Inilah Orang yang Terjaring Sindikat Pelengseran Sultan Abdul Hamid II

PADA hari Selasa tanggal 27 April 1909 M sebanyak 240 anggota Majelis A’yan (tokoh-tokoh masyarakat yang ditunjuk) mengadakan pertemuan bersama dan menetapkan untuk mencopot Sultan Abdul Hamid II .

Syaikh Naib Hamdi Afandi Al-Mali menuliskan draft fatwa. Namun sekretaris fatwa Nuri Afandi yang hadir dalam pertemuan itu menolak draft tersebut dan mengancam akan mengundurkan diri dari posisinya jika tidak diadakan perubahan.

Sejumlah loyalisnya mendukung adanya perubahan draft tersebut. Hingga akhirnya, diadakanlah perubahan pada bagian akhir agar Majelis Mab’utsun (anggota utusan berbagai negeri) menetapkan tawaran mengundurkan diri atau menurunkan Sultan dari singgasananya.

Inilah teks fatwa tersebut:

“Yang bertanda tangan di bawah ini Syaikhul Islam Muhammad Dhiyauddin Afandi yang disetujui oleh Majelis Mab’utsin menyepakati; ‘Jika pemimpin kaum Muslimin bernama Zaid menjadikan agamanya sebagai lipatan dan mengeluarkan masalah-masalah syariah yang penting dari kitab-kitab, dia melakukan pemborosan dari Baitul Mal dan sepakat dengan hal-hal yang melanggar syariah.”

“Dia membunuh; memenjara dan mengasingkan rakyat tanpa sebab yang legal dan kezaliman. Kemudian setelah itu dia bersumpah untuk kembali pada jalan yang benar, lalu dia kembali melakukan hal yang sama dan sengaja melakukan sesuatu yang menimbulkan fitnah dengan tujuan untuk menimbulkan kericuhan pada seluruh kaum muslimin.”

“Setelah itu muncul dari kaum muslimin dari seluruh wilayah yang mengabarkan secara terus menerus tentang perasaan mereka, bahwa seharusnya Zaid ini diturunkan.

Kemudian setelah dipertimbangkan bahwa jika dia tetap duduk dalam posisinya niscaya akan mendatangkan kemudharatan; dan jika dia dilengserkan dari posisinya maka akan muncul kebaikan.”

“Apakah wajib bagi Ahlul Hill wa Al-‘Aqd (semacam anggota DPR) dan para petinggi untuk meminta pada Zaid agar dia mengundurkan diri dari kepemimpinannya sebagai Sultan atau khalifah, atau mereka harus menurunkannya. Maka jawaban untuk pertanyaan ini adalah: Ya!”

Fatwa ini dibacakan di depan sebuah pertemuan bersama Majelis Millat (Agama). Saat itulah utusan dari kalangan Persatuan dan Pembangunan berteriak: “Kami menginginkan agar dia dicopot.”

Setelah terjadi perdebatan, akhirnya disepakati bahwa Sultan Abdul Hamid dicopot dari kekuasaannya.

Prof Dr Ali Muhammad Ash-Shalabi dalam Bangkit dan Runtuhnya Khilafah Utsmaniyah berkisah atas usulan dan desakan dari organisasi Persatuan dan Pembangunan, akhirnya dibentuklah panitia untuk menyampaikan keputusan pencopotan ini pada khalifah kaum muslimin Sultan Abdul Hamid II. Panitia itu terdiri dari:

Pertama, Emanuel Qarashu, dia adalah seorang Yahudi asal Spanyol dan merupakan salah seorang yang pertama kali bergabung dengan gerakan Turki Muda.

Dialah yang bertanggung jawab di depan organisasi Persatuan dan Pembangunan untuk mendorong dan menggelorakan rakyat Turki agar melakukan pemberontakan kepada Sultan Abdul Hamid II.

Dia jugalah yang memberi jaminan adanya saling tukar informasi antara Salanika dan Istanbul tentang masalah yang berhubungan dengan gerakan tersebut.

Emanuel adalah seorang advokat yang berhasil ditempatkan oleh organisasi Persatuan dan Pembangunan untuk duduk di Majelis Perwakilan Utsmani sebagai wakil dari Salanika dalam satu periode dan untuk Istanbul selama dua periode.

Sedangkan sumber-sumber di Inggris menyebutkan, bahwa dia adalah pemimpin organisasi Persatuan dan Pembangunan tersebut. Pada saat perang dia bertugas sebagai inspektur. Pada saat duduk dalam jabatannya ini, dia berhasil mengumpulkan banyak harta yang menebalkan kantongnya sendiri.

Pertama, Emanuel memainkan peran yang demikian penting dalam pendudukan Italia terhadap Libya, di mana ltalia telah memberikan bayaran yang sangat tinggi terhadapnya. Karena pengkhianatannya terhadap pemerintah, dia terpaksa melarikan diri ke ltalia dan berhasil mengantongi kewarganegaraan ltalia.

Dia kemudian tinggal di Tariasana dan meninggal pada tahun 1934. Saat dia berada di tengah-tengah pemerintahan Utsmani, dia menjadi “guru besar” bagi gerakan Freemasonry Macedonia-Yazulita.

Kedua, Aaram. Dia adalah anggota Majelis Perwakilan yang berasal dari Armenia.

Ketiga, As’ad Thubathani. Dia adalah orang Albania yang merupakan wakil dari kawasan Darraj.

Keempat, Arif Hikmat seorang anggota dari laut yang menjadi anggota Majelis ‘Ayan, dan berasal dari Irak Karajabani.

Sultan Abdul Hamid mengisahkan ini dalam catatan hariannya secara terperinci. Dia mengatakan; “Sesungguhnya yang sangat menyedihkan saya adalah, bukan karena saya disingkirkan dari kesultanan, namun adanya perlakuan yang sangat tidak sopan yang dilakukan oleh As’ad Pasya yang sudah keluar dari batas-batas sopan santun.

Di mana saya mengatakan pada mereka, ‘Sesungguhnya saya tunduk terhadap semua undang-undang dan syariah dan ketetapan Majelis Mab’utsin, sebab saya yakin ini adalah takdir dan ketentuan dari Yang Maha Perkasa dan Maha Mengetahui.

Namun saya tegaskan di sini, bahwa saya sama sekali tidak memiliki hubungan apa pun baik langsung ataupun tidak langsung dengan peristiwa 31 Maret‘

Kemudian dia melanjutkan; “Sesungguhnya tanggung jawab yang kalian , pikul itu sangatlah berat.”

Setelah itu Sultan Abdul Hamid mengisyaratkan pada Emanuel dengan mengatakan: “Sesungguhnya ini tak lebih dari perbuatan orang-orang Yahudi yang mengancam khilafah, lalu apa maksud kalian datang dengan membawa orang ini (Emanuel) datang ke hadapanku?”

Orang-orang Yahudi dan Freemasonry mengangkat hari itu sebagai hari raya bagi mereka. Mereka meluapkan kegembiraannya dan sekaligus melakukan demonstrasi besar-besaran di kota Salonikai. Orang-orang Yahudi tidak hanya mencukupkan sampai di sini, bahkan lebih jauh dari itu mereka mencetak gambar demonstrasi ini di perangko-perangko untuk dijual di pasar-pasar Turki Utsmani. Dan ini berlangsung dalam jangka waktu yang cukup lama.

Orang-orang Yahudi dengan bangga selalu mengatakan, bahwa mereka adalah orang-orang Freemasonry.

Rafiq Maniyasi Zadah menyatakan cara terus terang ini disampaikan pada sebuah harian yang terbit di Perancis setelah suksesnya gerakan Persatuan dan Pembangunan. Dia mengatakan, “Kita telah mendapatkan bantuan material dan moral dari gerakan Freemasonry. Ia yang telah memberikan bantuan demikian besar kepada kami, berkat hubungan kami yang demikian kuat dengan mereka.”

Sesungguhnya hubungan antara Zionisme dan Freemasonry telah dijelaskan oleh Sultan Abdul Hamid ll dalam satu surat yang dia tujukan pada 5yaikh Mahmud Abu Syamat, salah seorang gurunya di Tarekat Syadziliyah. Surat ini dia kirimkan setelah pencopotan dari posisinya sebagai khalifah pada tahun 1329 H.

Dalam surat itu dia menyebutkan; “Sesungguhnya orang-orang Persatuan dan Pembangunan telah datang berkali-kali dan meminta saya untuk memberikan legalitas pendirian negeri khusus Yahudi di tanah suci Palestina. Walaupun mereka terus memaksa saya dengan tegas tidak menerima permintaan mereka.”

“Akhirnya mereka berjanji untuk memberikan uang sebanyak 150 juta lira Inggris dalam bentuk emas. Namun kembali saya menolak permintaan mereka secara tegas. Saya memberikan jawaban pada mereka dengan jawaban yang sangat tegas.”

‘Sesungguhnya jika kalian akan membayar saya dengan seluruh isi dunia, saya tidak akan pernah menerima apa yang kalian minta, apapun alasannya. Saya telah mengabdikan diri saya pada agama Islam ini dan kepada umat Muhammad dalam jangka yang tidak kurang dari tiga puluh tahun. Maka tidak mungkin bagi saya untuk menorehkan tulisan hitam pada lembaran-lembaran kaum muslimin.’

“Setelah jawaban ini, mereka sepakat untuk mencopot saya dan mereka memberi tahu saya bahwa mereka akan menyingkirkan saya ke Salanika. Saya menerima apa yang mereka bebankan terakhir ini. Saya sangat bersyukur pada Pelindungku dan bersyukur karena saya tidak menerima permintaan mereka, sebab saya telah terhindar dari tindakan mengotori dunia Islam dengan tindakan kotor yang abadi ini yakni dengan menerima permintaan mereka untuk mendirikan negara Yahudi di tanah suci Palestina.”

Sumber: sindonews.com

(Visited 2 times, 1 visits today)