Inilah Nabi Palsu yang Ditinggalkan Pengikutnya Saat Terjadi Perang

Thulaihah bin Khuwailid al-Asadi adalah orang ketiga yang mengaku sebagai nabi. Awalnya, ia memeluk Islam pada tahun 9 H. Namun, di akhir hayat nabi, ia murtad dan mengaku sebagai seorang nabi. Ia menentang kekhalifahan Abu Bakar Ash-Shidiq.

Thulaihah adalah salah seorang dukun dari Bani Asad. Ia mengklaim sebagai seorang nabi di akhir masa kehidupan Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam. Thulaihah tinggal di Buzakhah, sebuah tempat yang merupakan sumber air milik Bani Asad.

Bani Asad adalah sebuah kabilah yang bermukim di wilayah Nejd. Mereka tinggal bertetangga dengan Kabilah Thayyi di sebelah timur dan Bakr di sebelah selatan. Di sebelah utara ada kampung kabilah Hawzan dan Ghatafan.

Dan di sebelah barat adalah kabilah Abdul Qais dan Tamim. Suku-suku ini memiliki sejarah perjanjian damai sekaligus juga pertikaian. Perubahan keadaan damai dan perang sesuai dengan kondisi mereka dan perkembangan daerah di sekitar mereka.

Menjadi salah satu tugas pasukan yang dipimpin Khalid bin Walid untuk memerangi Thulaihah pada masa Khalifah Abu Bakar. Kala itu, pasukan bentukan Abu Bakar telah menaklukkan sejumlah kabilah yang sempat murtad dan menolak membayar zakat. Namun Thuaihah masih berjaya.

Ia siap menghadapi pasukan muslim didampingi oleh Uyainah bin Hisn yang memimpin tujuh ratus orang dari Fazarah. Uyainah dikenal sangat membenci Abu Bakar dan ingin sekali melumpuhkan kekuasaan Muslimin.

Muhammad Husain Haekal dalam As-Siddiq Abu Bakr menyebut dalam Perang Ahzab dulu Uyainah inilah yang memimpin pasukan Fazarah.

Ketika itu ia termasuk salah satu dari tiga kavaleri yang berusaha hendak menyerang Madinah setelah ada persetujuan antara Fazarah dengan Quraizah, dan dia juga yang hendak menyerbu Madinah tak lama setelah pihak Ahzab jatuh. Tetapi Rasulullah dapat menahan serangan mereka dan Uyainah ini yang lari dikejar dalam ekspedisi Zu Qarad.

Sekalipun kemudian ia masuk Islam, tetapi masuk Islamnya karena menyerah kalah kepada kekuatan yang sudah tak dapat dilawan. Namun setelah Rasulullah wafat, ia tidak senang dengan kekuasaan Khalifah Abu Bakar.

Sekalipun sudah ditinggalkan oleh Tayyi’ dan Jadilah yang kembali ke Islam, Tulaihah bertekad tidak akan mundur dari “kenabiannya,” sebab dia tahu benar, bila ia mundur Uyainah akan berbalik melawannya dan semua mereka yang di sekitarnya akan memberontak dan nyawanya terancam.

Biarlah dia bertahan, dan dia akan menunggu Khalid dan pasukannya datang. Sesudah itu biarlah terjadi apa yang akan terjadi.

Tiba saatnya sudah Khalid harus bergerak menghadapi golongan murtad itu. Ia mengirim Ukkasyah bin Mihsan dan Sabit bin Aqram al-Ansari sebagai perintis jalan.

Keduanya termasuk pemuka dan pahlawan Arab yang berani. Mereka bertemu dengan Hibal saudara Tulaihah dan ia dibunuh.

Mendengar dia dibunuh Tulaihah dan Salamah, saudaranya yang seorang lagi, keluar memeriksa dan mencari berita lebih lanjut. Salamah tidak menunda lagi ketika melihat Sabit, lalu dibunuhnya.

Ukkasyah bertahan menghadapi Tulaihah tetapi Tulaihah meminta bantuan saudaranya, lalu Ukkasyah juga mereka bunuh. Setelah itu mereka kembali ke tempat semula.

Khalid datang dengan beberapa orang. Melihat kedua sahabat mereka dibunuh, mereka sangat terharu. Kata mereka: “Dua orang pemimpin dan pahlawan Muslim!”

Melihat kesedihan sahabat-sahabatnya itu Khalid mengambil sikap untuk tidak menghadapkan mereka kepada musuh sebelum hati mereka tenang kembali. Karena itu ia mengajak mereka berbelok ke Tayyi’.

Ia meminta Adi bin Hatim, tokoh Tayyi’ yang sudah insaf kembali ke Islam, memberikan siapa saja anak buahnya yang dapat dikerahkan. Pihak Muslimin melihat jumlah pasukannya makin banyak dan dengan itu kekuatannya pun akan berlipat ganda. Mereka senang hati berangkat perang.

Khalid memimpin mereka ke Buzakhah untuk menghancurkan Tulaihah tanpa menenggang-nenggang dan maju-mundur lagi.

Kabilah-kabilah Qais dan Banu Asad sudah siap berperang di sekeliling Tulaihah. Orang-orang Tayyi’ yang bergabung dengan pasukan Khalid berkata: Kita minta kepada Khalid, cukup menghadapi Qais saja, sebab Banu Asad masih termasuk sekutu kami. Tetapi Khalid menjawab: “Qais tidak lebih lemah dari keduanya. Yang mana dari mereka yang kamu sukai serbulah.”

Adi berkata: “Kalau keluargaku terdekat meninggalkan agama ini, pasti kuhadapi mereka. Akan mundurkah aku menghadapi Banu Asad karena persekutuannya itu! Tidak, tidak akan kulakukan!”

Khalid berkata: “Memerangi keduanya juga suatu jihad. Janganlah, kautentang pendapat kawan-kawanmu itu. Teruskan menghadapi salah satunya, dan pimpinlah mereka menghadapi lawan yang lebih kuat untuk diperangi.”

Dengan begitu Tayyi’ akan menghadapi Qais, dan Muslimin yang lain menghadapi Banu Asad. Ketika itu yang akan memimpin pertempuran ialah Uyainah bin Hisn di pihak Tulaihah, sementara Tulaihah sendiri tinggal dalam sebuah rumah dari bulu berselubung kain guna membuat ramalan buat mereka.

Setelah terjadi pertempuran sengit dan Uyainah melihat kekuatan Khalid dan Muslimin, ia kembali kepada Tulaihah menanyakan: “Sudahkah Jibril datang?”

“Belum,” jawab Tulaihah.

Uyainah kembali dan terus bertempur lagi. Begitu melihat pertempuran itu berkobar luar biasa, ia kembali lagi kepada Tulaihah menanyakan: “Bagaimana? Jibril sudah datang?”

Tulaihah menjawab: “Belum juga.”

“Sampai kapan? Sudah cukup lama kita menunggu!'” kata Uyainah.

Ketika ia kembali lagi ke medan pertempuran, pasukan berkuda Khalid sudah hampir mengepungnya dan mengepung anak buahnya. Ketika kembali lagi kepada Tulaihah dalam ketakutan ia mengulangi lagi pertanyaannya: “Sudah datangkah Jibril?”

“Ya, sudah.”

“Apa katanya?”

Tulaihah menjawab: “Dia berkata kepadaku: ‘Kau punya pasukan unta seperti pasukannya dan sebuah cerita yang tak terlupakan’.”

Tidak tahan mendengar igauan itu, Uyainah berteriak mengatakan: “Allah sudah tahu bahwa akan terjadi suatu cerita yang tak terlupakan!”

Kemudian ia berseru kepada golongannya: “Hai Banu Fazarah, mari kita tinggalkan dia. Dia pembohong!”

Mereka pun pergi berlarian. Ketika itu ada sebuah rombongan lewat, mereka berseru kepada Tulaihah: “Apa yang kauperintahkan kepada kami?!”

Waktu itu Tulaihah sedang menyiapkan kudanya dan seekor unta untuk istrinya, Nawar. Begitu melihat orang banyak mendatanginya dan memanggil-manggilnya, langsung ia menaiki kudanya dan membawa serta istrinya. Dengan demikian ia dan istrinya menyelamatkan diri, sambil berkata: “Barang siapa di antara kamu dapat berbuat seperti aku dan dapat menyelamatkan diri dan keluarganya, lakukanlah!”

Hancurnya Tulaihah
Demikianlah perlawanan nabi palsu yang ditujukan kepada Abu Bakar itu berakhir. Bahkan sekaligus usahanya mengaku-aku nabi juga berakhir. Dia lari ke Syam dan mereka yang dulu mengatakan dia nabi kini mendustakannya.

Kemudian ia mengambil tempat di Kalb dan menetap di sana. Kemudian ia kembali ke pangkuan Islam setelah diketahuinya bahwa kabilah-kabilah yang dulu menjadi pengikutnya telah kembali kepada agama yang benar itu.

Setelah itu ia melakukan umrah ke Makkah semasa Khalifah Abu Bakar itu juga. Bila ia menyusuri pinggiran kota Madinah, ada orang yang menyampaikan kepada Abu Bakar tentang tempatnya itu, tetapi Abu Bakar mengatakan: “Akan kuapakan dia? Biarkan dia bebas. Allah sudah memberinya petunjuk kembali kepada Islam.”

Setelah kemudian Umar bin Khattab menjadi Khalifah, Tulaihah datang dan ikut membaiatnya. Tetapi Umar masih menegurnya: “Kau sudah membunuh Ukkasyah dan Sabit! Aku sama sekali tidak menyukaimu!”

“Amirulmukminin,” kata Tulaihah, “Anda jangan risau karena dua orang yang sudah mendapat kehormatan dari Allah melalui tanganku ini, tetapi Allah tidak memberiku yang demikian melalui tangan mereka.”

Umar menerima pembaiatannya itu. Kemudian katanya menanyakan: “Benar-benar penipuan. Sekarang apa lagi yang masih tinggal dari kedukunanmu itu?” “Sekali atau dua kali hembusan saja lagi.”

Kemudian ia kembali ke golongannya dan tinggal bersama mereka. Tetapi akhirnya tiba saatnya, ia juga ikut bertempur mati-matian bersama Muslimin yang lain dalam melawan Irak.

Sumber: sindonews.com

(Visited 4 times, 1 visits today)