Cendikiawan Muslim Ini Adalah Mantan Rampok yang Taubat Karena Peristiwa Haru

AL-FUDHAIL bin ‘Iyadh terkenal di dunia Islam karena kesalehan dan ibadahnya. Namun, jauh sebelum dia menjadi sosok saleh, Al-Fudhail pernah jadi seorang perampok yang termasnsyur. Lantas, bagaimana kisahnya?

Dia kerap mencari korban di malam hari dalam perjalanan dari Abu Ward ke Sarakhas (Sirjis). Jangankan bertemu muka, siapapun pengelana jalur itu bila mendengar nama Al-Fudhail disebut saja pasti sudah merinding ketakutan.

Suatu malam, Al-Fudhail memanjat tembok rumah seseorang. Saat ia memanjatnya, ia mendengar suara orang membaca ayat Alquran.

Saat itu, Al-Fudhail berbicara dalam diri sendiri, “Ya Tuhanku, waktunya memang telah tiba.”

Dia kembali dari tempat dia datang dan mendapati sebuah rombingan sedang mencari perlindungan. Mereka sibuk berdiskusi serius.

Al-Fudhail mendengar salah satu dari mereka berkata, “Mari kita lanjutkan perjalanan kita sekarang.”

Yang lain menjawab, “Tidak, tidak sampai pagi, karena Al-Fudhail mengintai di jalan di suatu tempat di luar sana, hanya menunggu untuk merampok kita.”

Mendengar seluruh percakapan itu, Al-Fudayl berpikir dalam hati, “Aku berkeliling di malam hari untuk berbuat dosa, sementara sekelompok Muslim tetap di sini karena mereka takut.

Sungguh aku merasa bahwa Allah telah membawaku ke sini hanya untuk mereka sehingga aku dapat merubah karakterku. Ya Allah, aku sungguh bertaubat kepada-Mu!”

Sementara dalam riwayat lain disebutkan bahwa pada suatu malam, sejumlah pedagang ingin melewati lembah pada jalur menuju Sirjis yang menjadi jalur operasi Al-Fudayl.

Maka, mereka berunding terlebih dahulu dalam kemah sebelum meneruskan perjalanan.

Seorang di antara mereka berkata, “Sungguh, Fudhail bin Iyadh dan gerombolannya biasa melancarkan aksinya di daerah ini. Kita harus berbuat apa?”

Seorang yang lebih alim dari ketiganya menjawab, “Siapkanlah panah-panah kita. Kita akan memanah ke arah mereka bersembunyi. Jika anak panah kita tepat mengenai sasaran, hendaknya kita melanjutkan perjalanan. Bila tidak begitu, sebaiknya kita kembali saja.”

“Akan tetapi,” lanjut dia, “Kita tidak sekadar memanah. Lebih dahulu kita membacakan ayat-ayat Alquran. Semoga Allah menolong kita.”

Masing-masing pria itu menggumamkan beberapa Kalamullah sebelum menjalankan rencana itu.

Sementara, tak jauh di sana Fudhail bin Iyadh dan kawan-kawannya sudah bersemangat untuk menggempur kafilah dagang tersebut. Para penjahat itu berniat langsung menyergap begitu mereka mendekati lembah yang gelap.

Tiga pedagang dalam kafilah itu pun bersiap. Orang yang pertama melepaskan anak panahnya setelah membaca Alquran surah al-Hadid ayat 16.

“Belum tibakah waktunya bagi orang-orang yang beriman, untuk secara khusyuk mengingat Allah dan mematuhi kebenaran yang telah diwahyukan (kepada mereka), dan janganlah mereka (berlaku) seperti orang-orang yang telah menerima kitab sebelum itu, kemudian mereka melalui masa yang panjang sehingga hati mereka menjadi keras. Dan banyak di antara mereka menjadi orang-orang fasik.”

Fudhail bin Iyadh ternyata mendengar ayat tersebut dibacakan. Tiba-tiba, tubuhnya terasa bergetar hebat.

Ia pun merintih, berteriak keras, bahkan kemudian jatuh pingsan. Para anak buahnya mengira, bosnya itu terkena tembakan panah. Akan tetapi, tak ada satu pun luka di tubuh Fudhail bin Iyadh.

“Aku telah terkena anak panah Allah!” seru Fudhail sebelum tak sadarkan diri.

Para pengikutnya membangunkan Fudhail bin Iyadh. Ia pun kembali sadar meskipun tubuhnya kini basah oleh keringat.

Sementara itu, pedagang berikutnya mulai melepaskan anak panah kedua ke arah Fudhail sembari membaca surah adz-Dzariyat ayat 50.

Artinya, “Maka segeralah kembali kepada (menaati) Allah. Sungguh, aku seorang pemberi peringatan yang jelas dari Allah untukmu.”

Fudhail pun mendengar ayat ini dibacakan. Kini, ia berteriak lebih keras, “Wahai kalian semua! Aku terkena anak panah Allah!”

Orang terakhir dari kafilah itu meluncurkan panahnya sembar mengucapkan surah az-Zumar ayat 54. Terjemahannya, “Dan kembalilah kamu kepada Tuhanmu, dan berserah dirilah kepada-Nya sebelum datang azab kepadamu kemudian kamu tidak dapat ditolong (lagi).”

Lantunan ayat ini semakin membuat Fudhail gelagapan. Ia pun menyuruh seluruh anak buahnya untuk pergi meninggalkannya.

“Kalian semua, pulanglah! Sungguh, rasa takutku kepada Allah telah merasuk dalam jiwaku. Aku akan meninggalkan semua kejahatan yang selama ini kulakukan!”

Fudhail sendiri langsung melangkahkan kakinya ke arah Makkah. Belum sampai di sana, ia berkemah di suatu daerah dekat Narawan.

Yang Fudhail tak ketahui, Sultan Harun al-Rasyid di istananya sedang bermimpi dalam tidurnya.

Suatu suara gaib menyeru kepadanya dalam keadaan tak sadar itu, “Sungguh, Fudhail bin Iyadh takut kepada Allah dan memilih mengabdikan diri kepada-Nya. Sambutlah ia di negerimu!”

Sultan al-Rasyid keesokan paginya menyuruh beberapa orang untuk menemukan Fudhail bin Iyadh.

Setelah beberapa waktu, orang-orang suruhan itu dapat membawa Fudhail ke istana di Baghdad.

“Wahai Fudhail,” kata Sultan, “Aku melihat dalam mimpiku, suatu suara menyeru kepadaku tentang keadaanmu. Aku diseru agar menyambutmu datang.”

Fudhail terkesima. Ia lantas menyeru ke arah langit, “Ya Rabb, Dengan kemurahan dan keagungan-Mu, Engkau telah mencintai seorang hamba yang berdosa, yang telah menjauh dari-Mu selama 40 tahun!”

Fudhail kemudian diterima Sultan Harun al-Rasyid dengan sambutan yang baik. Ia pun kini telah berubah total. Taubat nasuha yang dilakukannya telah membuatnya kembali ke jalan cahaya. Sejak saat itu, ia mencurahkan seluruh waktu hidupnya untuk belajar dan ibadah.

Sejak meninggalkan dunia kemaksiatan, Fudhail bin Iyadh menekuni berbagai ilmu agama, terutama hadis. Ia berguru dari banyak ulama pada masanya.

Di antaranya adalah Sufyan ats-Tsauri, al-A’masy, Manshur bin Mu’tamir, dan Hisyam bin Hassan. Selain itu, ada pula nama-nama lainnya, semisal Sulaiman at-Taimy, ‘Auf al-‘Araby, ‘Atha’ bin as-Saaib, serta Shafwan bin Salim.

Pada akhirnya, ia dikenal sebagai pakar ilmu hadis dan memiliki banyak sanad. Beberapa tokoh yang di kemudian hari menjadi ulama besar tercatat pernah berguru kepadanya.

Sebut saja, Imam Syafi’i, Ibnu al-Mubarok, al-Humaidy, dan Yahya bin al Qaththan. Kemudian, Abdrurrahman bin Mahdi, Qutaybah bin Sa’id, serta Bisyr al Hafy.

Sumber: islampos.com

(Visited 3 times, 1 visits today)