia membenarkan status tanah dan bangun resmi milik bank.

“Kami akan cari jalan terbaik agar masjid ini tidak sampai dijual. Kalau pun ada yang mau membeli syaratnya harus tidak mengubah fungsi masjid,” kata dia.

Sumber: kumparan.com


Leave a Reply

Your email address will not be published.