Fir’aun yang Kuat dan Sombong Ternyata Tak Berdaya di Hadapan Wanita

Raja Ramses II, seorang Firaun yang mendeklarasikan diri sebagai tuhan dan penguasa dunia boleh saja kejam dan ditakuti oleh rakyatnya. Namun tidak bagi Asiyah binti muzahin.  Perempuan yang terpaksa menikah dengan Firaun karena kedua orang tuanya disandera itu tak gentar pada sang suami, apalagi kalau menyangkut soal akidah.

Asiyah sejak muda sudah beriman kepada Allah. Dia tidak mengakui fir’un sebagai tuhan. Sehingga ketika Firaun meminangnya untuk menjadia istri, Asiyah menolak.

Hati Aisyah luluh dan mau menerima lamaran tersebut sebab kedua orangtuanya ditahan dan disiksa oleh prajurit Firaun. Dalam perjalanannya, Firaun sangat mencintai Asiyah. Dia tak berdaya menolak jika Asiyah sudah memaksa.




Seperti ketika Asiyah menemukan, bayi kecil Musa yang dihanyutkan dengan sebuah kotak di sungai Nil. Asiyah ngotot ingin merawat Musa. Padahal ketika itu fir’un ingin semua bayi yang terlahir laki-laki dibunuh.

Firaun takut ramalan para ahli tafsir mimpi yang menyebut bahwa bakal terlahir seorang bayi laki-laki yang kelak akan menghancurkan Mesir bakal jadi kenyataan. Maka dia pun memerintahkan semua bayi laki-laki dibunuh. Namun dia tak berdaya ketika Asiyah meminta untuk merawat bayi kecil bernama Musa tersebut. Hingga akhirnya Musa beranjak dewasa dan menjadi Nabi.

Asiyah pun mengikuti agama baru yang dibawa putra angkatnya Nabi Musa yakni beriman kepada Allah. Kali ini Firaun benar-benar murka kepada Asiyah binti muzahin. Dia berikan dua pilihan kepada Asiyah, yakni: memilih tetap bersamanya dan tidak akan mendapat hukuman atau tetap memegang agama baru dan mendapat hukuman pedih.

Lagi-lagi fir’un tak berdaya memaksa istrinya mengakui dia sebagai tuhan. Asiyah memilih mengakui agama baru yang dibawa Nabi Musa, beriman kepada Allah. Firaun betul-betul tidak terima dengan keputusan istrinya.

Firaun memerintahkan algojonya mengikat kedua tangan dan kaki Asiyah pada empat buah tiang dengan posisi tubuh menghadap sengatan matahari. Kemudian tubuh Asiyah dicambuk dan ditinggalkan begitu saja oleh Firaun dan pengikutnya di padang pasir.

Mendapat siksaan yang pedih itu, iman Asiyah tetap tak goyah. Firaun memerintahkan anak buahnya melemparinya dengan batu besar. Asiyah pasrah dan hanya berserah diri kepada Allah SWT.

Masih dalam keadaan tangan terikat, tubuh penuh luka bekas cambukan. Sambil menahan perih, Asiyah berdoa kepada Allah SWT. Doa Asiyah diabadikan dalam Surat At-Tahrim ayat 11 yang artinya: “Ya Rabbku, bangunkanlah untukku sebuah rumah di sisi-Mu dalam firdaus, dan selamatkanlah aku dari Fir’aun dan perbuatannya, dan selamatkanlah aku dari kaum yang zhalim.”
Aisyah binti Muzahim meninggal dunia sesaat setelah mulutnya mengatup di akhir doa. Dia tak lagi merasakan sakit saat batu besar yang dilemparkan algojo Firaun mengenai tubuhnya.




Rasulullah SAW menyebut, Asiyah binti muzahin adalah salah satu wanita penghuni surga yang paling utama. Seperti diriwayatkan Ibnu Abbas dalam Hadist Ahmad, Rasulullah bersabda:

“Wanita penduduk surga yang paling utama adalah khadijah bint Khuwailid, Fathimah binti Muhammad, Asiyah bint Muzahim ; istri fir’un dan Maryam bint Imran, semoga Allah meridhai mereka semuanya.”

Dalam hadits Bukhari dan Muslim diriwayatkan Abu Musa, Rasulullah bersabda: “Banyak dari kaum laki-laki yang sempurna, dan dari kaum perempuan tidak ada yang sempurna kecuali Asiyah istri Fir’aun, Maryam bint Imran, dan sungguh keutamaan Aisyah atas kaum perempuan adalah seperti keutamaan bubur sarid atas semua makanan.”

Sumber:news.detik.com